Obrolan tentang Tuhan, Cinta dan Dramaturgi Kehidupan (part 1)

dsc_0009

Selalu ada seseorang yang saling mencari satu sama lain, saling menunggu satu sama lain namun waktu tak jua memeluk mereka. Ada yang telah bertemu, namun waktu enggan memeluk mereka diruang yang sama. Mungkin itulah yang kurasakan. Aku tak dapat meluapkan rasa rinduku secara langsung. Sesekali kupejamkan mata mengingat pertemuan kita..

Disinilah aku sekarang, menikmati malam disudut kota. Remahan cahaya bulan terasa menyelimutiku. Kuseruput kopi sambil mengedarkan pandangan dijalan kota yang tak pernah sayup. Beberapa saat kudengar dentingan piano “Fly me to the moon”. Seorang pria tengah asyik memainkan piano dan bernyanyi. Akupun ikut bersenandung, ya.. Karena lagu ini favoritku. Mata hazel itu menatapku, pesan lagunya begitu sampai padaku. Ada hal yang tak bisa kudeskripsikan ketika tatapan mata itu mengunciku. Beberapa detik kemudian lagu usai. Mata itu tetap menatapku dan senyum hangat itu menyapa. Entah, untuk siapa sajian ekspresi itu. Satu yang pasti aku penasaran!

Satu jam berlalu aku tak mungkin berdiam diri dengan setumpuk “deadline” yang membelenggu. Belum satupun artikel yang kukerjakan. Aku rasa cafe ini tak cukup memberiku inspirasi. Aku bergegas menuju pintu keluar untuk meninggalkan cafe, namun aku tak menyadari jika diluar turun hujan. Berdirilah aku disamping beranda cafe, berharap hujan agak reda untuk kuterobos. Menelpon jasa transportasi harus kulakukan agar aku segera pergi dari cafe ini tanpa menunggu hujan reda. kucoba meraba tasku untuk mengambil  hp. Namun, sepertinya aku kehilangan beberapa barangku. Bukan hp, melainkan sebuah buku agenda dan bolpoin. Aku terus mencarinya didalam tas berharap menemukannya.

Tiba2 seorang pria berdiri disampingku, “Aila, kau pasti sedang mencari buku agenda dan bolpoin ini kan”. Akupun menoleh ke arahnya. Ya., dia pria bermata hazel itu. Sejenak pandanganku terhipnotis olehnya, namun aku segera sadar dan mengambil buku agendaku darinya. Sesaat dia tersenyum ramah. “terimakasih ya, oh.. Bagaimana kau tau..?”. “aku menemukan ID cardmu dimeja dan semuanya kumasukkan dalam buku agendamu”, jawabnya cepat.  Aku agak kikuk, “ooh.. Iya2, ehm.. Apa kau penyanyi disini?”,tanyaku penasaran. “bukan, aku hanya pengunjung yang hobi nyanyi hehe”, jawabnya seraya terseyum. Tak terasa hujanpun reda, aku bergegas menaiki taksi yang sebenarnya aku tak sempat menghubungi taksi tadi. beruntung dia mencarikan taksi untukku. Pertemuan yang singkat untuk awal perkenalan kita.

Hari ini media cetak dipenuhi dengan berita penistaan agama, kasus bom gereja, diskriminasi  kaum tertentu atas nama agama dan gejolak perang di timur tengah yg ditengarai ada propaganda asing didalamnya. Tentunya agama merupakan isu yg sensitif di negeri multikultural ini. Negeri yang katanya menjunjung tinggi semboyan “berbeda beda tapi tetap satu jua”. Aku tertarik membaca tulisan opini sebuah surat kabar. Tulisan yang begitu kritikal membedah kehidupan beragama dari sudut pandang yang berbeda, sepertinya si penulis menggunakan sudut pandang filsafat dan sosiologi. Agak tabu, namun masuk akal menurutku. Penasaran dengan si penulis, kucoba baca keterangan dibawah tulisan ini, Mahardika P. “Ooh.. Mahardika penulisnya”, gumamku. Jujur kuakui tulisannya menginspirasi. Aku benar benar tenggelam dalam pemikiran si penulis. Sampai sampai aku tak sadar jika bus yangg kutunggu telah berangkat.

Spontan aku berlari berusaha mengejar bus itu. “tunggu.. Pak.. Berhenti” teriakku seraya berlari mengejar bus dan berusaha memanggil kernetnya.

Sepertinya sia-sia, aku mulai kehabisan nafas dan berhenti berlari. “hhuuuhs, apa yg harus kulakukan? Sepertinya aku benar benar telat ke tempat wawancara itu”. Tiba-tiba ada sebuah sepeda motor berhenti tepat disampingku. Sebuah tangan menyodorkanku air mineral. “kau kehausan setelah maraton, minumlah”. Tampak seorang lelaki berkemeja biru kotak2 menyodorkanku air seraya tersenyum. Ku lihat wajahnya, sepersekian detik aku terkejut, ya.. Dia lelaki bermata hazel yang kutemui di cafe tempo hari.

“kau.. Kan.. “, ucapku terhenti ketika dia melemparkan air itu ke arahku. Reflek aku menangkapnya dan langsung minum. Maklum, sepertinya kerongkonganku tak mau berkompromi dengan rasa haus. Akupun mengucapkan terimakasih padanya. Tatapan matanya memberikan suatu hal yang berbeda ketika mataku menangkapnya. Aku terpaku sejenak sampai suara itu menginterupsiku.  “sampai kapan kau akan menatapku seperti itu? “. Sontak aku kaget, malu dan salah tingkah. Akupun mengambil langkah seribu untuk pergi dari tempat itu. “kalau begitu, terimakasih untuk airnya. “Sepertinya aku telat, Aku pergi dulu”, berusaha tersenyum dan menghindari tatapan matanya. Akupun berjalan meninggalkannya. Sesaat kemudia dia menyusulku mengendarai sepeda motornya. Diapun berkata, “akan kuantar kau, naiklah! daripada kau telat”. Aku agak ragu, namun kulirik jam dipergelangan tanganku. Ini bukan ide buruk mengingat aku hanya memiliki waktu 15-20 menit lagi untuk sampai di tempat yang telah kusepakati dengan seorang informan. “jangan kau pikir hanya karena naik motor akan membutuhkan waktu yang lama, aku ahli dalam jalan pintas. Sepeda motor anti macet, bisa nyelip kemanapun kita mau.. Haha”, candanya. Aku tak mungkin menyia nyiakan kesempatan yang diberikannya. Ini pilihan yang cukup rasional. “okelah.. ” seraya tersenyum, aku mulai bergegas menaiki motornya sambil memakai helm yang disodorkannya. Dia mulai memacu motornya membelah kemacetan kota. Tak banyak obrolan yang kita kicaukan selama perjalanan.

Akhirnya aku sampai ditempat tujuan. Karena takut telat aku langsung melangkahkan kakiku untuk masuk. Beberapa detik kemudian, aku ingat bahwa aku tak mengucapkan terimakasih padanya. Aku bergegas keluar dan mengejarnya “hey.. Tunggu, terimakasih ya.. Aku bahkan belum tau namamu”. Sesaat laju motornya lambat, dia menoleh dan berkata “kalau waktu memeluk kita diruang yang sama lagi, aku akan memberitahukan namaku”. Diapun bergegas mengendarai motornya tanpa menoleh lagi padaku.

Senja tampak enggan meninggalkan sore. Bersembunyi, sinar keemasannya meluber menghangatkan setiap sudut kota. keramaian mulai jenuh merongrong jalanan yang macet. Aku disini di sudut cafe favoritku. Selepas acara wawancara tadi aku kembali menuangkan hasilnya dalam sebuah artikel. Sesuatu yang kutulis kali ini berbeda dan bisa dibilang topiknya agak sesitif mengingat ini terjadi dalam masyarakat saat ini. Aku ikut larut dalam curahan hati beberapa informan yang merasa terdiskriminasi karena agama, etnis dan suku. Kejamnya stereotip masyarakat membuat langkah-gerak mereka terpasung. Beberapa peristiwa teror atas nama ajaran agama bertahun silam, tidak hanya menyisakan duka, pertentangan bahkan diskriminasi yang membelenggu bagi mereka yang berindentitas sama seperti pelaku. Harmoni mulai tergerus pasca peristiwa itu. Bukan tidak mungkin bibit konflik horizontal bagai sekam yang siap melalap habis keharmonisan kita sebagai masyarakat multikultural. aku mulai hanyut dengan semua pemikiranku dan semua curahan hati informan bagai rekaman kaset yang berulang berputar dikepalaku. ku terdiam sesaat, sampai seorang pelayan cafe menghampiriku dengan sepiring roti bakar dan secangkir cappuccino yang kupesan. Saatnya sejenak kuberistirahat dengan tugasku sambil menikmati hidangan itu.

Di panggung cafe masih tak nampak para penyanyi yang biasanya mengalunkan lagu. mungkin “live music” akan dimulai 2 jam lagi mengingat jadwal mereka tampil pada jam 20.00 malam. Inderaku tertuju pada tayangan berita di televisi. Terjadi bentrok antar warga bahkan berujung pada jatuhnya korban jiwa. Bentrok yang bermula disinyalir karena satu kelompok yang tengah melakukan kegiatan kerohanian merasa terganggu dengan suara speaker kelompok organisasi muslim yang juga tengah melakukan kegiatan. Ini sungguh miris, tak ada lagi potret bhinneka tunggal ika yang selama ini didengungkan. aku begitu fokus menonton berita itu hingga tanpa kusadari ada seseorang yang telah duduk disampingku.

Tiba tiba aku mendengarnya berkata, “itu murni bukan karena agama, pasti karena ada aktor-aktor yang memprovokasi demi kepentingan tertentu”. akupun menoleh, inderaku menangkap iris hazelnya. Tanpa mau terperangkap lagi dengan zona hazelnya, akupun menyuarakan tanggapanku atas pernyataannya. “itu adalah konflik horizontal yang mengerikan, karena dan atas nama agama yang mereka klaim paling benar”.

Dia tersenyum dan membalas perkataanku, “jadi kau mau mengatakan bahwa agama telah membuat sekat sekat antara manusia semakin jelas, bahkan manusia saling berkonflik karena agama. apakah seperti itu menurutmu?”

Pikiranku menerawang melampuai apa yang kupikir selama ini,”yaa..realitasnya seperti itu kan?! kadang aku berpikir, Apakah Tuhan bisa dikatakan kejam dalam hal ini? Menciptakan agama berbeda-beda tapi tujuannya satu, hanya untuk disembah?”.

Dia terus menatapku seolah menikmati setiap perkataanku. Kemudian dia berbicara tanpa melepaskan sorot hazelnya terhadapku.”Agama hanya sebagai candu, ada hanya jika manusia butuh itu. Tuhan telah tersubordinasi oleh keduniawian jika manusia dlm keadaan bahagia. Tuhan benar benar ada dipikiran manusia, hanya ketika manusia susah. Bukankah manusia lebih kejam dari Tuhan?”.

“Ini bukan masalah siapa yang lebih kejam. Semua konflik ini bermula dari adanya keberagaman yang harusnya sejajar posisinya. Tuhan harusnya ada dan berkuasa atas itu semua!”, perkataanku sungguh seperti nada sumbang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Sungguh aku tak bermaksud tidak mempercayai bahkan meremehkan keberadaan Tuhan, tapi aku nyaris kehilangan sebuah harapan. Harapan untuk melihat semua makhluk harmonis dengan keberadaan Tuhan yang diyakininya masing-masing.

“Tuhan selalu ada disetiap hati dan pikiran yang meyakininya”, sergah dia.

“Tapi banyak dari sebagian manusia tidak membawa Tuhan dalam hati dan pikiran mereka. Manusia dibutakan oleh untung-rugi, pahala-dosa, surga-neraka. Bukankah mereka membunuh ribuan orang atas nama agama dan ajarannya. Mereka juga berharap surga. ini sungguh gila!! lantas siapa yang salah dalam hal ini! ajaran agamakah atau manusianya?”, paparku panjang lebar.

“pemahaman manusialah yang salah.Rabiatul Adawiyah seorang Sufi wanita pernah mau mengguyur neraka dan membakar surga agar kedua tempat itu musnah. karena orientasi manusia akan ibadah, ajaran agama dan Tuhan mulai melenceng. banyak manusia beribadah karena takut masuk neraka, banyak pula yang beribadah karena ingin masuk surga. Beribadahlah karena kecintaanmu pada sang Pencipta, bukan semata-mata mengharap surga dan takut akan neraka. Saat ini banyak manusia yang mengaku menjalankan ajaran agama Islam, jihad namun hanya mengharap surga semata dan bukan karena kecintaannya pada Tuhan”, pandangannya menerawang seolah ingin menyelesaikan perkataan panjangnya.

Senyumnya mulai merekah pandangan indera hazelnya meneduhkanku yang kehilangan harapan. Dia kembali menlanjutkan perkataannya, “Ini bukan masalah keberagaman agama dan keberadaan Tuhan. Tapi ini masalah ketidaksempurnaan manusia. Setiap ajaran agama pastilah sempurna, namun manusia yg menjalankannya jauh dari kata sempurna. Karena ketidaksempurnaan itu, manusia berlagak angkuh dan berusaha menghancurkan sesama. Jadilah manusia selayaknya manusia, hidup merdeka namun tetap memelihara sisi humanis dalam dirinya”.

Otakku semakin mencerna setiap perkataannya tadi. Sedari awal aku mulai merasa kembali mengulas tulisan seseorang melalui obrolan kita tadi. semua obrolan kita tadi kembali mengingatkanku pada tulisan yang sangat menginspirasiku tadi pagi. tanpa sengaja akupun berucap, “kau Mahardika.?”. Aku terus menatapnya lekat. Dia tersenyum penuh arti dan berkata “heem..bukankah aku akan memberitahukan namaku ketika waktu memeluk kita di ruang yang sama?! sepertinya kau sudah tau duluan namaku. ini diluar dugaanku..haha”. Sesaat dia mengangkat tangannya seolah mengajakku berjabat tangan, “oke, kalau begitu perkenalkan..namaku Mahardika Priastama, dan kau..?. Akupun segera menyambut jabat tangannya dengan senyuman, “aku Aila Afsheen Hardiyani”.

Malam itu aku mengagumi sudut pandang pemikirannya. Dia berhasil memberi pemahaman baru bagiku, tentang Tuhan, Agama dan Kita sebagai manusia. Diskusi kita tak berlanjut. Kita tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya dentingan lagu “Imagine yang pernah dipopulerkan oleh John Lennon mengalun memenuhi sudut cafe. Lagu itu sukses menyadarkan lamunan kita. Seolah lagu itu mewakili hal hal yg telah kita diskusikan tadi. Kita saling menatap dan tersenyum dalam diam menikmati lagu itu.

there’s no countries

It isnt hard to do

Nothing to kill or die for

No religion too

Imagine all the people

Living life in peace…

Aku sangat menikmati setiap waktu, dimana aku memainkan skenarioNya. Ini bagai alur cerita baru untukku yang entah bagaimana akhirnya. Ku tak mau terlalu berekspektasi tentang hasil akhir. Hal yang sangat penting adalah menikmati waktu, merenda kebersamaan. Kumerangkai kata dan kau menjadikannya kalimat obrolan abai waktu. Obrolan tentang riuhnya hidup dan tentang Tuhan yang tak terdeskripsikan. Entah obrolan apa lagi yang akan kita diskusikan, mungkin tentang cinta. Yaa.,  Ku menunggu obrolan tentang cinta.

To be Continued..

(Gambar: http://google.com)

 

by: Dina Kholidah

Sekedar Fiksi

Semesta selalu mengispirasi,

Kenangan selalu mengimajinasi

Iklan

Refleksi Jodoh : Cerminan Diri

Sudah lama aku tidak mencorat-coret diblog ini. Sore ini aku berkesempatan untuk mencorat-coret lagi. Sebenarnya bahan tulisan ini sudah lama aku dapatkan, hanya saja rentetan kesibukan yang merantaiku, lhoo..kenapa jadi curhat? hehe.

Topik tulisan ini muncul begitu saja, setelah aku mengobrak-abrik percakapan jadulku dengan seseorang. Aku rasa percakapan hasil “sharing” kita, cukup menarik untuk dibahas sepanjang masa, yaitu tentang Jodoh. Silahkan nikmati tulisan hasil sharing kita yang telah kuramu dengan beragam bumbu, semoga rasanya pas dengan selera kalian sebagai pembaca hehe..

tumblr_nkyzlyOoCG1u5cr2do1_1280

Mari kita sejenak berbicara tentang jodoh. Apa yang kalian pikirkan tentang jodoh? Ada banyak persepsi yang muncul sebagai jawaban untuk kalimat tanya tersebut. Misalnya: “Jodoh itu takdir Tuhan” atau “Jodoh itu cerminan diri kita”.

Nah..untuk kalimat terakhir itu, sangatlah familiar didengar. “Jodoh adalah cerminan diri kita”, kalimat ajaib itu seperti candu untuk memupuk keyakinan para kaum single yang tengah menanti datangnya jodoh.

Perkara jodoh memang diatur oleh Allah. Jadi sebagai manusia, kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, melakukan apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi larangan- Nya. apabila kita senantiasa melakukan perintah-Nya (berbuat baik), maka kita akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Itulah yang dimaksud jodoh adalah cerminan diri kita.

Hal tersebut bahkan termaktub dalam Qs. An-Nur 26 “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga)”.

Tentunya kita harus yakin akan hal tersebut. Sebenarnya ayat tersebut memiliki beberapa makna. Jika melihat pada sejarah awalnya, ayat tersebut diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan bin al-Mu’attal r.a. dari segala tuduhan (fitnah) yang ditujukan kepada mereka. Dalam ayat tersebut ingin menunjukkan bahwasanya orang sebaik nabi Muhammad akan mendapatkan istri yang baik pula seperti Aisyah, sehingga apa yang dituduhkan pada Aisyah tidaklah benar. (Mudah-mudahan saya tidak salah karena saya juga mendapatkan dari beberapa refrensi..hehe..).

Awalnya, muncul beragam tanya karena saya bingung. Apakah ayat tersebut merupakan janji Allah pada ummatnya atau hanya sekedar pembuktian atas sebuah peristiwa dimasa itu? Bagaimana sebenarnya tafsir ayat tersebut?

Apabila ayat tersebut juga merupakan janji Allah pada ummat-Nya, namun terkadang kenyataannya tidak selalu demikian dalam pandangan kita. Misalnya ada orang yang baik mendapatkan jodoh yang tidak baik. Mereka terikat perkawinan kemudian mengalami perceraian karena sebelah pihak berselingkuh atau melakukan KDRT. Bukankah itu dapat dikatakan tidak berjodoh?  Lalu bagaimana cara kita mengetahui bahwasanya seseorang tersebut benar-benar jodoh yang telah Allah tentukan untuk kita? Karena pada hakikatnya Allah yang maha Mengetahui dan berkuasa atas segala hal.

Terkait ayat 26 Surat An-Nur tersebut memang ada beberapa makna, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya. Sebab turunnya ayat tersebut memang terkait dengan tuduhan terhadap Aisyah r.a. Sebagian menafsirkannya bukanlah janji Allah, namun perintah Allah, karena ada juga orang yang jodohnya tidak sebaik dia. Misalnya nabi Luth yang istrinya durhaka kepadanya bahkan kepada Allah. Ada Asiyah yang sangat salehah namun suaminya adalah Fir’aun. Hal tersebut pengecualian karena orang tersebut diberi ujian lewat jodohnya yang tidak baik itu.

Sebenarnya jika ada orang yang menikah lalu bercerai, mereka pun juga berjodoh namun hanya jodoh sementara. Nabi Luth dengan istrinya juga berjodoh di dunia, akan tetapi tidak di akhirat,  wallahu a’lam.

Kita tak pernah tahu apakah sebenarnya orang tersebut adalah jodoh kita atau bukan. Bisa jadi setelah menikah beberapa bulan kemudian bercerai. Berarti orang tersebut ditakdirkan menjadi jodoh hanya beberapa bulan saja. Atau ada juga yang malah menikah lagi. Sebenarnya konsep ini penjelasannya panjang kenapa hal tersebut bisa terjadi karena ini berkaitan tentang bab-bab lainnya.

Kita memang tidak tahu pasti apakah itu memang jodoh kita atau bukan karena itu bukan tugas kita sebagai manusia. Semua itu telah menjadi urusan Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Berkuasa atas segala hal. Jalan takdir itu adalah urusan-Nya dan pasti ada kebaikan dibaliknya. Urusan manusia adalah berdo’a agar dikaruniai jodoh yang membuat semakin dekat kepada-Nya, berikhtiar mencari calon yang paling ideal sebagai amal ibadah, dan sebagainya.

Hal yang paling bagus adalah hati sudah memasrahkan masalah jodoh kepada Allah. Untuk itu, terserah kepada Allah mau dijodohkan dengan siapa karena apabila sudah yakin, Allah pasti memilih yang terbaik untuk kita. Hendaklah kita senantiasa memperbaiki diri, fokus kepada Allah, mencari calon yang paling ideal (ini dilakukan sebagai amal ibadah bukanlah semata penentu jodoh karena jodohnya belum tentu orang itu). Akan Tetapi jarang orang yang melakukannya karena sedikit orang yang mencapai derajat ini. Jika ada orang yang melakukan hal tersebut, pada akhirnya justru mereka seringkali mendapatkan yang lebih dari sekedar ekspektasinya (dalam hal jodoh).

Jika kalian ada rasa khawatir takut mendapat jodoh yang tidak baik dan rumah tangganya tidak bahagia kelak, Coba lakukan ini: Cari jalan (amalan) yang paling mempercepat derajat jadi naik dan menghapuskan dosa-dosa kita. Kemudian berusahalah melakukannya dengan sungguh-sungguh dan istiqomah. Kenapa konsepnya seperti ini? Penjelasannya sebenarnya panjang, tapi intinya amal-amal tersebut adalah “uang” untuk “membeli” karunia agar cobaan yang pada saatnya kelak akan menimpa kita, akhirnya terhapus dan tergantikan dengan karunia yang lebih baik, termasuk kebahagiaan dalam masalah jodoh.

Thank’s to :

Someone who give me inspiration

Tulisan ini ada karenanya dan segala inspirasi yang ditorehkannya

Merdeka Berbagai Versi

semangat_kemerdekaan_by_lachi17

Hari ini negaraku berulang tahun yang ke 70. Usia yang sangat tua jika dibandingkan dengan manusia. Tapi itu belum seberapa bro.., jika dibandingkan dengan lamanya bangsa asing menjajah kita. Sekitar 350 tahun lamanya kita dijajah oleh bangsa asing. Usia ke 70 tahun bisa dikatakan masih kategori anak-anak jika kita melihat lamanya waktu penjajahan.

Seperti biasa seluruh masyarakat di pelosok negeri ini turut serta memeriahkan HUT Indonesia tercinta setiap tahunnya, khususnya hari ini. Beragam perlombaan pun dilaksanakan untuk memeriahkan HUT negeri ini. Kalian jangan membayangkan aku ikut lomba makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol dan segala jenis perlombaan lainnya. Aku saja malas membayangkannya. Bukannya aku takut kadar kegantengan atau peseona keceku akan berkurang setelah ikut perlombaan-perlombaan itu. Asal kalian tau saja, aku selalu rajin ikut perlombaan itu hingga usiaku remaja, namun tak pernah sekalipun aku menang. Jujur, itu membuatku malu. Tapi setidaknya aku turut berpartisipasi dalam memeriahkan HUT negeriku (Membela diri). Kuharap kalian tak menertawaiku! karena aku tau kalian menang karena curang kan? atau kalian bernasib sama sepertiku belum pernah menang hehehe..

Hari ini aku menghabiskan waktu di warung kopi langgananku. Letak warung cukup strategis dipinggir jalan dan dekat dengan tanah lapang. Siang menjelang sore kulihat keramaian di tanah lapang. Ternyata ada perlombaan 17 Agustusan yang diikuti oleh warga sekitar terutama anak-anak. Mereka sangat antusias mengikuti perlombaan itu. Menurut mereka, semangat para pejuang tempo dulu untuk meraih kemerdekaan haruslah senantiasa diteladani. Oleh karena itu, jasa para pejuang patut dikenang dan diapresiasi selamanya.

Perjuangan para pahlawan kita sangat luar biasa berat. Mereka rela mengorbankan apapun yang mereka miliki sekalipun bertaruh nyawa di medan perang demi merebut kemerdekaan bangsa kita. Bagi para pejuang merdeka itu terbebas dari belenggu penjajah asing yang telah sekian ratus tahun lamanya berkuasa atas bangsa dan tanah kita. Itulah merdeka versi pejuang atau pahlawan bangsa terdahulu.

Bagi bang Joni makna kemerdekaan berbeda. Dia bekerja sebagai buruh disalah satu pabrik tekstil. Bekerja melebihi batas waktu dengan jumlah upah termasuk kategori dibawah standart UMR. Waktu yang tercurah bagi keluarganya sangat sedikit, mungkin bisa dibilang dia bekerja pagi pulang pagi seperti lagunya Armada Band..hehe. Tentunya semua itu dia lakukan untuk keluarganya. Merdeka baginya adalah ketika dia bekerja dengan waktu normal dan upah sesuai standart UMR. Bang Joni sebenarnya ingin meneriakkan: “Bebaskan aku dari belenggu eksploitasi!”

Lain lagi ceritanya bagi mbok Asih, dia seorang janda dan bekerja sebagai pelayan di warung kopi langgananku. Sebagai seorang janda, dia menggantungkan hidupnya dari hasil jerih payahnya bekerja di warung. Seperti sang pejuang, dia tak gentar menghadapi tantangan perekonomian yang semakin pelik untuk menghidupi kedua anaknya pasca ditinggal suaminya setahun lalu. Dulu suaminya meninggal karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Saat itu, untuk makan saja sangat sulit apalagi untuk membawa suaminya berobat. Keadaan menjadi darurat ketika sakit suaminya semakin parah. Berbekal uang seadanya dia berangkat ke puskesmas. Menurut pihak puskesmas suaminya harus segera dirujuk ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan secara intensif. Merawatnya di RS adalah suatu keharusan meskipun biaya tak akan mampu mereka bayar. Atas saran dari sodaranya, dia mengurus surat keterangan tak mampu diwilayah tempat tinggalnya dan membawa kartu jamkesmas. Itu dilakukannya dengan harapan untuk meringankan biaya pembayaran. Namun, apa daya harapannya pupus setelah ditolak oleh beberapa rumah sakit dengan berbagai alasan, seperti: Rumah takit tidak melayani pasien jamkesmas atau kamar penuh dan segala macam alasan yang kejam menurutku. Akhirnya, suami mbok Asih diterima disalah satu rumah sakit. Namun naas kembali menimpanya, suaminya meninggal dan terlambat mendapat penanganan. Sungguh ironis bukan, RS yang pada hakikatnya untuk merawat dan menyembuhkan orang sakit, justru bersikap apatis hingga menghilangkan nyawa orang. Rasanya betul sekali kalimat ini “Orang miskin dilarang sakit“. Bagi mbak Asih merdeka itu, Jika orang miskin tak takut sakit karena mereka tak dilarang berobat. Pemerintah benar-benar menjamin akses pelayanan kesehatan bagi kaum marginal sepertinya.

Jika mbok Asih meneriakkan “orang miskin tak dilarang berobat!”, Gofur berkata dengan kalimat berbeda. Baginya “Orang Miskin Harusnya Tak Dilarang Sekolah!“.

Gofur adalah anak berusia 14 tahun. Dia sempat mengenyam pendidikan dibangku SMP, namun berhenti karena tak ada lagi biaya. Ibunya seorang buruh cuci dan ayahnya meninggal ketika dia masih kecil. Keinginannya untuk menuntut ilmu sangatlah besar, namun garis nasib tak mendukungnya. Bantuan dari sekolah hanya bertahan beberapa tahun saja dan selebihnya Gofur diminta untuk membayar. Melihat perekonomian keluarganya yang tak mampu, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Gofur memilih bekerja sebagai loper koran dan pedagang asongan untuk membantu ibunya menghidupi ketiga adik kecilnya. Dia selalu iri ketika melihat anak-anak mengenakan seragam sekolah. Impian terbesarnya adalah dapat menuntut ilmu di sekolah lagi bahkan hingga bangku perkuliahan nanti. Itulah makna kemerdekaan bagi Gofur.

Sebenarnya masih banyak lagi versi merdeka bagi sebagian orang yang ingin kuceritakan, namun sayangnya ini akan  memakan waktu dan halaman dicerita ini. Bisa-bisa aku nggak kebagian tempat untuk menceritakan merdeka versiku.

Merdeka bagiku adalah ketika aku bebas mengungkapkan perasaan cintaku pada seseorang. Sayangnya, hingga saat ini aku belum merdeka, sobat. Aku tak berhasil mengungkapkan perasaanku pada seorang gadis yang kucinta. Namanya Camelia, dia temanku sewaktu kuliah. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama sejak kita sama-sama duduk dibangku kuliah. 4 tahun berlalu hingga akhirnya kami lulus, dia bekerja dipulau seberang dan kami terpisah. Aku tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Sejak dulu hingga kini, aku tak pernah ada nyali sedikitpun untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Kisahku berakhir, perasaanku terkubur dan tak merdeka hingga kini. Ya.. bisa dibilang aku adalah “The man who can’t be moved” seperti lagunya The Script meskipun kubelum memulai kisah apapun bersamanya karena “Kasih Tak Sampai” (lagunya Padi) hehehe. Ironisnya, baru kusadari kalau aku bukan pejuang tangguh karena tak memperoleh kemerdekaan itu. Tapi aku berjanji akan mengungkapkan semua perasaan yang bersarang dalam hatiku jika ada kesempatan bertemu dengannya lagi. Namun entah kapan kubisa bertemu lagi dengannya. Mungkin lima, sepuluh, duapuluh tahun lagi kala Indonesia merayakan HUT diusia yang sangat renta. Bahkan kemungkinan buruknya, aku tak bisa menyampaikannya. Itu artinya aku masih dijajah oleh perasaanku dan tak pernah merdeka.

“Itu Merdeka versiku, bro., lantas apa merdeka versimu?”

Inspirasi Kemerdekaan

By Dina Kholidah

Beauty Is..

11084837_418831458278102_388915033_n

“Cantik” kata itu sudah sangat umum didengar jika berkaitan dengan yang namanya kaum hawa. Apa yang ada dipikiran kalian jika mendengar kata “cantik”? Mungkin akan banyak definisinya sesuai dengan interpretasi kalian masing-masing. ingatan saya melayang ketika duduk dibangku perkuliahan. Salah seorang dosen pernah bertanya tentang definisi cantik kepada tiap mahasiswanya yang tengah mengikuti kuliahnya. Jawaban yang dilontarkanpun sangat beragam mulai dari yang terdengar mainstream sampai pada yang imajinatif dan unik.

“cantik itu bersih, putih..

“cantik itu natural..

“cantik itu sederhana..

“cantik itu cerdas..

“cantik itu seksi..

“cantik itu ibu saya..hehe”

Semua jawaban itu tidaklah salah, tetapi benar menurut versi setiap individu. Tak ada hal yang melampaui kebenaran jika berkaitan dengan interpretasi, karena seyogyanya seluruh hal yang ada didunia bergantung pada interpretasi kita. Semua yang ada didunia ini adalah pemaknaan yang manusia buat sendiri. Begitu pula dengan kata cantik yang memiliki beragam definisi. Makna cantik terkadang dibentuk oleh sebagian orang yang benar-benar memiliki kuasa bahkan tak jarang juga melibatkan sebuah media di era modern ini.

Secara umum, kata cantik identik dengan dunia perempuan. Namun taukah engkau, jika kata cantik itu juga bisa membahayakan perempuan di era modern ini. “Cantik” di era modern ini memiliki keterlekatan dengan dunia eksploitasi kaum perempuan. Cantik merupakan sebuah bentuk pemankaan atas tubuh atau secara fisik perempuan.

Dalam dunia iklan, tubuh perempuan acapkali dieksploitasi untuk kepentingan komersil. tubuh perempuan dijadikan objek ekspolitasi untuk keuntungan komersil dan menarik minat para konsumen. Seperti halnya iklan sabun kecantikan, hand body, parfume dan lainnya. Hal tersebut tanpa disadari oleh para perempuan. Dalam iklan yang syarat ekspolitasi tubuh tersebut juga terselip eksploitasi ideologi yang tersaji manis dalam slogan serta pemaknaan iklan yang ditampilkan. misalnya saja” jika menggunakan sabun ini, kulit akan putih bersinar seperti mutiara”. Tidak hanya produk kecantikan yang katanya membantu seorang wanita buruk rupa bertransformasi menjadi cantik bak puteri negeri dongeng, saat inipun muncul berbagai macam teknologi kecantikan. Beragam teknologi kecantikan, seperti alat pelangsing dan pembentuk tubuh menjadi ideal, alat pengencang wajah dan beragam lainnya yang katanya dapat mempermak tubuh peremuan menjadi lebih menarik.Tak jarang perempuan terhegemoni, seolah percaya dengan apa yang ada di iklan tersebut. sungguh dunia iklan begitu rapi mengemas pengaruh tersebut hingga diterima oleh masyarakat khususnya perempuan.

Lalu bagaimana dengan era tradisional ratusan tahun yang lalu. Cantik itu seperti apa?

Saya akan mengambil contoh konstruksi “cantik” ala orang Madura. Dalam sebuah tembang yang sering didendangkan, definisi cantik ala orang Madura itu adalah perempuan dengan kulit kuning langsat dan tubuhnya anggun ketika berbusana apa saja. Jika berbicara tentang tubuh yang anggun maka akan mengarah pada perpaduan tubuh yang langsing (ideal) dan bahasa tubuh anggun yang dapat kita lihat melalui cara berjalan. Perempuan bangsawan di Madura khususnya area Keraton akan senantiasa menjaga bentuk tubuhnya agar tetap langsing (ideal). Hal tersebut dibuktikan dengan temuan benda peninggalan sejarah yang ada di Museum Keraton Sumenep.

Saya sangat tertarik jika mengamati barang peninggalan sejarah di Museum Keraton Sumenep. Perhatian saya tertuju pada beberapa perangkat perhiasan yang digunakan oleh puteri keraton Sumenep jaman dahulu. Ada beberapa tusuk konde, kalung dan gelang kaki. Disetiap perhiasan tersebut tertera keterangan, ciri barang dan fungsinya. Saya membaca fungsi dari gelang kaki puteri keraton tersebut. Disana tertera “fungsi: untuk menguatkan otot kaki, melangsingkan dan kaki akan tampak indah ketika berjalan”. Itu menarik, karena menurut saya, gelang tersebut termasuk teknologi kecantikan dimasanya. Gelang yang berfungsi untuk menjaga tubuh khususnya kaki sang puteri agar senantiasa menarik. Namun jika melihat bahan dan ukuran gelang kaki tersebut, rasanya sangat berat ketika dipakai. Bukankah itu sangat menyulitkan gerak langkah sang puteri ketika berjalan, terlepas dari perbedaan fisik orang zaman dahulu dan sekarang. Imajinasi saya terus bergerilya membayangkan betapa menyiksanya ketika gelang kaki tersebut menempel dikaki sang puteri. Bahkan ketika ada marabahaya yang mengharuskannya berlari tanpa pertolongan siapapun, sang putri bisa saja terjatuh karena benda tersebut. Namun bagi mereka benda tersebut memiliki makna yang berbeda yakni sebagai penunjang kecantikan. mungkin pepatah “Beauty is pain” benar adanya jika membayangkan kisah puteri Keraton diatas.

Tak hanya zaman dulu, namun pepatah tersebut juga berlaku hingga saat ini. Fenomena operasi plastik untuk mendapatkan wajah yang menawan sudah tak asing lagi dikalangan perempuan saat ini. Sakit? tentu saja, namun mereka bertahan untuk mendapatkan wajah menawan sekaliber artis papan atas. sepertinya “Beauty is pain” telah menjad kalimat ajaib bak obat bius penghilang rasa sakit untuk mempercantik diri. Namun sayang cantik yang mereka dapatkan kesemuan belaka bukan karya anggun sang ilahi.

Bukankah cantik itu terpancar dari dalam diri tanpa rasa sakit dan belenggu.

Cantik itu keseimbangan antara jiwa, pikiran dan ragawi.

Cantik itu adalah kita yang dapat menikmati hidup dan selalu bersyukur atas setiap anugerahNya.

Cantik itu adalah kita yang mencintai diri kita dan selalu peduli sesama.

Karena Cantik itu bukan hanya apa yang bisa dilihat, namun apa yang bisa dirasakan dan meninggalkan kesan

Cantik itu adalah kita semua, perempuan.!

Beauty is not pain, Ladies!

by: Dina Kholidah

only for U, Ladies

Cerita Perempuan Halte Bus

page

Aroma basah menyeruak diindera penciuman. Air menjelma menjadi jarum kecil yang jatuh dari langit. Ribuan jarum kecil itu menghujam bumi, menusuk dedaunan dan membelai angin. Kota metropolitan mendadak basah seketika ditengah kepadatan aktifitas manusia. Seorang perempuan termenung disudut halte. Perempuan yang tergolong masih muda, namun kesulitan dalam hidup mengguratkan kelelahan dan beban diwajahnya. Wajahnya murung, namun sorot matanya penuh pengharapan menunggu pembeli menjamah kue yang dijualnya. Sudah beberapa hari ini pendapatannya menurun, kuenya tak laku. Penumpang bus sepi tak seramai biasanya. Bus mogok massal akibat BBM yang selalu labil. Begitulah penguasa selalu punya andil mempermainkan nasib rakyat kecil, nasib perempuan penjual kue ini.

Gerimis tetap asyik menari diiringi suara halilintar yang menggema. Tak ada rasa khawatir diwajah seorang perempuan yang tengah duduk menyilangkan kaki di halte bus. Sesekali dia mengambil kaca dari dalam tasnya untuk menilik polesan make up wajahnya. Terasa ada yang kurang, diapun asyik memoleskan lipstick warna merah senada dengan pakaian seksinya. Merah warna yang begitu menggoda dan sensual. Setelah merasa puas dan percaya diri, dia melirik jam bermerk yang melingkari tangannya. Wajahnya tampak cemas sesaat, sebelum akhirnya mobil audy hitam berhenti didepannya. Lelaki setengah baya keluar dari mobil. Perempuan itu bergelayut manja dengan suara serak merajuk memanggilnya om. Sang “om-om” itu merangkul posesif pinggang si perempuan seksi hingga memasuki mobil. Sesaat kemudian mobil berpacu menjauhi halte bus.

Bus berhenti di halte membelah tarian gerimis untuk sesaat. Beberapa penumpang turun dari bus. Tampak seorang perempuan berlari-lari kecil menuju halte. Diusapnya rambut dan blazer kerjanya yang basah. Tampilannya menunjukkan jika dia seorang perempuan yang bekerja di ranah publik, mandiri, sukses bahkan berkelas. Itu tampak dari aksesoris merk terkenal melekat pada tubuhnya. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan Smartphone dari dalam tas Luis Vuitton miliknya. Sayup-sayup kudengar dia sibuk menelpon membicarakan bisnisnya dan memberikan sederet instruksi kepada orang yang ditelpon. Sesaat setelah menelpon kulihat dia termenung memandangi gerimis.

Matanya sayu dan butiran kristal bening sukses membasahi pipi mulusnya. Seorang lelaki tiba-tiba datang menghampiri dan memeluknya, begitu lekat dan larut akan suasana. Bahu si perempuan semakin terguncang dan ledak isakan tangis semakin terdengar. Sepuluh menit berlalu dan pelukan itu berakhir dengan tragis. Tiba-tiba lelaki yang sedari tadi memeluknya jatuh tersungkur karena bogem mentah sukses mendarat diwajahnya. Seorang lelaki parlente mengibas-ngibaskan jas yang tak rapi karena aksi pemberian bogem mentah itu. Sepasang suami-istri tampak menarik paksa si perempuan untuk menjauh dari kedua lelaki itu. Isak tangisnya semakin menjadi kala sang lelaki perlente memukuli dengan brutal pujaan hatinya. Dia dipaksa masuk kedalam mobil BMW oleh kedua orang tuanya. Peristiwa itu ditutup dengan kecaman dari pihak si perempuan terhadap lelaki pujaan hatinya.

“Jangan pernah kau dekati anakku lagi., sadar diri dong..kau anak miskin. Anakku lebih pantas dengan orang yang sederajat. Dia sudah saya jodohkan dan minggu depan dia akan menikah dengan nak Rendra”, kata lelaki setengah abad sambil menepuk pundak si parlente yang kuketahui namanya Rendra itu.

Ku menyimpulkan, Cinta beda kelas sosial rupanya..tidak bukan hanya sekedar cinta beda kelas., sedikit budaya patriarki juga membumbui kisah perempuan yang sukses dalam karirnya tadi. Sukses dunia karir, namun sayang hidupnya tak merdeka sepenuhnya.

Masih di tempat yang sama. Perempuan penjual kue menatap penuh harap pada langit. Langit menghentikan tangisnya, gerimis tak lagi menari lincah. Namun, sesekali gerimis masih bergelayut manja didahan pohon. Beberapa saat kemudian muncul seorang bocah laki-laki berlarian ke arah perempuan penjual kue itu. “ibu..ibu.. adik menangis terus. Dia berteriak meminta susu..susunya habis. Aku juga lapar bu..”, rengek si bocah laki-laki itu.

Ada guratan bingung diwajahnya. Dia mencoba menenangkan si bocah hingga akhirnya si bocah pergi berlalu dari halte. Perempuan penjual kue itu bergegas untuk kembali mejajakan kuenya. Seolah mendapat suntikan semangat dari buah hatinya. Dia tak lagi mempedulikan dinginnya aroma yang ditinggalkan gerimis. Perempuan itu bergerak lincah kesana-kemari menuju kemacetan jalanan yang semakin tak ramah. Dia jajakan kue yang menjadi pengharapan terakhirnya membelikan sang anak makanan. Langkahnya terhenti, lengannya ditarik paksa oleh seorang lelaki bertubuh tinggi tegap ke tepian jalan.  Dia sekuat tenaga berusaha menepis dan menghalaunya, namun terlambat, lelaki itu mengeratkan genggamannya. Diapun meronta berusaha memohon agar si lelaki melepaskan cengkraman itu.

“Lepaskan..!!”, pekiknya.

“Kapan kau bisa membayar semua hutang suamimu itu..!! mati ninggalin hutang bukannya warisan. Kalau tak sanggup bayar bilang dong.., kamu nggak usah usaha keras buat cari uang. cukup jadi wanita simpananku saja”, kata lelaki itu dengan nada yang mulai meninggi dan sarkastis.

Dia menatap tajam dan nanar ke arah pria itu sambil berujar., “lebih baik aku mati dalam keadaan miskin daripada harus jadi budak bagi lelaki bejat sepertimu..” dengan sekali sentakan dia berhasil melepaskan cengkraman sang lelaki. Tak hanya itu dengan spontan dia menendang kelemahan lelaki itu hingga jatuh tersungkur. Untuk ukuran seorang perempuan, dia sepertinya lihai dan cekatan menghadapi situasi yang seperti ini. Mungkin balutan kejamnya kehidupan jalanan menjadikannya tangguh. Diapun berlari membawa sisa kue yang tadi sempat terjatuh di aspal jalanan. Kuharap dia bisa benar-benar melarikan diri dari lelaki bejat tadi.

Rasa sayang menempanya menjadi perempuan tangguh. Harga dirinya masih dijunjung tinggi tak mudah lapuk karena materi. Dia tak kalah oleh intimidasi kaum adam. Mungkin faktor cinta juga berpengaruh disini? Cinta dan sayangnya pada almarhum suami dan buah hatinya, harta terakhirnya di dunia yang keras dan tak ramah ini.

Siang berganti sore membawa senja datang dan kembali keperaduannya. Bintang tampak malu-malu menampakkan sinarnya kala malam datang. Bulan datang membawa sejuta sinarnya tuk temani sang bintang. Lalu lalang kendaraan menambah dramatis suasana malam ini. Cahaya lampu temaram menerpa halte bus yang cukup lengang. Ada beberapa kumpulan anak jalanan tengah mendendangkan lagu menambah syahdunya malam ini. Wajah polosnya berharap ada sebagian orang berkendara yang lalu lalang mau membayar ketika menikmati sajian musik mereka. Dengan riang mereka memecah jalanan pelataran zebra cross tepat dirambu lampu merah. Mereka mendendangkan lagu-lagu syahdu menghibur pengguna jalan.

Tepat disudut halte bus, tampak dua perempuan terlibat pertengkaran hebat dan seorang lelaki mencoba melerai mereka. Ooh..ternyata dia, perempuan seksi berlipstick merah yang tadi siang bergelayut manja pada seorang om-om. Ya..om-om itu sekarang tengah kewalahan melerai pertengkaran hebat ini. Pertengkaran yang menurutku terjadi karena cinta terlarang, cinta rahasia, perselingkuhan bahkan karena perempuan penggoda berlisptick merah sukses menjerat om-om tajir hidung belang yang statusnya tak lajang lagi. Pertengkaran yang melibatkan adu fisik itu berakhir dengan kepergian rival sang perempuan penggoda. Si om-om tajir hendak meninggalkan gelanggang pertengkaran itu, namun ditahan oleh perempuan lipstick merah.

“Kau tak bisa pergi begitu saja. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Berikan cek kosong yang kau janjikan., atau aku akan memberitahukan kepada istri simpananmu yang lain kalau kau ini pria kolektor wanita?”, sergah perempuan penggoda dengan senyum sinisnya.

Lelaki itu segera mengeluarkan selembar cek kosong dan beberapa lembar uang dengan nominal besar. Perempuan penggoda itu cukup cekatan dan segera merebut semua yang ada ditangan si lelaki hidung belang. Lelaki itu menatap tajam seolah melecehkan dan berkata, “dasar wanita pelacur rendahan..!”.

“Aku memang pelacur., tujuanku jelas kerja untuk dapat uang. Lalu istri simpananmu apa? Wanita bodoh yang mengharap cintamu dan rela menjadi penghiburmu.!,” balasnya itu dengan nada dan senyum meremehkan. Tak ada perdebatan panjang setelah itu, hingga lelaki hidung belang memacu audy hitamnya meninggalkan si lipstick merah.

Dibawah temaram cahaya bulan perempuan berlipstick merah itu duduk merenung di halte bus. Pandangannya kosong. Sesekali ia mengerjapkan matanya. Tanpa sadar air mata membasahi pipi mulusnya. Entah apa yang berkecamuk dalam dirinya. Menyesalkah ia telah melakukan pekerjaan yang dianggap nista dalam norma kehidupan masyarakat? Bukankah ia melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Namun aku rasa tak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang bermimpi bahkan bercita-cita sebagai pelacur. Situasi kondisi dan lingkunganlah yang menjerumuskan mereka ke dunia hitam itu bahkan sulit untuk keluar.

Masih hanyut dengan lamunan bahkan ratapannya, perempuan berlipstick merah itu termangu menatap jalanan ramai, namun tampak kosong dimatanya. Beberapa saat kemudian sekumpulan bocah dan anak remaja menghampirinya. Mereka mendendangkan sebuah lagu. Tampaknya perempuan itu mulai terhibur. Senyum menawan merekah diwajahnya mengganti gelayut dukanya. Hingga lagu itu selesai dinyanyikan dan ungkapan terimakasih meluncur dari bibir para bocah itu. “kakak..terimakasih ya.. karena bantuan kakak kami bisa sekolah bahkan panti tidak jadi digusur”, kata seorang bocah lelaki yang tengah duduk bersimpuh didepannya.

Senyum tulus mengembang dari bibir berlipstick merah itu. Dengan pandangan menerawang jauh diapun berkata, “Kakak akan lakukan apa saja agar kalian tetap sekolah. Kakak juga tidak akan tinggal diam jika ada orang yang seenaknya mau menggusur panti tempat tinggal kita selama ini”, suaranya bergetar dipenghujung kalimat. Mereka kembali berpelukan sebelum akhirnya beranjak meninggalkan halte bus itu.

Perempuan itu rela melakukan apa saja demi kebahagiaan orang lain. Dia rela menanggalkan kemerdekaan diri yang berhak dia rengkuh sebagai manusia. Bahkan dia juga berani melawan norma kehidupan serta ganasnya cacian masyarakat terhadapnya dengan kekuatan hati. Dia bertahan dengan keterpaksaan ini dan mencoba melawan waktu. Mungkin kelak akan ada penyesalan atas apa yang dilakukannya ini, membahagiakan orang lain dengan cara yang tak membahagiakan dirinya.

Sulit mengerti dan memahami perempuan, karena perempuan tak bisa dipandang dalam satu sudut pandang saja. Bisa dikatakan perempuan itu multidimensi. Tampak lemah namun punya sejuta kekuatan terpendam. Terkadang terlihat tegar, namun rapuh. Jutaan pesonanya mampu menjadikannya sebagai makhluk luar biasa menakjubkan dan didamba. Akan tetapi sayangnya, pesona itu jualah yang mampu merenggut kemerdekaannya sebagai manusia.

Lantas siapa aku?

Bukan Srikandi, perempuan tangguh yang rela menukar kewanitaannya demi masuk ke medan perang.

Bukan Cleopatra, ratu dunia mempesona yang mendayagunakan cinta untuk segala ambisinya.

Bukan pula Helena, perempuan dalam legenda Troy yang menyebabkan pertumpahan darah karena kisah cintanya.

Aku perempuan pengembara, bebas terbang dan merdeka.

Aku bangga terlahir sebagai perempuan dengan jutaan sisi mengagumkan.

berusaha menghargai dan mencintai diri sendiri namun tak mau melukai orang lain.

Malam semakin larut saja. Bulan dan bintang terlihat saling mesra menyinari satu sama lain. Ku teguk habis sisa kopi dicangkir dengan corak bunga yang menawan. Entah sudah berapa cangkir yang kuhabiskan sembari menyaksikan balada perempuan-perempuan halte bus ini.

By: DinDyna

Hujan selalu menginspirasi

 

Parodi Kehidupan di Warung Kopi

Warung Kopi Nenek Tua Pasar Sayur Magetan

Sinar mentari begitu berkilau bahkan tak sanggup dipandang dengan mata telanjang. Panasnya begitu menyengat kulit manusia yang diterpanya. Tampak seorang pria mulai muak dengan kondisi jalanan yang macet. motornya berhenti disebuah warung kopi. Sepertinya dia ingin sekedar berisitirahat melepas lelah. Sesaat dia telah mendaratkan badannya di kursi kayu dalam warung sambil memesan segelas kopi. wajahnya tampak kusut nyaris saja sama seperti kemeja yang tengah dia gunakan saat ini. Dia memijat pelipisnya sambil memandangi amplop coklat besar ditangannya. Perlahan dia meremas dan membuang amplop itu ke keranjang sampah. mungkinkah dia telah putus asa mencari lapangan pekerjaan di negeri ini? Ribuan mahasiswa dikukuhkan (diwisuda) setiap tahunnya, namun pada realitasnya urusan mendapat pekerjaan bagai mencari jarum ditumpukan jerami.

Dia meneguk kopinya dengan khidmat sebelum pandangannya terusik karena kedatangan seorang  pria paruh baya. Tampilan pria paruh baya itu tampak lusuh dengan wajah kuyu. Suaranya yang parau berkata pada penjaga warung, “saya minta kopinya segelas“. Penjaga warung seolah acuh memandangnya dan sesaat kemudian menanggapi permintaannya, “hutang yang kemaren saja belum bayar, sekarang masih minta kopi gratisan. enak aja..saya juga butuh duit. Semuanya serba mahal sekarang“. Pria paruh baya itupun berlalu dari warung. Kerongkongannya tetap kering diterik siang ini. Langkahnya membelah keramaian jalanan yang tak ramah.

Sirine polisi memekik di jalanan diikuti segerombolan motor dan mobil yang meneriakkan nama seorang calon legislatif. Stiker, pamflet, poster dan spanduk berisi nama calon legislatif itu bertebaran di jalanan. Semua terlibat euforia kampanye pileg. Para simpatisan berteriak dan berseru agar semua masyarakat memilih caleg yang mereka kampanyekan. Bak SPG handal yang menawarkan barang dagangannya agar menarik pembeli. Bedanya, dalam konteks ini mereka menawarkan caleg atas nama perubahan dan kesejahteraan rakyat. Mereka seolah ingin menghegemoni masyarakat agar caleg itu bisa melenggang ke senayan. Para simpatisan itu juga tak sadar jika mereka terlibat dalam dunia politik yang kejam, penuh intrik dan bias warna. Mereka dinina bobokan dengan janji kesejahteraan, keterbebasan dari lingkar kemiskinan yang sifatnya utopis pada akhirnya.

Seorang simpatisan caleg menyodorkan stiker pada pengguna jalan, pedagang asongan, penjaga toko dan semua yang tengah asyik bercengkrama dengan jalanan siang. Ahh..sebuah stiker tak sanggup menghidupkan kembali kepercayaan mereka yang terlanjur terkikis itu. Kesejahteraan yang didengungkan pemerintah tak ubahnya seperti kaset rusak, terus berulang memekakkan telinga pendengarnya, namun tak berkesan apapun. Pemandangan begitu menjemukan terus tersaji di jalanan hingga rombongan kampanye itu berlalu.

Aroma antusiasme kampanye para simpatisan tadi masih membekas di jalanan. Stiker dan pamflet masih bertebaran. wajah caleg di stiker tampak tersenyum dengan sejuta pancaran keyakinan akan membela kepentingan rakyat dan mensejahterahkannya. Entahlah apa keyakinan itu akan tetap tumbuh subur dan tak terciderai oleh kepentingan pribadi bahkan golongan? Siapa yang tau beberapa tahun kedepan wajah caleg itu menjadi konsumsi publik karena aksi korupsinya yang mulai terkuak. Seperti yang saat ini terlihat di layar televisi warkop tadi.

Diberita tersiar kabar jika seorang pejabat legislatif menjadi tersangka kasus korupsi yang merugikan negara hingga milyaran rupiah. Itu bukan hal yang mengejutkan lagi. panggung politik kini ramai oleh aktor berbakat yang berhasil meraih suara simpati rakyat namun sekaligus merangkap sebagai koruptor ulung. Koruptor juga dihukum? jelas saja dihukum, namun proses hukumnya berbelit terkesan tak tegas bahkan vonis hukuman yang diberikan dirasa tak memberi efek jera. Itu semua tak lepas dari usaha sang koruptor menyewa jasa pengacara handal yang bisa memperingan vonis hukumannya. Tak jarang juga pada masa tahanan mereka (koruptor) masih memperoleh fasilitas yang dikatakan mewah. uang hasil korupsi mereka sanggup menyulap tempat tahanan menjadi hunian senyaman mungkin bagi mereka. Itu menandakan proses hukuman yang mereka jalankan secara tak kasat mata berbeda dengan rakyat jelata. Namun satu hal yang sama, mereka (koruptor) juga berhak mendapat remisi sama seperti tahanan lain dengan kasus ringan.

Berita ditelevisi tadi tak mampu membuat penonton di warung kopi fokus menyaksikannya. Perhatian para pengunjung warung teralihkan kepada peristiwa penangkapan dan pengeroyokan seorang maling dijalanan. seorang pria paruh baya digiring massa setelah mendapat pukulan sebelumnya karena ulahnya mencuri dompet. Ya.. pencuri itu adalah bapak yang tadi ingin meminta kopi di warung. Untuk membasahi kerongkongan dan mengisi perutnya yang kelaparan dia terpaksa mencuri dompet. Dapat dikatakan perbuatan kriminal yang dilakukannya akibat kehidupannya yang tak sejahtera. Parahnya lagi dia dihakimi massa bahkan bukan tidak mungkin dia digiring ke kantor polisi untuk bertanggung jawab atas kelakuannya. Sudah barang tentu dia tidak akan dibela oleh seorang pengacara handal untuk memperingan vonis hukumannya. Bayangan tubuh ringkihnya akan menghuni dinginnya hotel prodeo pun menunggu di depan mata. Hukum yang katanya pisau keadilan, kini mulai tumpul bahkan berkarat karena diskriminasi antar kelas. Bagi orang berduit, hukum selalu menawarkan penyelesaian terbaik. Berbanding terbalik dengan orang miskin yang pasrah dan benar-benar merasakan efek dari hukum bahkan ketidakadilannya. Serangkaian sebab-akibat sebuah fenomena saling terkait bak lingkaran yang tak putus-putusnya meninggalkan jejak bias. Tak ada lagi hitam-putih, benar-salah, wajah keadilan tak lagi terlukis jelas dimata hukum.

Lantas bagaimana kabar pemerintah?

Pemerintah sibuk mendengungkan program kesejahteraan masyarakat. Pemerintah sibuk mengurus dolar yang merosot. Pemerintah asyik mengoreksi harga bbm yang katanya menuai kerugian negara jika harganya tak dinaikkan. Pemerintah sibuk mempersiapkan diri menyambut datangnya Masyarakat Ekonomi Asean (pasar bebas) agar dapat bersaing dengan negara lain. Syukur-syukur jika bisa bersaing, akan lebih parah jika kedatangan MEA menggrogoti jati diri bangsa secara perlahan dan semakin menindas rakyat proletar. Pemerintah juga sibuk menjaga eksistensi diri ditiap lembaganya bahkan beradu kekuatan untuk menunjukkan legitimasinya dimata rakyat, hukum dan negara. Sungguh pemerintah sibuk sekali.

Semoga mereka benar-benar sibuk dan tenggelam karena memperjuangkan kepentingan rakyat bukan karena golongan ataupun pribadi. Jika pemerintah sudah sibuk dan giat bekerja, diharapkan ada progress dalam kesejahteraan rakyat. Lantas apa kabar dengan kesejahteraan rakyat? atau bagaimana kabar para koruptor yang turunannya masih hidup makmur berbanding terbalik dengan rakyat diluar sana yang masih saja meronta dan berpikir esok makan apa…

By: DinDyNa

Mencoba mendengar, merasakan dan berimajinasi

Perawan Metropolitan dan Roman Klasik

Roman pict

Ini salah satu tulisanku yang awalnya terinspirasi oleh lirik lagu “Anak Jalanan” – Sandy Sandoro. Ini tentang kisah cinta anak perawan metropolitan yang tak mendapat restu orang tuanya. Namun tulisan ajaib ini terlahir karena imajiku terhadap beberapa karya sastra roman klasik yang termahsyur.

Berikut penggalan lirik lagu dari Sandy Sandoro yang menajdi awal inspirasiku:

Anak perawan kembang metropolitan
selalu resah dalam penantian
anak perawan korban keadaan
selalu menanti dalam keresahan

Tiada restu untuk bertemu
restu menjalin hidup bersatu
kasih sayang dari ayah dan bunda
hanyalah adat semata

Lirik lagu tersebut bercerita tentang kisah cinta perawan metropolitan yang tak mendapat restu kedua orang tua. Perjalanan kisah cinta terimaji sangat indah dalam hidup, namun tidak untuk perawan metropolitan. Bagi mereka cinta tak ubahnya sebuah permainan bola yang penuh strategi. Mereka harus bisa bermain cantik agar kedua orang tuanya tak murka. Bagaimana tidak? dalam perjalanan kisah cintanya, orang tua menjadi salah satu tembok penghalang dengan dalih kasih sayang atas mereka. Kasih sayang orang tua sangatlah tulus, namun semua itu bias ketika menjadi tameng penghalang kisah cinta sang perawan metropolitan. Bagi perawan metropolitan kasih sayang orang tuanya bertransformasi sebagai adat semata yang membatasi kebebasan rasa cintanya.

Perjalanan kisah cinta sang perawan metropolitan kering kerontang tanpa restu kedua orang tuanya. Alhasil jalinan kisahnya sangat dirahasiakan bahkan diliputi rasa takut untuk sekedar bertemu melepas rindu. Bahkan kisah cintanya yang manis tak kan berakhir dalam sebuah mahligai pernikahan. Itu menjadi akhir yang pahit. Bukankah pernikahan adalah salah satu impian dari para pejuang cinta pada akhirnya? Bagi sang perawan metropolitan yang tengah dilanda cinta tak berkesudahan, hanya bisa tergugu pasrah menanti dalam keresahan. Mereka begitu menikmati rasanya cinta yang tak selalu manis, namun pahit dan getir sekaligus. Beribu tembok penghalang membuat mereka kesulitan untuk melangkah dalam perjalanan cintanya.

Namun satu hal yang pasti, bukankah cinta harus diperjuangkan, ditengah tebalnya tembok penghalang itu?

Begitu banyak tembok penghalang dalam kisah cinta yang harus ia tembus. Salah satunya adalah sekian banyak perbedaan antara dia dan sang kekasih yang pada akhirnya menjadi pemicu adanya tembok penghalang itu. Perbedaan tersebut mencakup latar belakang keluarga, suku bangsa, kelas sosial bahkan kehidupan ekonomi. Semuanya termanifestasikan bahkan mengakar dalam kehidupan dan pada akhirnya diklaim sebagai adat yang berlaku dalam keluarga ataupun masyarakat.

Perjuangan cinta bagi sang perawan bukanlah hal yang amat sangat mudah untuk dilakukan. Perawan metropolitan yang hidup di dunia modern-pun belum tentu mampu memperjuangkan kisah cinta mereka yang kering kerontang tanpa restu. Mereka bahkan tidak sangggup untuk melawan kuasa kedua orang tua mereka. Meskipun mereka berusaha memberontak, pada akhirnya suara mereka terbungkam oleh kuasa kedua orang tuanya. Mereka tak ubahnya sebagai objek yang kepemilikannya diatur oleh kedua orang tuanya. “Kepemilikan” tersebut tentunya ada standart yang diberlakukan, misalnya tingkat kemapanan hidup (berkaitan dengan materi/kekayaan) calon pendamping si perawan metropolitan. Bagi orang tua sang perawan metropolitan ini bukan saja soal cinta yang hakiki itu, bukan itu kawan. Ini tentang prestise kelas sosial yang harus mereka sandang bahkan pertahankan dalam tatanan hidup masyarakat. Namun mereka berdalih jika hidup ini butuh materi dan tak mungkin anaknya diberi makan cinta. Itu tak akan mengenyangkan putri perawan kesayangan mereka. Bukankah itu menciderai makna suci cinta?

Memang benar, cinta tak bisa mengeyangkan karena tak bisa dimakan. Namun cinta bisa memberi rasa tentram dalam hidup bahkan sebagai pelecut semangat untuk merengkuh materi kehidupan. Bersyukurlah jika kita masih memiliki cinta dihati kita, karena itu menandakan kita masih memiliki hati nurani yang tak dikuasai nafsu semata. Cinta itu membebaskan kita dari belenggu apapun, karena cinta yang tulus tanpa syarat apapun yang mengikatnya. Cinta itu indah, mampu memberikan kehangatan dan keceriaan bagi setiap insan yang pernah jatuh pada kata itu.

Cinta tak seharusnya terbelenggu oleh adat istiadat, berbagai macam perbedaan yang menjurus pada perbedaan kelas dan segala tetek bengek hierarkis dalam masyarakat. Cinta adalah kisah klasik yang tak lekang oleh zaman dan terukir menjadi sejarah bagi setiap insan. Beribu kisah cinta dua sejoli yang terpatri dan melegenda dalam imaji sebelum tidur kita. Kisah cinta luar negeri yang termashyur Romeo-Juliet suatu cerita yang ditulis ulang oleh William Shakespeare, lalu ada pula kisah cinta di negeri 1001 malam, Laila-Qais (majnun). Di bumi pertiwi juga banyak beberapa kisah cinta termahsyur yang digubah oleh penulis klasik, seperti kisah cinta Siti Nurbaya-Syamsul Bahri, Zainudin-Hayati, serta Hamid-Zainab. Beberapa kisah tersebut hanya sebagian dari ribuan kisah cinta yang pernah ada dan tak lekang oleh waktu.

Semua kisah cinta tersebut adalah potret kisah cinta rumit, terhalang oleh tingginya tembok perbedaan bahkan berakhir dengan tragis dalam kedukaan. Romeo-Juliet lebih memilih mati bersama dalam kedamaian daripada kisah cintanya tak direstui sepanjang masa oleh keluarga mereka yang tengah berkonflik.

Di Negeri 1001 malam, Laila yang tengah setia menanti Qais harus kalah atas budaya patriarki dan menikah dengan orang yang tak dicintainya. Namun, Cinta sejati Laila hanya untuk Qais dan begitu pula sebaliknya. Mereka menikmati kegilaan (majnun) karena cinta hingga ajal menjemput.

Siti Nurbaya terpaksa menikah dengan orang yang tak dicintainya sebagai upaya membebaskan keluarganya dari jerat hutang. Perasaan cintanya tak pernah surut untuk Samsul Bahri hingga ia memilih kabur dari Padang ke Batavia. Tentu saja itu melanggar adat dan memperuncing konflik di tanah Padang. Siti Nurbaya meninggal membawa sejuta cintanya dan demi membalas kematian Siti, Samsul pun rela mempertaruhkan nyawanya. Jasad kedua sejoli yang saling mencinta itu terkubur berdampingan.

Dua kisah cinta termahsyur yang terhalang tembok perbedaan adalah gubahan karya Hamka, “Di bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck“. Potret kisah cinta Hamid-Zainab yang terhalang oleh perbedaan kelas sosial, hingga akhirnya Hamid lebih memilih untuk memendam perasaan cintanya pada Zainab. Kekalutan dan patah hati membuat Hamid merantau hingga sampai ke tanah suci Mekah. Hamid meninggal dihadapan Ka’bah, memanjatkan do’a ketika mengetahui kekasih yang sangat dicintainya Zainab telah pergi mendahuluinya.

Van Der Wijck kisah Zainudin yang tak bersuku jatuh hati pada kembang desa Minang, Hayati. Kekokohan adat yang tak lapuk oleh zaman dan tak lekang oleh waktu memisahkan mereka. Hayati memilih menikah dengan orang yang beradat, berlembaga dan mapan secara sosial atas desakan keluarganya. Sebagai perempuan, dia tak dapat menolak permintaan para tetua adat di kampungnya, meskipun Zainudin tetap dihatinya. Zainudin yang sakit hati mampu bangkit dari keterpurukan disaat Hayati tertimpa kemalangan dan menjadi janda. Rasa sakit hati Zainudin dimasa lalu membuat rasa cintanya tertutup rasa sakit hati itu. Tanpa sadar Zainudin mengabaikan Hayati yang telah rela menebus kesalahan dan ingin menjadi istrinya. Hingga akhirnya maut memisahkan mereka. Hayati meninggal karena kapal Van Der Wijck yang ditumpanginya ketika hendak pulang ke Padang tenggelam. Zainudin tak dapat menutupi rasa dukanya ditinggal orang yang sangat dicintainya selama ini hingga ajal menjemputnya.

Potret kisah cinta klasik nan tragis dan terhalang oleh tembok perbedaan itu juga bisa terjadi di zaman sekarang ini. Tak sedikit pula perawan kembang metropolitan menjadi korban keadaan yang cukup rumit dalam perjalanan kisah cintanya. Mereka tak bebas mengekspresikan perasaannya karena restu orang tua yang tak kunjung datang. Bahkan perbedaan kelas sosial, ekonomi hingga latar belakang keluarga masih menjadi tembok penghalang dalam perjalanan kisah cinta mereka. Itu sangat menjadi beban bagi sang perawan kembang metropolitan. Cinta menjadi hal yang patut diperjuangkan terlepas dari ribuan hingga jutaan perbedaan yang menghalangi. Cinta tetaplah cinta tanpa memandang beribu perbedaan yang ada. Cinta tak mengajarkan kita mencari sosok yang sempurna, melainkan sosok yang bisa “melengkapi” agar kita sempurna dalam hidup. Tak penting seberapa banyak perbedaan yang menjadi jurang pemisah, akan tetapi cinta selalu bisa mempersatukan. Seperti yang diutarakan oleh Soe Hok Gie dalam puisi Sebuah Tanya “kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta“.

By: DinDyNa

To My Inspiration and My Imagination