Lukisan Pelangimu

Langit mendung tak seceria kemarin. Kau menungguku di taman ini ditemani angin yang tengah asyik mengajak awan mendung berdansa. Kau anggap ku tak datang saat itu. Kau telan seluruh kekecewanmu dengan senyum. Harusnya itu menjadi pertemuan terakhir kita. Sebelum kau pergi merantau mengadu nasib di ibu kota dan kau ingin mewujudkan impian menjadi seorang pelukis terkenal. kaupun tak lagi menungguku. Kau pergi kala itu.
Selepas angin berdansa dengan awan, Hujanpun hadir. Ku datang ketempat itu berharap kau menungguku. Kau tak nampak lagi ditempat itu. hujan yang menyelimutkan dingin ke tubuhku tak membuatku berhenti menunggumu kala itu. hingga hujan pun pergi, Kau tak nampak jua. Yang ada hanya pelangi indah selepas tangisan hujan. Sayangnya pelangi itu tak nampak dihatiku. Ya.. kau pergi dengan sejuta rasa yang tak pernah kita selesaikan. Hari itu ku tak tau lagi kabar tentangmu. Kau benar-benar menghilang dari hidupku.

7 tahun berlalu.,
Ku berusaha lepas dari bayangmu, namun tak sedikitpun kenangan tentangmu terhapus dalam pikiranku. Selama tujuh tahun ku belajar untuk bangkit dan memulai kehidupan baru di kota baru pula. Lima tahun lalu ku memutuskan untuk pindah ke kota ini dan bekerja di suatu perusahaan. Perusahaan yang bergerak dibidang wedding organizer. Enjoy rasanya ku bekerja disini. Setiap harinya aku bisa melihat wajah sepasang kekasih yang sangat bahagia ketika berbicara mengenai persiapan pernikahan mereka. Senang bisa membantu mereka mempersiapkan proses pengukuhan kisah cinta yang bermuara pada sebuah acara sakral pernikahan. Suatu waktu ada sepasang kekasih klien diperusahaanku yang menginginkan tema pernikahan klasik dengan desain interior gedung yang juga klasik, dilengkapi beberapa lukisan juga sebagai hiasan. Kebetulan mereka menginginkan sebuah lukisan tentang mereka juga dipajang ketika pernikahan. Mereka telah memesan lukisan tersebut pada seorang seniman terkenal di kota ini. untuk melengkapi beberapa lukisan yang lain, mereka menyarankan agar kami juga memesannya pada sang pelukis.
Aku mendapat tugas untuk mengunjungi galeri lukisan miliki pelukis terkenal itu. Sebuah ruangan yang didesain sangat sederhana, namun tetap indah dipandang mata. Kesan klasik kuno sangat kuat dalam ruang galeri tersebut. Aku menunggu sang pemilik galeri, namun penjaga galeri mempersilahkan aku untuk menunggu. Daripada bosan menunggu, akupun menjelajahi ruangan itu untuk melihat lukisan-lukisan indah karya sang pelukis terkenal itu. Berbagai lukisan yang dipajang sangatlah indah dengan kesan abstrak yang tak mudah dipahami. mayoritas lukisan disana berkesan abstrak dan naturalis. Namun ada sebuah lukisan yang sangat menarik bagiku. Ku coba mendekat dan melihat lukisan itu. Lukisan seroang wanita dengan potongan rambut sebahu yang tergerai. senyum manis terhias diwajahnya dan bola matanya tampak berbinar memancarkan aura kegembiraan. Aku serasa berkaca melihat lukisan itu. Lukisan itu benar-benar mirip denganku. Jantungku mulai berdebar melihat lukisan itu. Ku coba menelusuri siapa pelukisnya. Dalam lukisan itu tertera “pelangi dalam hidupku: 01-12-2014 (YZ)”. Hanya tertera inisial dalam lukisan itu. Melihat inisial itu aku semakin ingin mengetahui siapa pelukisnya.
Tiba-tiba dari belakang, muncul seorang pria menegurku, “selamat pagi mbak..”
akupun menoleh, “iya..selamat pagi..”, aku yakin diaalah pemilik geleri ini.
Pria itu sekilas menatapku sangat lama dan agak terkejut. Entah apa yang dipikirkannya sampai dia begitu. kemudian dia tersadar dari lamunannya dan bertanya “mbak yang mau pesan lukisan dari Wedding Organizer itu?”. “eh.. iya.. anda pemilik galeri ini?”, aku bertanya balik.
“bukan mbak.,ini milik sahabat saya, tapi kebetulan saya menggantikan sahabat saya untuk mengurus geleri ini. maaf sudah membuat anda menunggu. Mari kita berbicara disana saja”. jelasnya panjang lebar sambi mengajak saya menuju ruangannya.
“ooh.. iya tidak apa-apa kok..”, sayapun mengikutinya, tapi rasa penasaran akan lukisan tadi membuatku menghentikan langkah dan memberanikan diri untuk bertanya perihal lukisan itu. “eh..pak.. maaf sebelumnya. Saya mau tanya, siapa pelukis lukisan ini?”, tanyaku sambil menunjuk lukisan yang mirip sekali denganku.
Pria itupun terdiam dan agak terkejut dengan pertanyaanku.
Setelah agak lama terdiam, akhirnya pria itu menjawab pertanyaanku. “yang melukis pemilik galeri ini, sahabat saya”.
“siapa pelukis itu? boleh saya tahu namanya? kenapa lukisan itu benar-benar mirip dengan saya?”, tanyaku penuh selidik. lama pria itu tak menjawab pertanyaanku itu. hingga akupun melanjutkan berkata. “ohh..maaf sebelumnya. tapi saya ingin benar-benar tau siapa pelukis itu. apa orang itu ada hubungannya dengan masa lalu saya..”

Tiba-tiba pria itu menatapku sekilas dan sedikit ragu mulai berbicara. “Lukisan ini dibuat oleh almarhum sahabat saya. Dia sangat mencintai wanita yang ada dalam lukisan itu. Wanita itu bagai pelangi di hidupnya. Sekitar tujuh tahun lalu dia meninggalkan wanita itu karena merantau ke kota ini. tak pernah sekalipun dia mengucapkan perpisahan pada wanita itu. usahanya untuk bertemu wanita itu tak terlaksanan karena sang wanita yang ditunggunya tak kunjung datang. Dia merasa kecewa, tapi rasa cinta mengalahkan rasa kecewanya. Sampai saat menghembuskan nafas terakhirnyapun saya yakin dia tetap mencintai wanita itu dan berharap bertemu dengan sang wanita. Ada suatu hal yang hendak disampaikannya jika dia bertemu dengan wanita itu, dia ingin sekali mengatakan bahwa, “dia sangat mencintainya. sejak pertama dia melihatnya di sebuah taman. ya.. dia sangat mencintai anda, nona Risma. sahabat saya Yozha dia meninggal seminggu lalu karena kecelakaan”.
Darahku terkesiap, tubuhku lemas seketika, ku tak mampu berkata lagi hanya air mata yang mengalir deras di pipiku. mendengar semua cerita pria itu dadaku sesak seketika, kepalaku mulai pening. Yozha, Pria yang tujuh tahun lalu ku tunggu di taman kehadirannya. Pria yang membuatku belajar untuk bangkit selama tujuh tahun ini. Takdir tak mengizinkan aku bertemu dengannya di dunia. Dia terkubur bersama rasa cintanya untukku, sementara aku hidup dengan kenangan dan rasa cinta yang ternyata juga disambut olehnya selama ini.
***********************
Ku mengunjungimu hari ini Yozha. Ku curahkan segala rasaku diatas pusaramu. Ku harap kau tau itu. Cinta yang bersemayam dihatimu selama ini tak sia-sia, karena ku juga merasakannya. Namun ku minta maaf karena pernah sekuat tenaga berusaha menyingkirkan kenangan tentangmu. Seolah nasib mempermainkan kita dalam sebuah penantian dan harapan bahwa suatu saat kita kan bertemu. Tuhan berkata lain, dan kita dipertemukan dengan cara yang berbeda. Ragamu boleh mati dan terkubur bersama seluruh kenangan dan cinta untukku. namun itu semua akan selalu hidup dihatiku. Kau seperti pelangi bagiku yang selalu ada tanpa harus menunggu daraian hujan yang menggempur. Kau tetap pelangiku dan aku pelangimu Yozha..

Image

 

by: DinDyna

Menunggu Seribu Embun

Daun gugur menampakkan warna emasnya.

Angin membawanya terbang menari,

Jatuh perlahan tanpa rasa sakit

Tak ada kilauan embun terpancar darinya

Ranting seolah bergumam menceritakan rahasia embun

 

Embun melekat didaun musim semi

Menggoreskan sebuah rahasia hati

Rahasia akan kecintaannya pada daun

Tetesan-tetesannya setia menemai daun melewati kabut pagi

Daun mengabaikan embun., embun teramat menggangunya

Setiap tetesan embun membangunkan tidur paginya

 

Seribu musim semi berlalu

Musim gugurpun menyapa

Daun menua tanpa kehadiran embun

Tak ada lagi teman tuk melewati dinginnya pagi ini

Daun menghabiskan seluruh masanya bersama angin

Sang angin hanya teman sesaat tanpa kesetiaan

Angin pula yang membuatnya jatuh tanpa rasa sakit.,

dan tak bisa bangkit..

Sampai habis masanya menunggu seribu embun datang

tak bersua dan tak terucap rasa cintanya pada sang embun

 

Image

 

By DinDyNa

Kenangan lalu untukmu..