Serpihan Kenangan di Lorong Kampus

Melewati tempat ini, seolah menghidupkan kembali ingatanku tentangmu. Beberapa bulan yang lalu, kuingat serangkaian kejadian yang hingga saat ini tak mungkin kulupakan.

09-04-13
Saat itu, ku duduk bersama teman untuk mengerjakan tugas riset yang akan dipresentasikan. Sesaat kau datang dan ikut nimbrung. Jujur perasaanku biasa saja kala itu. Kaupun sempat meminjam bolpen padaku. Saat itu, aku buru-buru masuk kelas karena takut telat kuliah. Sesaat kemudian kau memanggilku. Akupun menoleh, ternyata kau membawa bukuku yang hampir saja ketinggalan. “hey…ini bukumu..” dan akupun mengucapkan, “ooh..iya..terimakasih..”. Dalam hati ku berkata, “sekali lagi terimakasih..,karena kau peduli..”

15-04-13
Siang ini, kau mengajakku bertemu tuk membicarakan mengenai tugas riset bersama teman-teman yang lain. Ternyata teman-teman yang lain belum datang dan hanya ada kau dan aku. Entah kenapa ku merasa gugup berhadapan denganmu saat itu. Sampai-sampai ketika kau memintaku menulis pokok-pokok materi yang kau bacakan., ku sangat lelet dan selalu salah.. hehehe… Sesaat kemudian teman-teman yang lain datang dan mulai menggoda kita. Itu semakin membuatku salah tingkah. Apalagi ketika ku ingin meminta dan merobek buku agendamu yang berisi catatan materi tadi. Kaupun tampak bingung kala itu.
”Apa kau juga merasakannya??”

8-05-13
Hari itu, akan ada presentasi diruang perpus. Dibutuhkan segala persiapan termasuk konsumsi. Kebetulan teman-teman ynag lain belum datang dan hanya ada aku. Pak dosen meminta bantuanku untuk membeli konsumsi ditoko sekitar kampus. Dengan jalan kaki akupun beranjak membeli konsumsi. Saat itu kondisiku kurang fit karena sedikit flu. Setelah membeli beberapa konsumsi, akupun segera kembali menuju kampus. Di depan gedung area parkir tampak dirimu berdiri seolah mengarahkan pandangan kepadaku. “apa mungkin kau menungguku?, tapi rasanya gak mungkin deh…kebetulan sepertinya..”, batinku. Jarak semakin dekat dan itu benar-benar dirimu. Kaupun tersenyum seraya menyapaku., “hey.” Dengan sigap kaupun mengambil tas berisi konsumsi dari tanganku dan membawakannya. Sambil berjalan pelan dibelakangmu, akupun berpikir jika ini sebuah kebetulan..ya.. kita kebetulan bertemu disini atau kau diminta oleh pak dosen untuk membantuku membawa konsumsi yang kubeli.. dan yang pasti semua kebetulan ini bukan karena kau benar-benar berniat menungguku. Tiba-tiba kau berkata “lhoo..ayo kamu gak mau ikut masuk k perpus juga?”. “eh..iya..”, jawabku sembari mempercepat langkahku, hingga kita berjalan beriringan di lorong kampus.
Dalam perjalanan di lorong kampus, ku mencoba membuka pertanyaan “teman-teman yang lain belum datang ya?”.
Kaupun menjawab, “belum cuman sebagian..masih dalam perjalanan kesini..” membuka pembicaraan. Tiba-tiba kau bertanya padaku “sakit In? sakit apa?”. Aku tak menyangka kau akan menanyakan kondisiku saat itu yang memang tampak kurang sehat. Akupun menjawab, “biasa..sedikit flu..hehe..”,
Saat itu aku mendengar tanggapanmu (mudah-mudahan gak salah y..): “iya..kemaren aku juga panas, gak enak badan..”
“Cuacanya emang gak enak”, timpalku..
Hari itu.., entah kenapa aku senang sekali bisa mengobrol dan berjalan beriringan denganmu dilorong-lorong kampus. Itu menjadi suatu kenangan yang kuingat setiap kali ku melewati lorong-lorong kampus.

31-05-13
Pagi ini aku berangkat kuliah ke kampus. Sesampainya di kampus, dari kejauhan ku melihatmu. Jujur hatiku senang sekali., namun saat itu kau bersama seorang teman wanita sedang duduk dan mengobrol. Sesekali kalian berdua tertawa ringan. Saat itu, aku takut mengganggu jika menyapamu. Namun, pandangan kita saling tertaut dan itu membuatku harus sekedar tersenyum menyapamu. Kaupun membalas senyumku. Lega rasanya melihatmu tersenyum padaku. Aku terus melangkah menuju ruang kuliah. Tiba-tiba kau kembali memanggilku, “hey..dosenmu pak Zaky ya?”. Akupun menoleh dan menjawab, “haah..iiyaa”. Kemudian kau melanjutkan, “sampe’ jam berapa kuliah?”
“Sekitar jam 11an”, jawabku sembari buru-buru masuk karena takut telat. Di kelas, tiba-tiba hpku berdering. Dilayar ponsel tertera namamu.., “kenapa kau menelpon? Padahal kau sudah tau kalau aku kuliah.., mungkinkah ada hal penting ya?”, batinku. Namun telpon darimu tak kuangkat, karena takut menganggu kuliah. Selang beberapa saat kemudian, ada pesan darimu. Pesan itu sekedar berisi pemberitahuan mengenai soft dokumen yang harus kuserahkan padamu. Akupun membalas pesanmu dan berjanji memberikan soft dokumen itu setelah selesai kuliah. Setelah kuliah aku kembali ke kos mengambil soft document itu tuk diserahkan padamu. Kebetulan ada seorang teman yang ingin ke kampus, jadi kutitipkan flashdisc berisi soft document itu untuk diberikan padamu. Karena pada saat itu, ku ada urusan dan tidak bisa langsung ke kampus. Sesaat kemudian temanku membeir kabar jika soft dokumen itu telah diserahkan padamu. Setengah jam berlalu dan akupun tiba di kampus untuk kerja kelompok. Tiba-tiba ponselku berdering dan itu kau. Ku jawab telponmu.
“halo..”
“halo..In., kamu dimana sekarang?”
“di kampus mas.., kenapa ya?’”
“soft dokumenmu belum kuterima..”
“lhoo..tadi udah kutitipkan ke Ozi..”
“oohh..ya udah., kamu kesini sekarang”.
Akhirnya akupun beranjak menemuimu. Sesampainya disana kutemui kau dan teman-teman yang lain sedang asyik duduk dan berbincang. Sayup-sayup kudengar, seroang teman berkata “lho..ini dia anaknya”, sembari melihat ke arahku. Kemudian kau menoleh ke arahku seraya berkata, “In..mana punyamu?”
“lho..tadi udah jadi satu sama punya Ozi.,”, jawabku.
“ooh..ya udah kalo gitu., tak kirain belum..” katamu kemudian. Mendengar pernyataanmu aku langsung lega dan hendak beranjak dari sana. Namun..tiba-tiba dari belakang ada suara, “eh..In..tunggu..kok datanya gak ada ya..?”
“apaa?”, kataku kaget seraya berbalik.
“waduh..gimana ya?, eh.. tapi kamu punya softcopy-nya lagi kan?”, tanyamu.
“ehh…iya ada..”, jawabku.
“ada dimana? Sekarang kamu bawa?”, tanyamu lagi penuh selidik.
“ada di kos.,” jawabku singkat. Sepertinya ini penting dan harus segera diambi, akhirnya akupun berkata dengan nada datar, “ya..udah aku ambil lagi ke kos”.
Sebenarnya aku malas sekali mengambilnya, karena saat itu aku jalan kaki. Tiba-tiba seorang teman berkata sembari melirik ke arahmu, “ini..lho minta anterin mas Sofyan?”.
“hahh?!”, kataku bingung, entah kenapa perasaanku jadi aneh mendengar tawaran itu. Kemudian kau beranjak sembari memegang kunci kontak motor.
“ayo..In.. kosmu jauh gak? Berapa kilometer dari sini?”, katamu setengah bercanda menurutku.
Ku yang masih bingung berusaha menjawab, “ehh..nggak jauh., deket kok..”
Kau segera berjalan menuju area parkir dan akupun mengikutimu. Ku masih tak percaya perihal soft dokumen yang tiba-tiba hilang , padahal jelas-jelas udah dicopy ke laptopmu. “mungkin ada kesalahan”, batinku. Akhirnya ku memberanikan diri bertanya soal itu padamu, “kok bias hilang mas? Padahal udah dicopy datanya ya?”
“iyaa..nggak tau kok bisa”, jawabmu singkat, sembari mengeluarkan motor dari parkiran. Sesaat kemudian, kita berangkat ke kosku dengan mengendarai motor. Dalam perjalananku begitu gugup dan sulit tuk berbicara.
Tiba-tiba kau membuka pertanyaan “kosmu dimananya kosnya Ririn?”
Akupun menjawab, “eh.. jauh mas.. bukan daerah sana..”
“ooh… tak kirain deket sana.., trus kosmu dimana?”, tanyamu lagi.
“Di gang X, mas..”, jawabku kemudian.
“oohh…”jawabmu singkat tanpa berkomentar lagi. Sesaat kita terdiam dalam perjalanan. Jalanan area kampus agak macet hingga motorpun melaju lambat. Kami masih terdiam satu sama lain. Akhirnya kberanikan diri membuka pembicaraan. “laporannya belum selesai mas?”
Setengah menoleh kau tersenyum dan menjawab, “kenapa In?, kamu mau bantu ngerjain ya?”.
Mendengarnya akupun menjawab serya tersenyum, “ahh… nggak deh.. hehe..”, kaupun melanjutkan, “”belum selesai, masih ada yang kurang”.
“oohh…”jawabku singkat.
Kamipun memasuki gang. “disebelah mana kosmu?”, tanyamu.
“masih sebelah sana.., jalan terus..”, jawabku sambil mengarahkan. Motormu semakin melaju cepat karena jalanan gang cukup sepi. Hingga akhirnya motormu melaju melewati kosku. Secara spontan ku berkata, “ehh…iya…oop..op..oop..”.
Kaupun mengerem laju motormu dan putar balik. “ku kira kosmu disana, dulu kan kita pernah ketemu disana..”, paparmu saat itu. Aku bergegas turun dari motormu dan berkata “nggak bawa flashdisc mas? Apa pakai flashdicku dulu atau gimana?”. Jujur saat itu aku memang sedikit grogi ketika berbicara. Saat itu, Raut wajahmu sulit ditebak. Bola matamu dan alis yang sedikit naik seolah tertuju padaku. Seraya tersnyum kau menjawab “pakai flashdiscmu saja.”. mungkin kau tampak kebingungan menyimak pembicaraanku yang terlalu cepat tadi, hehehe.. maklum ada indikasi salting.
“tunggu sebentar aku masuk dulu ya..”, kataku seraya memasuki pagar kos.
Setelah kejadian itu, kau jarang kutemui lagi di kampus. Kesibukan yang memisahkan kita. Kau telah sibuk dengan duniamu, dunia mahasiswa akhir yang dituntut untuk segera menyelesaikan skripsi. Kegiatan riset yang telah mempertemukan kitapun berakhir. Secara otomatis intensitas pertemuan kitapun berakhir seiring kerjasama riset berakhir. Ada suatu perasaan aneh dalam diriku dan kusadari jika aku mulai menaruh hati padamu. Perasaan yang tak pernah kuduga dan tak terencanakan sebelumnya. Kian hari perasaan itu kian tumbuh seperti rasa rinduku yang tak pernah melihatmu lagi di kampus. Namun, suatu waktu aku pernah melihatmu ke kampus.

19-09-13
Hari ini Ku bertemu denganmu., lagi-lagi kita mengenakan baju dengan warna yang sama yakni biru. Namun kau tak melihatku. Hanya aku yang mengetahui keberadaanmu. Sungguh rasanya hati ini begitu sedih., namun ada sejumput rasa senang ketika melihatmu.
Selang beberapa minggu, kita tak bertemu lagi. Namun, aku mendapatkan kabar bahwa aku akan menjadi salah satu kandidat anggota jurnal yang baru menggantikan anggota lama yang telah habis masa jabatannya. Atas prakarsamu, perekrutanpun terlaksana dan salah satu anggota barunya adalah aku. Dibulan Oktober diadakan sosialisasi sekaligus peresmian secara simbolis keanggotaan redaksi jurnal yang baru. saat itupun aku kembali bertemu denganmu..

02-10-13
Sore ini, ada kegiatan kumpul anggota redaksi jurnal dan ini pertama kalinya aku bertatap muka denganmu. Entah apa yang kurasakan ketika berhadapan denganmu. Kucoba bersikap biasa seolah tak ada rasa apapun padamu. Namun ini tak cukup berhasil mengobati rasa galauku. Ku coba menghindari setiap pandanganmu. Begitupun kau yang tampak cangggung. Jujur itu baru pertama kalinya kubertemu denganmu setelah beberapa waktu yang lalu tak bertemu. Senang rasanya.., sampai akhirnya acara pertemuan itu ditutup dengan jabat tangan yang kita lakukan. Saat itu aku tak berani menatap wajahmu. Hanya saja berjabat tangan yang kulakukan. Saat itu juga semua perasaan aneh mulai luruh dan berganti dengan hati yang diselimut sedih. Ku pamit pulang dan ditengah perjalanan tiba-tiba ada rasa sedih, kehampaan, kekecewaan dan sakit yang teramat menyengat hatiku. Saat itu ku baru menyadari bahwa satu jam pertemuan tadi adalah yang terakhir bagiku. Aku tak bisa lagi melihatnya, bahkan sekedar mendengar suara basa-basi darinya yang mengajakku ngobrol. Hanya itulah kesan terakhir yang tergores. Sungguh dadaku begitu sesak karena rasa yang salah ini..,dadaku begitu sesak seolah menahan kerapuhan harapan cinta ini. Mungkin kau tak merasakannya. Hanya aku.. hanya aku tertinggal disudut lorong kampus bersama kenangan tentangmu.

“Sekedar Cerita Fiksi disore hari”
by Dindyna