kebanggaan atau kesayangan?

Ketika matahari sepenggala naik, aku duduk menemani nenek yang tengah asyik menyeruput tehnya. Tiba-tiba beliau bercerita tentang anak-anaknya yang sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing. Beliau memiliki lima orang anak, empat orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Rasa sukacita terpancar jelas dimatanya yang selalu antusias menceritakan kelima anaknya.
Beliaupun berucap “Anak laki-laki itu kebanggaan dan anak perempuan itu kesayangan”.
akupun bertanya, “kenapa bisa begitu nek?”
Nenekpun menjawab “seorang anak laki-laki menjadi tulang punggung dan pengayom bagi keluarga. Kelak anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah utama bagi keluarganya. Oleh karena itu, segala sesuatunya harus diprioritaskan demi kesuksesan anak laki-laki, karena pada masa depan dia akan menjadi tumpuan hidup dan kebanggaan keluarganya. Berbeda halnya dengan anak perempuan yang digambarkan sebagai anak lemah lembut yang sepatutnya disayang dan tidak seharusnya jauh dari orang tua. Dengan sifat tersebut, anak perempuan diharapkan menjadi anak yang berbakti, menyenangkan, dan merawat keluarga termasuk kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar jawaban nenek yang panjang lebar itu, aku hanya manggut-manggut sembari berpikir. Akupun kembali bertanya pada nenek, “lalu apakah anak perempuan tidak bisa membanggakan seperti anak laki-laki. Jika ukuran kebanggaan pada seorang anak laki-laki adalah tumpuan hidup keluarga (pencari nafkah), bukankah sekarang banyak juga perempuan yang berkarir dan memiliki penghasilan sendiri?”
nenek sejenak terdiam, senyum tipis menghiasi wajahnya. lalu diapun menjawab “mencari nafkah bisa saja dilakukan seorang perempuan, tapi kebanyakan dari mereka tidak mampu membagi waktu antara bekerja dengan keluarga. Bukankah tugas utama perempuan adalah mencurahkan kasih sayang dan merawat keluarganya? Perempuan itu anak kesayangan makanya jangan sampai dia keluar dari rumah mengerjakan hal yang seharusnya bukan tugasnya”.
“Berarti jika dalam keluarga itu hanya punya anak perempuan, maka mereka tak memiliki anak yang membanggakan?”, aku hanya bergumam dalam hati tanpa terus berdebat dengan nenek. Namun sepenggal perbincangan dipagi itu membuatku berpikir mau menjadi kebanggaan atau kesayangan?
Semenjak perbincangan itu, aku menjadi semakin sadar jika budaya patriarki memang sudah mengakar dalam pikiran nenek yang termasuk kategori orang zaman dulu..hehe.. Tidak hanya itu, bahkan saat inipun budaya patriarki kerap kita temui meskipun secara samar. Kembali pada pernyataan nenek jika anak laki-laki itu kebanggaan dan anak perempuan itu kesayangan. Dari pernyataan tersebut jelas sekali ada perbedaan antara peran anak laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Perbedaan tersebut pada akhirnya menjurus pada budaya patriarki yang senantiasa terus terpelihara secara turun-temurun. Seolah anak dipersiapkan untuk menjadi kunci utama pelestarian budaya patriarki itu. Budaya patriarki yang menitikberatkan pada kekuasaan sepenuhnya berada ditangan laki-laki, perempuan hanya sebagai pihak dibawah kekuasaannya. Laki-laki menjadi aktor utama pencari nafkah, tulang punggung dan pengayom keluarga. Dengan begitu, laki-laki seolah bertransformasi menjadi makhluk yang super kuat dan memiliki kuasa dominan didalam keluarga. Sedangkan perempuan yang katanya “ratu dalam rumah tangga” itu sebenarnya bertransformasi menjadi makhluk lemah lembut yang bergantung pada seorang laki-laki.
Jika dilihat secara seksama sebenarnya posisi perempuan menjadi pihak yang didominasi oleh kekuasaan laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarganya. Perempuan dianggap sebagai makhluk lemah yang harus dilindungi oleh laki-laki dan membuatnya selalu bergantung pada kehadiran laki-laki. Sifat perempuan yang demikian itu, dijadikan alasan bahwa perempuan hanya cocok bekerja diranah domestik. Mengabdikan diri sepenuhnya untuk merawat dan menyirami seluruh keluarganya dengan kasih sayang adalah tugas terhormat bagi seorang perempuan. Perempuan adalah makhluk yang harus disayangi dan dilindungi. Pernyataan itu sekilas membuat perempuan menjadi sepenuhnya makhluk yang paling berharga dan disayang. Namun dibalik itu semua, perempuan dikungkung kebebasannya dalam ranah selain domestik. Perempuan hanya berkesempatan menjadi ratu dalam rumah tangga yang tak bebas melenggang ke dunia publik tanpa persetujuan laki-laki (kepala keluarganya). Dunianya seolah sempit dan dibatasi setiap tembok rumah tangga yang dipimpin seorang lelaki. Itulah konsekuensi menjadi makhluk kesayangan.
Lalu bagaimana jika perempuan, ingin menjadi kebanggan? itu bisa saja terjadi. Sebenarnya perempuan juga bisa menjadi kebanggan dalam keluarga apabila tolak ukur kebanggaannya adalah tumpuan hidup dan pencari nafkah seperti anak laki-laki. Saat ini, banyak potret perempuan yang sukses dalam menghidupi dirinya sendiri bahkan keluarganya. Itu menjadi pertanda jika perempuan tidak sepenuhnya lagi dikatakan bergantung pada laki-laki. Perempuan bisa saja melangkah melampaui dunia domestik yang selama ini mengungkungnya. Dengan lantang dia dapat menunjukkan eksistensinya agar setara dengan laki-laki. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kelak perempuan tetaplah memiliki tugas sebagai ratu sekaligus ibu dalam rumah tangganya. Tidak sedkit juga dari mereka yang gagal dalam menjalankan perannya sebagai ratu dan ibu rumah tangga karena lebih dominan mengurus karirnya di ranah publik. Bahkan ada juga segelitir dari mereka yang melampaui kemandirian dengan tak lagi membutuhkan peran laki-laki atau fokus pada karirnya, sehingga memilih untuk hidup sendiri diakhir hayatnya. Wow.. fantastis bukan.!! perempuan yang katanya lemah, mampu memutuskan untuk menjalani hidup sendiri fokus menggapai cita dan karirnya tanpa kehadiran laki-laki. Seorang perempuanpun bahkan bisa menjadi makhluk yang apatis ketika menjalankan fungsi afeksinya dalam keluarga apabila dia telah kukuh berkarir diranah publik. Bukan tidak mungkin hal tersebut lambat laun dapat mengikis rasa kasih-sayang, kelembutan yang ada dalam drinya sebagai seorang ibu dan perempuan sejati. Semua kesuksesan yang diraih melalui karirnya tentu membanggakan bukan? dalam sekejap seorang perempuan bisa saja menjadi anak, istri dan makhluk yang membanggakan. Namun, mereka cenderung memiliki sedikit waktu dengan keluarga, fungsi afeksi yang tidak optimal dalam keluarga bahkan bisa jadi perempuan juga mengabaikan keluarganya. Itulah potret perempuan modern saat ini yang aktif dalam ranah publik. Tampak membanggakan dipanggung depan, dipanggung belakang (keluarga, rumah tangga) para perempuan mengukir cerita yang berbeda.
Lalu manakah yang kalian pilih sebagai perempuan, menjadi kebanggaan atau kesayangan? kalau bisa sih..saya memilih keduanya kebanggaan dan kesayangan dalam keluarga. Jangan mau hanya menjadi kesayangan tapi suaranya terbungkam oleh budaya patriarki. Namun, tidak ideal juga jika jadi kebanggaan keluarga hanya diranah publik dan tak jadi pionir dalam menjalankan perannya sebagai perempuan sejati dalam keluarga.  hehe.. ^_^

by Dindyna

Iklan