Perawan Metropolitan dan Roman Klasik

Roman pict

Ini salah satu tulisanku yang awalnya terinspirasi oleh lirik lagu “Anak Jalanan” – Sandy Sandoro. Ini tentang kisah cinta anak perawan metropolitan yang tak mendapat restu orang tuanya. Namun tulisan ajaib ini terlahir karena imajiku terhadap beberapa karya sastra roman klasik yang termahsyur.

Berikut penggalan lirik lagu dari Sandy Sandoro yang menajdi awal inspirasiku:

Anak perawan kembang metropolitan
selalu resah dalam penantian
anak perawan korban keadaan
selalu menanti dalam keresahan

Tiada restu untuk bertemu
restu menjalin hidup bersatu
kasih sayang dari ayah dan bunda
hanyalah adat semata

Lirik lagu tersebut bercerita tentang kisah cinta perawan metropolitan yang tak mendapat restu kedua orang tua. Perjalanan kisah cinta terimaji sangat indah dalam hidup, namun tidak untuk perawan metropolitan. Bagi mereka cinta tak ubahnya sebuah permainan bola yang penuh strategi. Mereka harus bisa bermain cantik agar kedua orang tuanya tak murka. Bagaimana tidak? dalam perjalanan kisah cintanya, orang tua menjadi salah satu tembok penghalang dengan dalih kasih sayang atas mereka. Kasih sayang orang tua sangatlah tulus, namun semua itu bias ketika menjadi tameng penghalang kisah cinta sang perawan metropolitan. Bagi perawan metropolitan kasih sayang orang tuanya bertransformasi sebagai adat semata yang membatasi kebebasan rasa cintanya.

Perjalanan kisah cinta sang perawan metropolitan kering kerontang tanpa restu kedua orang tuanya. Alhasil jalinan kisahnya sangat dirahasiakan bahkan diliputi rasa takut untuk sekedar bertemu melepas rindu. Bahkan kisah cintanya yang manis tak kan berakhir dalam sebuah mahligai pernikahan. Itu menjadi akhir yang pahit. Bukankah pernikahan adalah salah satu impian dari para pejuang cinta pada akhirnya? Bagi sang perawan metropolitan yang tengah dilanda cinta tak berkesudahan, hanya bisa tergugu pasrah menanti dalam keresahan. Mereka begitu menikmati rasanya cinta yang tak selalu manis, namun pahit dan getir sekaligus. Beribu tembok penghalang membuat mereka kesulitan untuk melangkah dalam perjalanan cintanya.

Namun satu hal yang pasti, bukankah cinta harus diperjuangkan, ditengah tebalnya tembok penghalang itu?

Begitu banyak tembok penghalang dalam kisah cinta yang harus ia tembus. Salah satunya adalah sekian banyak perbedaan antara dia dan sang kekasih yang pada akhirnya menjadi pemicu adanya tembok penghalang itu. Perbedaan tersebut mencakup latar belakang keluarga, suku bangsa, kelas sosial bahkan kehidupan ekonomi. Semuanya termanifestasikan bahkan mengakar dalam kehidupan dan pada akhirnya diklaim sebagai adat yang berlaku dalam keluarga ataupun masyarakat.

Perjuangan cinta bagi sang perawan bukanlah hal yang amat sangat mudah untuk dilakukan. Perawan metropolitan yang hidup di dunia modern-pun belum tentu mampu memperjuangkan kisah cinta mereka yang kering kerontang tanpa restu. Mereka bahkan tidak sangggup untuk melawan kuasa kedua orang tua mereka. Meskipun mereka berusaha memberontak, pada akhirnya suara mereka terbungkam oleh kuasa kedua orang tuanya. Mereka tak ubahnya sebagai objek yang kepemilikannya diatur oleh kedua orang tuanya. “Kepemilikan” tersebut tentunya ada standart yang diberlakukan, misalnya tingkat kemapanan hidup (berkaitan dengan materi/kekayaan) calon pendamping si perawan metropolitan. Bagi orang tua sang perawan metropolitan ini bukan saja soal cinta yang hakiki itu, bukan itu kawan. Ini tentang prestise kelas sosial yang harus mereka sandang bahkan pertahankan dalam tatanan hidup masyarakat. Namun mereka berdalih jika hidup ini butuh materi dan tak mungkin anaknya diberi makan cinta. Itu tak akan mengenyangkan putri perawan kesayangan mereka. Bukankah itu menciderai makna suci cinta?

Memang benar, cinta tak bisa mengeyangkan karena tak bisa dimakan. Namun cinta bisa memberi rasa tentram dalam hidup bahkan sebagai pelecut semangat untuk merengkuh materi kehidupan. Bersyukurlah jika kita masih memiliki cinta dihati kita, karena itu menandakan kita masih memiliki hati nurani yang tak dikuasai nafsu semata. Cinta itu membebaskan kita dari belenggu apapun, karena cinta yang tulus tanpa syarat apapun yang mengikatnya. Cinta itu indah, mampu memberikan kehangatan dan keceriaan bagi setiap insan yang pernah jatuh pada kata itu.

Cinta tak seharusnya terbelenggu oleh adat istiadat, berbagai macam perbedaan yang menjurus pada perbedaan kelas dan segala tetek bengek hierarkis dalam masyarakat. Cinta adalah kisah klasik yang tak lekang oleh zaman dan terukir menjadi sejarah bagi setiap insan. Beribu kisah cinta dua sejoli yang terpatri dan melegenda dalam imaji sebelum tidur kita. Kisah cinta luar negeri yang termashyur Romeo-Juliet suatu cerita yang ditulis ulang oleh William Shakespeare, lalu ada pula kisah cinta di negeri 1001 malam, Laila-Qais (majnun). Di bumi pertiwi juga banyak beberapa kisah cinta termahsyur yang digubah oleh penulis klasik, seperti kisah cinta Siti Nurbaya-Syamsul Bahri, Zainudin-Hayati, serta Hamid-Zainab. Beberapa kisah tersebut hanya sebagian dari ribuan kisah cinta yang pernah ada dan tak lekang oleh waktu.

Semua kisah cinta tersebut adalah potret kisah cinta rumit, terhalang oleh tingginya tembok perbedaan bahkan berakhir dengan tragis dalam kedukaan. Romeo-Juliet lebih memilih mati bersama dalam kedamaian daripada kisah cintanya tak direstui sepanjang masa oleh keluarga mereka yang tengah berkonflik.

Di Negeri 1001 malam, Laila yang tengah setia menanti Qais harus kalah atas budaya patriarki dan menikah dengan orang yang tak dicintainya. Namun, Cinta sejati Laila hanya untuk Qais dan begitu pula sebaliknya. Mereka menikmati kegilaan (majnun) karena cinta hingga ajal menjemput.

Siti Nurbaya terpaksa menikah dengan orang yang tak dicintainya sebagai upaya membebaskan keluarganya dari jerat hutang. Perasaan cintanya tak pernah surut untuk Samsul Bahri hingga ia memilih kabur dari Padang ke Batavia. Tentu saja itu melanggar adat dan memperuncing konflik di tanah Padang. Siti Nurbaya meninggal membawa sejuta cintanya dan demi membalas kematian Siti, Samsul pun rela mempertaruhkan nyawanya. Jasad kedua sejoli yang saling mencinta itu terkubur berdampingan.

Dua kisah cinta termahsyur yang terhalang tembok perbedaan adalah gubahan karya Hamka, “Di bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck“. Potret kisah cinta Hamid-Zainab yang terhalang oleh perbedaan kelas sosial, hingga akhirnya Hamid lebih memilih untuk memendam perasaan cintanya pada Zainab. Kekalutan dan patah hati membuat Hamid merantau hingga sampai ke tanah suci Mekah. Hamid meninggal dihadapan Ka’bah, memanjatkan do’a ketika mengetahui kekasih yang sangat dicintainya Zainab telah pergi mendahuluinya.

Van Der Wijck kisah Zainudin yang tak bersuku jatuh hati pada kembang desa Minang, Hayati. Kekokohan adat yang tak lapuk oleh zaman dan tak lekang oleh waktu memisahkan mereka. Hayati memilih menikah dengan orang yang beradat, berlembaga dan mapan secara sosial atas desakan keluarganya. Sebagai perempuan, dia tak dapat menolak permintaan para tetua adat di kampungnya, meskipun Zainudin tetap dihatinya. Zainudin yang sakit hati mampu bangkit dari keterpurukan disaat Hayati tertimpa kemalangan dan menjadi janda. Rasa sakit hati Zainudin dimasa lalu membuat rasa cintanya tertutup rasa sakit hati itu. Tanpa sadar Zainudin mengabaikan Hayati yang telah rela menebus kesalahan dan ingin menjadi istrinya. Hingga akhirnya maut memisahkan mereka. Hayati meninggal karena kapal Van Der Wijck yang ditumpanginya ketika hendak pulang ke Padang tenggelam. Zainudin tak dapat menutupi rasa dukanya ditinggal orang yang sangat dicintainya selama ini hingga ajal menjemputnya.

Potret kisah cinta klasik nan tragis dan terhalang oleh tembok perbedaan itu juga bisa terjadi di zaman sekarang ini. Tak sedikit pula perawan kembang metropolitan menjadi korban keadaan yang cukup rumit dalam perjalanan kisah cintanya. Mereka tak bebas mengekspresikan perasaannya karena restu orang tua yang tak kunjung datang. Bahkan perbedaan kelas sosial, ekonomi hingga latar belakang keluarga masih menjadi tembok penghalang dalam perjalanan kisah cinta mereka. Itu sangat menjadi beban bagi sang perawan kembang metropolitan. Cinta menjadi hal yang patut diperjuangkan terlepas dari ribuan hingga jutaan perbedaan yang menghalangi. Cinta tetaplah cinta tanpa memandang beribu perbedaan yang ada. Cinta tak mengajarkan kita mencari sosok yang sempurna, melainkan sosok yang bisa “melengkapi” agar kita sempurna dalam hidup. Tak penting seberapa banyak perbedaan yang menjadi jurang pemisah, akan tetapi cinta selalu bisa mempersatukan. Seperti yang diutarakan oleh Soe Hok Gie dalam puisi Sebuah Tanya “kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta“.

By: DinDyNa

To My Inspiration and My Imagination

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s