Parodi Kehidupan di Warung Kopi

Warung Kopi Nenek Tua Pasar Sayur Magetan

Sinar mentari begitu berkilau bahkan tak sanggup dipandang dengan mata telanjang. Panasnya begitu menyengat kulit manusia yang diterpanya. Tampak seorang pria mulai muak dengan kondisi jalanan yang macet. motornya berhenti disebuah warung kopi. Sepertinya dia ingin sekedar berisitirahat melepas lelah. Sesaat dia telah mendaratkan badannya di kursi kayu dalam warung sambil memesan segelas kopi. wajahnya tampak kusut nyaris saja sama seperti kemeja yang tengah dia gunakan saat ini. Dia memijat pelipisnya sambil memandangi amplop coklat besar ditangannya. Perlahan dia meremas dan membuang amplop itu ke keranjang sampah. mungkinkah dia telah putus asa mencari lapangan pekerjaan di negeri ini? Ribuan mahasiswa dikukuhkan (diwisuda) setiap tahunnya, namun pada realitasnya urusan mendapat pekerjaan bagai mencari jarum ditumpukan jerami.

Dia meneguk kopinya dengan khidmat sebelum pandangannya terusik karena kedatangan seorang ┬ápria paruh baya. Tampilan pria paruh baya itu tampak lusuh dengan wajah kuyu. Suaranya yang parau berkata pada penjaga warung, “saya minta kopinya segelas“. Penjaga warung seolah acuh memandangnya dan sesaat kemudian menanggapi permintaannya, “hutang yang kemaren saja belum bayar, sekarang masih minta kopi gratisan. enak aja..saya juga butuh duit. Semuanya serba mahal sekarang“. Pria paruh baya itupun berlalu dari warung. Kerongkongannya tetap kering diterik siang ini. Langkahnya membelah keramaian jalanan yang tak ramah.

Sirine polisi memekik di jalanan diikuti segerombolan motor dan mobil yang meneriakkan nama seorang calon legislatif. Stiker, pamflet, poster dan spanduk berisi nama calon legislatif itu bertebaran di jalanan. Semua terlibat euforia kampanye pileg. Para simpatisan berteriak dan berseru agar semua masyarakat memilih caleg yang mereka kampanyekan. Bak SPG handal yang menawarkan barang dagangannya agar menarik pembeli. Bedanya, dalam konteks ini mereka menawarkan caleg atas nama perubahan dan kesejahteraan rakyat. Mereka seolah ingin menghegemoni masyarakat agar caleg itu bisa melenggang ke senayan. Para simpatisan itu juga tak sadar jika mereka terlibat dalam dunia politik yang kejam, penuh intrik dan bias warna. Mereka dinina bobokan dengan janji kesejahteraan, keterbebasan dari lingkar kemiskinan yang sifatnya utopis pada akhirnya.

Seorang simpatisan caleg menyodorkan stiker pada pengguna jalan, pedagang asongan, penjaga toko dan semua yang tengah asyik bercengkrama dengan jalanan siang. Ahh..sebuah stiker tak sanggup menghidupkan kembali kepercayaan mereka yang terlanjur terkikis itu. Kesejahteraan yang didengungkan pemerintah tak ubahnya seperti kaset rusak, terus berulang memekakkan telinga pendengarnya, namun tak berkesan apapun. Pemandangan begitu menjemukan terus tersaji di jalanan hingga rombongan kampanye itu berlalu.

Aroma antusiasme kampanye para simpatisan tadi masih membekas di jalanan. Stiker dan pamflet masih bertebaran. wajah caleg di stiker tampak tersenyum dengan sejuta pancaran keyakinan akan membela kepentingan rakyat dan mensejahterahkannya. Entahlah apa keyakinan itu akan tetap tumbuh subur dan tak terciderai oleh kepentingan pribadi bahkan golongan? Siapa yang tau beberapa tahun kedepan wajah caleg itu menjadi konsumsi publik karena aksi korupsinya yang mulai terkuak. Seperti yang saat ini terlihat di layar televisi warkop tadi.

Diberita tersiar kabar jika seorang pejabat legislatif menjadi tersangka kasus korupsi yang merugikan negara hingga milyaran rupiah. Itu bukan hal yang mengejutkan lagi. panggung politik kini ramai oleh aktor berbakat yang berhasil meraih suara simpati rakyat namun sekaligus merangkap sebagai koruptor ulung. Koruptor juga dihukum? jelas saja dihukum, namun proses hukumnya berbelit terkesan tak tegas bahkan vonis hukuman yang diberikan dirasa tak memberi efek jera. Itu semua tak lepas dari usaha sang koruptor menyewa jasa pengacara handal yang bisa memperingan vonis hukumannya. Tak jarang juga pada masa tahanan mereka (koruptor) masih memperoleh fasilitas yang dikatakan mewah. uang hasil korupsi mereka sanggup menyulap tempat tahanan menjadi hunian senyaman mungkin bagi mereka. Itu menandakan proses hukuman yang mereka jalankan secara tak kasat mata berbeda dengan rakyat jelata. Namun satu hal yang sama, mereka (koruptor) juga berhak mendapat remisi sama seperti tahanan lain dengan kasus ringan.

Berita ditelevisi tadi tak mampu membuat penonton di warung kopi fokus menyaksikannya. Perhatian para pengunjung warung teralihkan kepada peristiwa penangkapan dan pengeroyokan seorang maling dijalanan. seorang pria paruh baya digiring massa setelah mendapat pukulan sebelumnya karena ulahnya mencuri dompet. Ya.. pencuri itu adalah bapak yang tadi ingin meminta kopi di warung. Untuk membasahi kerongkongan dan mengisi perutnya yang kelaparan dia terpaksa mencuri dompet. Dapat dikatakan perbuatan kriminal yang dilakukannya akibat kehidupannya yang tak sejahtera. Parahnya lagi dia dihakimi massa bahkan bukan tidak mungkin dia digiring ke kantor polisi untuk bertanggung jawab atas kelakuannya. Sudah barang tentu dia tidak akan dibela oleh seorang pengacara handal untuk memperingan vonis hukumannya. Bayangan tubuh ringkihnya akan menghuni dinginnya hotel prodeo pun menunggu di depan mata. Hukum yang katanya pisau keadilan, kini mulai tumpul bahkan berkarat karena diskriminasi antar kelas. Bagi orang berduit, hukum selalu menawarkan penyelesaian terbaik. Berbanding terbalik dengan orang miskin yang pasrah dan benar-benar merasakan efek dari hukum bahkan ketidakadilannya. Serangkaian sebab-akibat sebuah fenomena saling terkait bak lingkaran yang tak putus-putusnya meninggalkan jejak bias. Tak ada lagi hitam-putih, benar-salah, wajah keadilan tak lagi terlukis jelas dimata hukum.

Lantas bagaimana kabar pemerintah?

Pemerintah sibuk mendengungkan program kesejahteraan masyarakat. Pemerintah sibuk mengurus dolar yang merosot. Pemerintah asyik mengoreksi harga bbm yang katanya menuai kerugian negara jika harganya tak dinaikkan. Pemerintah sibuk mempersiapkan diri menyambut datangnya Masyarakat Ekonomi Asean (pasar bebas) agar dapat bersaing dengan negara lain. Syukur-syukur jika bisa bersaing, akan lebih parah jika kedatangan MEA menggrogoti jati diri bangsa secara perlahan dan semakin menindas rakyat proletar. Pemerintah juga sibuk menjaga eksistensi diri ditiap lembaganya bahkan beradu kekuatan untuk menunjukkan legitimasinya dimata rakyat, hukum dan negara. Sungguh pemerintah sibuk sekali.

Semoga mereka benar-benar sibuk dan tenggelam karena memperjuangkan kepentingan rakyat bukan karena golongan ataupun pribadi. Jika pemerintah sudah sibuk dan giat bekerja, diharapkan ada progress dalam kesejahteraan rakyat. Lantas apa kabar dengan kesejahteraan rakyat? atau bagaimana kabar para koruptor yang turunannya masih hidup makmur berbanding terbalik dengan rakyat diluar sana yang masih saja meronta dan berpikir esok makan apa…

By: DinDyNa

Mencoba mendengar, merasakan dan berimajinasi