Cerita Perempuan Halte Bus

page

Aroma basah menyeruak diindera penciuman. Air menjelma menjadi jarum kecil yang jatuh dari langit. Ribuan jarum kecil itu menghujam bumi, menusuk dedaunan dan membelai angin. Kota metropolitan mendadak basah seketika ditengah kepadatan aktifitas manusia. Seorang perempuan termenung disudut halte. Perempuan yang tergolong masih muda, namun kesulitan dalam hidup mengguratkan kelelahan dan beban diwajahnya. Wajahnya murung, namun sorot matanya penuh pengharapan menunggu pembeli menjamah kue yang dijualnya. Sudah beberapa hari ini pendapatannya menurun, kuenya tak laku. Penumpang bus sepi tak seramai biasanya. Bus mogok massal akibat BBM yang selalu labil. Begitulah penguasa selalu punya andil mempermainkan nasib rakyat kecil, nasib perempuan penjual kue ini.

Gerimis tetap asyik menari diiringi suara halilintar yang menggema. Tak ada rasa khawatir diwajah seorang perempuan yang tengah duduk menyilangkan kaki di halte bus. Sesekali dia mengambil kaca dari dalam tasnya untuk menilik polesan make up wajahnya. Terasa ada yang kurang, diapun asyik memoleskan lipstick warna merah senada dengan pakaian seksinya. Merah warna yang begitu menggoda dan sensual. Setelah merasa puas dan percaya diri, dia melirik jam bermerk yang melingkari tangannya. Wajahnya tampak cemas sesaat, sebelum akhirnya mobil audy hitam berhenti didepannya. Lelaki setengah baya keluar dari mobil. Perempuan itu bergelayut manja dengan suara serak merajuk memanggilnya om. Sang “om-om” itu merangkul posesif pinggang si perempuan seksi hingga memasuki mobil. Sesaat kemudian mobil berpacu menjauhi halte bus.

Bus berhenti di halte membelah tarian gerimis untuk sesaat. Beberapa penumpang turun dari bus. Tampak seorang perempuan berlari-lari kecil menuju halte. Diusapnya rambut dan blazer kerjanya yang basah. Tampilannya menunjukkan jika dia seorang perempuan yang bekerja di ranah publik, mandiri, sukses bahkan berkelas. Itu tampak dari aksesoris merk terkenal melekat pada tubuhnya. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan Smartphone dari dalam tas Luis Vuitton miliknya. Sayup-sayup kudengar dia sibuk menelpon membicarakan bisnisnya dan memberikan sederet instruksi kepada orang yang ditelpon. Sesaat setelah menelpon kulihat dia termenung memandangi gerimis.

Matanya sayu dan butiran kristal bening sukses membasahi pipi mulusnya. Seorang lelaki tiba-tiba datang menghampiri dan memeluknya, begitu lekat dan larut akan suasana. Bahu si perempuan semakin terguncang dan ledak isakan tangis semakin terdengar. Sepuluh menit berlalu dan pelukan itu berakhir dengan tragis. Tiba-tiba lelaki yang sedari tadi memeluknya jatuh tersungkur karena bogem mentah sukses mendarat diwajahnya. Seorang lelaki parlente mengibas-ngibaskan jas yang tak rapi karena aksi pemberian bogem mentah itu. Sepasang suami-istri tampak menarik paksa si perempuan untuk menjauh dari kedua lelaki itu. Isak tangisnya semakin menjadi kala sang lelaki perlente memukuli dengan brutal pujaan hatinya. Dia dipaksa masuk kedalam mobil BMW oleh kedua orang tuanya. Peristiwa itu ditutup dengan kecaman dari pihak si perempuan terhadap lelaki pujaan hatinya.

“Jangan pernah kau dekati anakku lagi., sadar diri dong..kau anak miskin. Anakku lebih pantas dengan orang yang sederajat. Dia sudah saya jodohkan dan minggu depan dia akan menikah dengan nak Rendra”, kata lelaki setengah abad sambil menepuk pundak si parlente yang kuketahui namanya Rendra itu.

Ku menyimpulkan, Cinta beda kelas sosial rupanya..tidak bukan hanya sekedar cinta beda kelas., sedikit budaya patriarki juga membumbui kisah perempuan yang sukses dalam karirnya tadi. Sukses dunia karir, namun sayang hidupnya tak merdeka sepenuhnya.

Masih di tempat yang sama. Perempuan penjual kue menatap penuh harap pada langit. Langit menghentikan tangisnya, gerimis tak lagi menari lincah. Namun, sesekali gerimis masih bergelayut manja didahan pohon. Beberapa saat kemudian muncul seorang bocah laki-laki berlarian ke arah perempuan penjual kue itu. “ibu..ibu.. adik menangis terus. Dia berteriak meminta susu..susunya habis. Aku juga lapar bu..”, rengek si bocah laki-laki itu.

Ada guratan bingung diwajahnya. Dia mencoba menenangkan si bocah hingga akhirnya si bocah pergi berlalu dari halte. Perempuan penjual kue itu bergegas untuk kembali mejajakan kuenya. Seolah mendapat suntikan semangat dari buah hatinya. Dia tak lagi mempedulikan dinginnya aroma yang ditinggalkan gerimis. Perempuan itu bergerak lincah kesana-kemari menuju kemacetan jalanan yang semakin tak ramah. Dia jajakan kue yang menjadi pengharapan terakhirnya membelikan sang anak makanan. Langkahnya terhenti, lengannya ditarik paksa oleh seorang lelaki bertubuh tinggi tegap ke tepian jalan.  Dia sekuat tenaga berusaha menepis dan menghalaunya, namun terlambat, lelaki itu mengeratkan genggamannya. Diapun meronta berusaha memohon agar si lelaki melepaskan cengkraman itu.

“Lepaskan..!!”, pekiknya.

“Kapan kau bisa membayar semua hutang suamimu itu..!! mati ninggalin hutang bukannya warisan. Kalau tak sanggup bayar bilang dong.., kamu nggak usah usaha keras buat cari uang. cukup jadi wanita simpananku saja”, kata lelaki itu dengan nada yang mulai meninggi dan sarkastis.

Dia menatap tajam dan nanar ke arah pria itu sambil berujar., “lebih baik aku mati dalam keadaan miskin daripada harus jadi budak bagi lelaki bejat sepertimu..” dengan sekali sentakan dia berhasil melepaskan cengkraman sang lelaki. Tak hanya itu dengan spontan dia menendang kelemahan lelaki itu hingga jatuh tersungkur. Untuk ukuran seorang perempuan, dia sepertinya lihai dan cekatan menghadapi situasi yang seperti ini. Mungkin balutan kejamnya kehidupan jalanan menjadikannya tangguh. Diapun berlari membawa sisa kue yang tadi sempat terjatuh di aspal jalanan. Kuharap dia bisa benar-benar melarikan diri dari lelaki bejat tadi.

Rasa sayang menempanya menjadi perempuan tangguh. Harga dirinya masih dijunjung tinggi tak mudah lapuk karena materi. Dia tak kalah oleh intimidasi kaum adam. Mungkin faktor cinta juga berpengaruh disini? Cinta dan sayangnya pada almarhum suami dan buah hatinya, harta terakhirnya di dunia yang keras dan tak ramah ini.

Siang berganti sore membawa senja datang dan kembali keperaduannya. Bintang tampak malu-malu menampakkan sinarnya kala malam datang. Bulan datang membawa sejuta sinarnya tuk temani sang bintang. Lalu lalang kendaraan menambah dramatis suasana malam ini. Cahaya lampu temaram menerpa halte bus yang cukup lengang. Ada beberapa kumpulan anak jalanan tengah mendendangkan lagu menambah syahdunya malam ini. Wajah polosnya berharap ada sebagian orang berkendara yang lalu lalang mau membayar ketika menikmati sajian musik mereka. Dengan riang mereka memecah jalanan pelataran zebra cross tepat dirambu lampu merah. Mereka mendendangkan lagu-lagu syahdu menghibur pengguna jalan.

Tepat disudut halte bus, tampak dua perempuan terlibat pertengkaran hebat dan seorang lelaki mencoba melerai mereka. Ooh..ternyata dia, perempuan seksi berlipstick merah yang tadi siang bergelayut manja pada seorang om-om. Ya..om-om itu sekarang tengah kewalahan melerai pertengkaran hebat ini. Pertengkaran yang menurutku terjadi karena cinta terlarang, cinta rahasia, perselingkuhan bahkan karena perempuan penggoda berlisptick merah sukses menjerat om-om tajir hidung belang yang statusnya tak lajang lagi. Pertengkaran yang melibatkan adu fisik itu berakhir dengan kepergian rival sang perempuan penggoda. Si om-om tajir hendak meninggalkan gelanggang pertengkaran itu, namun ditahan oleh perempuan lipstick merah.

“Kau tak bisa pergi begitu saja. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Berikan cek kosong yang kau janjikan., atau aku akan memberitahukan kepada istri simpananmu yang lain kalau kau ini pria kolektor wanita?”, sergah perempuan penggoda dengan senyum sinisnya.

Lelaki itu segera mengeluarkan selembar cek kosong dan beberapa lembar uang dengan nominal besar. Perempuan penggoda itu cukup cekatan dan segera merebut semua yang ada ditangan si lelaki hidung belang. Lelaki itu menatap tajam seolah melecehkan dan berkata, “dasar wanita pelacur rendahan..!”.

“Aku memang pelacur., tujuanku jelas kerja untuk dapat uang. Lalu istri simpananmu apa? Wanita bodoh yang mengharap cintamu dan rela menjadi penghiburmu.!,” balasnya itu dengan nada dan senyum meremehkan. Tak ada perdebatan panjang setelah itu, hingga lelaki hidung belang memacu audy hitamnya meninggalkan si lipstick merah.

Dibawah temaram cahaya bulan perempuan berlipstick merah itu duduk merenung di halte bus. Pandangannya kosong. Sesekali ia mengerjapkan matanya. Tanpa sadar air mata membasahi pipi mulusnya. Entah apa yang berkecamuk dalam dirinya. Menyesalkah ia telah melakukan pekerjaan yang dianggap nista dalam norma kehidupan masyarakat? Bukankah ia melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Namun aku rasa tak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang bermimpi bahkan bercita-cita sebagai pelacur. Situasi kondisi dan lingkunganlah yang menjerumuskan mereka ke dunia hitam itu bahkan sulit untuk keluar.

Masih hanyut dengan lamunan bahkan ratapannya, perempuan berlipstick merah itu termangu menatap jalanan ramai, namun tampak kosong dimatanya. Beberapa saat kemudian sekumpulan bocah dan anak remaja menghampirinya. Mereka mendendangkan sebuah lagu. Tampaknya perempuan itu mulai terhibur. Senyum menawan merekah diwajahnya mengganti gelayut dukanya. Hingga lagu itu selesai dinyanyikan dan ungkapan terimakasih meluncur dari bibir para bocah itu. “kakak..terimakasih ya.. karena bantuan kakak kami bisa sekolah bahkan panti tidak jadi digusur”, kata seorang bocah lelaki yang tengah duduk bersimpuh didepannya.

Senyum tulus mengembang dari bibir berlipstick merah itu. Dengan pandangan menerawang jauh diapun berkata, “Kakak akan lakukan apa saja agar kalian tetap sekolah. Kakak juga tidak akan tinggal diam jika ada orang yang seenaknya mau menggusur panti tempat tinggal kita selama ini”, suaranya bergetar dipenghujung kalimat. Mereka kembali berpelukan sebelum akhirnya beranjak meninggalkan halte bus itu.

Perempuan itu rela melakukan apa saja demi kebahagiaan orang lain. Dia rela menanggalkan kemerdekaan diri yang berhak dia rengkuh sebagai manusia. Bahkan dia juga berani melawan norma kehidupan serta ganasnya cacian masyarakat terhadapnya dengan kekuatan hati. Dia bertahan dengan keterpaksaan ini dan mencoba melawan waktu. Mungkin kelak akan ada penyesalan atas apa yang dilakukannya ini, membahagiakan orang lain dengan cara yang tak membahagiakan dirinya.

Sulit mengerti dan memahami perempuan, karena perempuan tak bisa dipandang dalam satu sudut pandang saja. Bisa dikatakan perempuan itu multidimensi. Tampak lemah namun punya sejuta kekuatan terpendam. Terkadang terlihat tegar, namun rapuh. Jutaan pesonanya mampu menjadikannya sebagai makhluk luar biasa menakjubkan dan didamba. Akan tetapi sayangnya, pesona itu jualah yang mampu merenggut kemerdekaannya sebagai manusia.

Lantas siapa aku?

Bukan Srikandi, perempuan tangguh yang rela menukar kewanitaannya demi masuk ke medan perang.

Bukan Cleopatra, ratu dunia mempesona yang mendayagunakan cinta untuk segala ambisinya.

Bukan pula Helena, perempuan dalam legenda Troy yang menyebabkan pertumpahan darah karena kisah cintanya.

Aku perempuan pengembara, bebas terbang dan merdeka.

Aku bangga terlahir sebagai perempuan dengan jutaan sisi mengagumkan.

berusaha menghargai dan mencintai diri sendiri namun tak mau melukai orang lain.

Malam semakin larut saja. Bulan dan bintang terlihat saling mesra menyinari satu sama lain. Ku teguk habis sisa kopi dicangkir dengan corak bunga yang menawan. Entah sudah berapa cangkir yang kuhabiskan sembari menyaksikan balada perempuan-perempuan halte bus ini.

By: DinDyna

Hujan selalu menginspirasi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s