Beauty Is..

11084837_418831458278102_388915033_n

“Cantik” kata itu sudah sangat umum didengar jika berkaitan dengan yang namanya kaum hawa. Apa yang ada dipikiran kalian jika mendengar kata “cantik”? Mungkin akan banyak definisinya sesuai dengan interpretasi kalian masing-masing. ingatan saya melayang ketika duduk dibangku perkuliahan. Salah seorang dosen pernah bertanya tentang definisi cantik kepada tiap mahasiswanya yang tengah mengikuti kuliahnya. Jawaban yang dilontarkanpun sangat beragam mulai dari yang terdengar mainstream sampai pada yang imajinatif dan unik.

“cantik itu bersih, putih..

“cantik itu natural..

“cantik itu sederhana..

“cantik itu cerdas..

“cantik itu seksi..

“cantik itu ibu saya..hehe”

Semua jawaban itu tidaklah salah, tetapi benar menurut versi setiap individu. Tak ada hal yang melampaui kebenaran jika berkaitan dengan interpretasi, karena seyogyanya seluruh hal yang ada didunia bergantung pada interpretasi kita. Semua yang ada didunia ini adalah pemaknaan yang manusia buat sendiri. Begitu pula dengan kata cantik yang memiliki beragam definisi. Makna cantik terkadang dibentuk oleh sebagian orang yang benar-benar memiliki kuasa bahkan tak jarang juga melibatkan sebuah media di era modern ini.

Secara umum, kata cantik identik dengan dunia perempuan. Namun taukah engkau, jika kata cantik itu juga bisa membahayakan perempuan di era modern ini. “Cantik” di era modern ini memiliki keterlekatan dengan dunia eksploitasi kaum perempuan. Cantik merupakan sebuah bentuk pemankaan atas tubuh atau secara fisik perempuan.

Dalam dunia iklan, tubuh perempuan acapkali dieksploitasi untuk kepentingan komersil. tubuh perempuan dijadikan objek ekspolitasi untuk keuntungan komersil dan menarik minat para konsumen. Seperti halnya iklan sabun kecantikan, hand body, parfume dan lainnya. Hal tersebut tanpa disadari oleh para perempuan. Dalam iklan yang syarat ekspolitasi tubuh tersebut juga terselip eksploitasi ideologi yang tersaji manis dalam slogan serta pemaknaan iklan yang ditampilkan. misalnya saja” jika menggunakan sabun ini, kulit akan putih bersinar seperti mutiara”. Tidak hanya produk kecantikan yang katanya membantu seorang wanita buruk rupa bertransformasi menjadi cantik bak puteri negeri dongeng, saat inipun muncul berbagai macam teknologi kecantikan. Beragam teknologi kecantikan, seperti alat pelangsing dan pembentuk tubuh menjadi ideal, alat pengencang wajah dan beragam lainnya yang katanya dapat mempermak tubuh peremuan menjadi lebih menarik.Tak jarang perempuan terhegemoni, seolah percaya dengan apa yang ada di iklan tersebut. sungguh dunia iklan begitu rapi mengemas pengaruh tersebut hingga diterima oleh masyarakat khususnya perempuan.

Lalu bagaimana dengan era tradisional ratusan tahun yang lalu. Cantik itu seperti apa?

Saya akan mengambil contoh konstruksi “cantik” ala orang Madura. Dalam sebuah tembang yang sering didendangkan, definisi cantik ala orang Madura itu adalah perempuan dengan kulit kuning langsat dan tubuhnya anggun ketika berbusana apa saja. Jika berbicara tentang tubuh yang anggun maka akan mengarah pada perpaduan tubuh yang langsing (ideal) dan bahasa tubuh anggun yang dapat kita lihat melalui cara berjalan. Perempuan bangsawan di Madura khususnya area Keraton akan senantiasa menjaga bentuk tubuhnya agar tetap langsing (ideal). Hal tersebut dibuktikan dengan temuan benda peninggalan sejarah yang ada di Museum Keraton Sumenep.

Saya sangat tertarik jika mengamati barang peninggalan sejarah di Museum Keraton Sumenep. Perhatian saya tertuju pada beberapa perangkat perhiasan yang digunakan oleh puteri keraton Sumenep jaman dahulu. Ada beberapa tusuk konde, kalung dan gelang kaki. Disetiap perhiasan tersebut tertera keterangan, ciri barang dan fungsinya. Saya membaca fungsi dari gelang kaki puteri keraton tersebut. Disana tertera “fungsi: untuk menguatkan otot kaki, melangsingkan dan kaki akan tampak indah ketika berjalan”. Itu menarik, karena menurut saya, gelang tersebut termasuk teknologi kecantikan dimasanya. Gelang yang berfungsi untuk menjaga tubuh khususnya kaki sang puteri agar senantiasa menarik. Namun jika melihat bahan dan ukuran gelang kaki tersebut, rasanya sangat berat ketika dipakai. Bukankah itu sangat menyulitkan gerak langkah sang puteri ketika berjalan, terlepas dari perbedaan fisik orang zaman dahulu dan sekarang. Imajinasi saya terus bergerilya membayangkan betapa menyiksanya ketika gelang kaki tersebut menempel dikaki sang puteri. Bahkan ketika ada marabahaya yang mengharuskannya berlari tanpa pertolongan siapapun, sang putri bisa saja terjatuh karena benda tersebut. Namun bagi mereka benda tersebut memiliki makna yang berbeda yakni sebagai penunjang kecantikan. mungkin pepatah “Beauty is pain” benar adanya jika membayangkan kisah puteri Keraton diatas.

Tak hanya zaman dulu, namun pepatah tersebut juga berlaku hingga saat ini. Fenomena operasi plastik untuk mendapatkan wajah yang menawan sudah tak asing lagi dikalangan perempuan saat ini. Sakit? tentu saja, namun mereka bertahan untuk mendapatkan wajah menawan sekaliber artis papan atas. sepertinya “Beauty is pain” telah menjad kalimat ajaib bak obat bius penghilang rasa sakit untuk mempercantik diri. Namun sayang cantik yang mereka dapatkan kesemuan belaka bukan karya anggun sang ilahi.

Bukankah cantik itu terpancar dari dalam diri tanpa rasa sakit dan belenggu.

Cantik itu keseimbangan antara jiwa, pikiran dan ragawi.

Cantik itu adalah kita yang dapat menikmati hidup dan selalu bersyukur atas setiap anugerahNya.

Cantik itu adalah kita yang mencintai diri kita dan selalu peduli sesama.

Karena Cantik itu bukan hanya apa yang bisa dilihat, namun apa yang bisa dirasakan dan meninggalkan kesan

Cantik itu adalah kita semua, perempuan.!

Beauty is not pain, Ladies!

by: Dina Kholidah

only for U, Ladies

Iklan