Merdeka Berbagai Versi

semangat_kemerdekaan_by_lachi17

Hari ini negaraku berulang tahun yang ke 70. Usia yang sangat tua jika dibandingkan dengan manusia. Tapi itu belum seberapa bro.., jika dibandingkan dengan lamanya bangsa asing menjajah kita. Sekitar 350 tahun lamanya kita dijajah oleh bangsa asing. Usia ke 70 tahun bisa dikatakan masih kategori anak-anak jika kita melihat lamanya waktu penjajahan.

Seperti biasa seluruh masyarakat di pelosok negeri ini turut serta memeriahkan HUT Indonesia tercinta setiap tahunnya, khususnya hari ini. Beragam perlombaan pun dilaksanakan untuk memeriahkan HUT negeri ini. Kalian jangan membayangkan aku ikut lomba makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol dan segala jenis perlombaan lainnya. Aku saja malas membayangkannya. Bukannya aku takut kadar kegantengan atau peseona keceku akan berkurang setelah ikut perlombaan-perlombaan itu. Asal kalian tau saja, aku selalu rajin ikut perlombaan itu hingga usiaku remaja, namun tak pernah sekalipun aku menang. Jujur, itu membuatku malu. Tapi setidaknya aku turut berpartisipasi dalam memeriahkan HUT negeriku (Membela diri). Kuharap kalian tak menertawaiku! karena aku tau kalian menang karena curang kan? atau kalian bernasib sama sepertiku belum pernah menang hehehe..

Hari ini aku menghabiskan waktu di warung kopi langgananku. Letak warung cukup strategis dipinggir jalan dan dekat dengan tanah lapang. Siang menjelang sore kulihat keramaian di tanah lapang. Ternyata ada perlombaan 17 Agustusan yang diikuti oleh warga sekitar terutama anak-anak. Mereka sangat antusias mengikuti perlombaan itu. Menurut mereka, semangat para pejuang tempo dulu untuk meraih kemerdekaan haruslah senantiasa diteladani. Oleh karena itu, jasa para pejuang patut dikenang dan diapresiasi selamanya.

Perjuangan para pahlawan kita sangat luar biasa berat. Mereka rela mengorbankan apapun yang mereka miliki sekalipun bertaruh nyawa di medan perang demi merebut kemerdekaan bangsa kita. Bagi para pejuang merdeka itu terbebas dari belenggu penjajah asing yang telah sekian ratus tahun lamanya berkuasa atas bangsa dan tanah kita. Itulah merdeka versi pejuang atau pahlawan bangsa terdahulu.

Bagi bang Joni makna kemerdekaan berbeda. Dia bekerja sebagai buruh disalah satu pabrik tekstil. Bekerja melebihi batas waktu dengan jumlah upah termasuk kategori dibawah standart UMR. Waktu yang tercurah bagi keluarganya sangat sedikit, mungkin bisa dibilang dia bekerja pagi pulang pagi seperti lagunya Armada Band..hehe. Tentunya semua itu dia lakukan untuk keluarganya. Merdeka baginya adalah ketika dia bekerja dengan waktu normal dan upah sesuai standart UMR. Bang Joni sebenarnya ingin meneriakkan: “Bebaskan aku dari belenggu eksploitasi!”

Lain lagi ceritanya bagi mbok Asih, dia seorang janda dan bekerja sebagai pelayan di warung kopi langgananku. Sebagai seorang janda, dia menggantungkan hidupnya dari hasil jerih payahnya bekerja di warung. Seperti sang pejuang, dia tak gentar menghadapi tantangan perekonomian yang semakin pelik untuk menghidupi kedua anaknya pasca ditinggal suaminya setahun lalu. Dulu suaminya meninggal karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Saat itu, untuk makan saja sangat sulit apalagi untuk membawa suaminya berobat. Keadaan menjadi darurat ketika sakit suaminya semakin parah. Berbekal uang seadanya dia berangkat ke puskesmas. Menurut pihak puskesmas suaminya harus segera dirujuk ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan secara intensif. Merawatnya di RS adalah suatu keharusan meskipun biaya tak akan mampu mereka bayar. Atas saran dari sodaranya, dia mengurus surat keterangan tak mampu diwilayah tempat tinggalnya dan membawa kartu jamkesmas. Itu dilakukannya dengan harapan untuk meringankan biaya pembayaran. Namun, apa daya harapannya pupus setelah ditolak oleh beberapa rumah sakit dengan berbagai alasan, seperti: Rumah takit tidak melayani pasien jamkesmas atau kamar penuh dan segala macam alasan yang kejam menurutku. Akhirnya, suami mbok Asih diterima disalah satu rumah sakit. Namun naas kembali menimpanya, suaminya meninggal dan terlambat mendapat penanganan. Sungguh ironis bukan, RS yang pada hakikatnya untuk merawat dan menyembuhkan orang sakit, justru bersikap apatis hingga menghilangkan nyawa orang. Rasanya betul sekali kalimat ini “Orang miskin dilarang sakit“. Bagi mbak Asih merdeka itu, Jika orang miskin tak takut sakit karena mereka tak dilarang berobat. Pemerintah benar-benar menjamin akses pelayanan kesehatan bagi kaum marginal sepertinya.

Jika mbok Asih meneriakkan “orang miskin tak dilarang berobat!”, Gofur berkata dengan kalimat berbeda. Baginya “Orang Miskin Harusnya Tak Dilarang Sekolah!“.

Gofur adalah anak berusia 14 tahun. Dia sempat mengenyam pendidikan dibangku SMP, namun berhenti karena tak ada lagi biaya. Ibunya seorang buruh cuci dan ayahnya meninggal ketika dia masih kecil. Keinginannya untuk menuntut ilmu sangatlah besar, namun garis nasib tak mendukungnya. Bantuan dari sekolah hanya bertahan beberapa tahun saja dan selebihnya Gofur diminta untuk membayar. Melihat perekonomian keluarganya yang tak mampu, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Gofur memilih bekerja sebagai loper koran dan pedagang asongan untuk membantu ibunya menghidupi ketiga adik kecilnya. Dia selalu iri ketika melihat anak-anak mengenakan seragam sekolah. Impian terbesarnya adalah dapat menuntut ilmu di sekolah lagi bahkan hingga bangku perkuliahan nanti. Itulah makna kemerdekaan bagi Gofur.

Sebenarnya masih banyak lagi versi merdeka bagi sebagian orang yang ingin kuceritakan, namun sayangnya ini akan  memakan waktu dan halaman dicerita ini. Bisa-bisa aku nggak kebagian tempat untuk menceritakan merdeka versiku.

Merdeka bagiku adalah ketika aku bebas mengungkapkan perasaan cintaku pada seseorang. Sayangnya, hingga saat ini aku belum merdeka, sobat. Aku tak berhasil mengungkapkan perasaanku pada seorang gadis yang kucinta. Namanya Camelia, dia temanku sewaktu kuliah. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama sejak kita sama-sama duduk dibangku kuliah. 4 tahun berlalu hingga akhirnya kami lulus, dia bekerja dipulau seberang dan kami terpisah. Aku tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Sejak dulu hingga kini, aku tak pernah ada nyali sedikitpun untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Kisahku berakhir, perasaanku terkubur dan tak merdeka hingga kini. Ya.. bisa dibilang aku adalah “The man who can’t be moved” seperti lagunya The Script meskipun kubelum memulai kisah apapun bersamanya karena “Kasih Tak Sampai” (lagunya Padi) hehehe. Ironisnya, baru kusadari kalau aku bukan pejuang tangguh karena tak memperoleh kemerdekaan itu. Tapi aku berjanji akan mengungkapkan semua perasaan yang bersarang dalam hatiku jika ada kesempatan bertemu dengannya lagi. Namun entah kapan kubisa bertemu lagi dengannya. Mungkin lima, sepuluh, duapuluh tahun lagi kala Indonesia merayakan HUT diusia yang sangat renta. Bahkan kemungkinan buruknya, aku tak bisa menyampaikannya. Itu artinya aku masih dijajah oleh perasaanku dan tak pernah merdeka.

“Itu Merdeka versiku, bro., lantas apa merdeka versimu?”

Inspirasi Kemerdekaan

By Dina Kholidah

Iklan