Refleksi Jodoh : Cerminan Diri

Sudah lama aku tidak mencorat-coret diblog ini. Sore ini aku berkesempatan untuk mencorat-coret lagi. Sebenarnya bahan tulisan ini sudah lama aku dapatkan, hanya saja rentetan kesibukan yang merantaiku, lhoo..kenapa jadi curhat? hehe.

Topik tulisan ini muncul begitu saja, setelah aku mengobrak-abrik percakapan jadulku dengan seseorang. Aku rasa percakapan hasil “sharing” kita, cukup menarik untuk dibahas sepanjang masa, yaitu tentang Jodoh. Silahkan nikmati tulisan hasil sharing kita yang telah kuramu dengan beragam bumbu, semoga rasanya pas dengan selera kalian sebagai pembaca hehe..

tumblr_nkyzlyOoCG1u5cr2do1_1280

Mari kita sejenak berbicara tentang jodoh. Apa yang kalian pikirkan tentang jodoh? Ada banyak persepsi yang muncul sebagai jawaban untuk kalimat tanya tersebut. Misalnya: “Jodoh itu takdir Tuhan” atau “Jodoh itu cerminan diri kita”.

Nah..untuk kalimat terakhir itu, sangatlah familiar didengar. “Jodoh adalah cerminan diri kita”, kalimat ajaib itu seperti candu untuk memupuk keyakinan para kaum single yang tengah menanti datangnya jodoh.

Perkara jodoh memang diatur oleh Allah. Jadi sebagai manusia, kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, melakukan apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi larangan- Nya. apabila kita senantiasa melakukan perintah-Nya (berbuat baik), maka kita akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Itulah yang dimaksud jodoh adalah cerminan diri kita.

Hal tersebut bahkan termaktub dalam Qs. An-Nur 26 “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga)”.

Tentunya kita harus yakin akan hal tersebut. Sebenarnya ayat tersebut memiliki beberapa makna. Jika melihat pada sejarah awalnya, ayat tersebut diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan bin al-Mu’attal r.a. dari segala tuduhan (fitnah) yang ditujukan kepada mereka. Dalam ayat tersebut ingin menunjukkan bahwasanya orang sebaik nabi Muhammad akan mendapatkan istri yang baik pula seperti Aisyah, sehingga apa yang dituduhkan pada Aisyah tidaklah benar. (Mudah-mudahan saya tidak salah karena saya juga mendapatkan dari beberapa refrensi..hehe..).

Awalnya, muncul beragam tanya karena saya bingung. Apakah ayat tersebut merupakan janji Allah pada ummatnya atau hanya sekedar pembuktian atas sebuah peristiwa dimasa itu? Bagaimana sebenarnya tafsir ayat tersebut?

Apabila ayat tersebut juga merupakan janji Allah pada ummat-Nya, namun terkadang kenyataannya tidak selalu demikian dalam pandangan kita. Misalnya ada orang yang baik mendapatkan jodoh yang tidak baik. Mereka terikat perkawinan kemudian mengalami perceraian karena sebelah pihak berselingkuh atau melakukan KDRT. Bukankah itu dapat dikatakan tidak berjodoh?  Lalu bagaimana cara kita mengetahui bahwasanya seseorang tersebut benar-benar jodoh yang telah Allah tentukan untuk kita? Karena pada hakikatnya Allah yang maha Mengetahui dan berkuasa atas segala hal.

Terkait ayat 26 Surat An-Nur tersebut memang ada beberapa makna, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya. Sebab turunnya ayat tersebut memang terkait dengan tuduhan terhadap Aisyah r.a. Sebagian menafsirkannya bukanlah janji Allah, namun perintah Allah, karena ada juga orang yang jodohnya tidak sebaik dia. Misalnya nabi Luth yang istrinya durhaka kepadanya bahkan kepada Allah. Ada Asiyah yang sangat salehah namun suaminya adalah Fir’aun. Hal tersebut pengecualian karena orang tersebut diberi ujian lewat jodohnya yang tidak baik itu.

Sebenarnya jika ada orang yang menikah lalu bercerai, mereka pun juga berjodoh namun hanya jodoh sementara. Nabi Luth dengan istrinya juga berjodoh di dunia, akan tetapi tidak di akhirat,  wallahu a’lam.

Kita tak pernah tahu apakah sebenarnya orang tersebut adalah jodoh kita atau bukan. Bisa jadi setelah menikah beberapa bulan kemudian bercerai. Berarti orang tersebut ditakdirkan menjadi jodoh hanya beberapa bulan saja. Atau ada juga yang malah menikah lagi. Sebenarnya konsep ini penjelasannya panjang kenapa hal tersebut bisa terjadi karena ini berkaitan tentang bab-bab lainnya.

Kita memang tidak tahu pasti apakah itu memang jodoh kita atau bukan karena itu bukan tugas kita sebagai manusia. Semua itu telah menjadi urusan Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Berkuasa atas segala hal. Jalan takdir itu adalah urusan-Nya dan pasti ada kebaikan dibaliknya. Urusan manusia adalah berdo’a agar dikaruniai jodoh yang membuat semakin dekat kepada-Nya, berikhtiar mencari calon yang paling ideal sebagai amal ibadah, dan sebagainya.

Hal yang paling bagus adalah hati sudah memasrahkan masalah jodoh kepada Allah. Untuk itu, terserah kepada Allah mau dijodohkan dengan siapa karena apabila sudah yakin, Allah pasti memilih yang terbaik untuk kita. Hendaklah kita senantiasa memperbaiki diri, fokus kepada Allah, mencari calon yang paling ideal (ini dilakukan sebagai amal ibadah bukanlah semata penentu jodoh karena jodohnya belum tentu orang itu). Akan Tetapi jarang orang yang melakukannya karena sedikit orang yang mencapai derajat ini. Jika ada orang yang melakukan hal tersebut, pada akhirnya justru mereka seringkali mendapatkan yang lebih dari sekedar ekspektasinya (dalam hal jodoh).

Jika kalian ada rasa khawatir takut mendapat jodoh yang tidak baik dan rumah tangganya tidak bahagia kelak, Coba lakukan ini: Cari jalan (amalan) yang paling mempercepat derajat jadi naik dan menghapuskan dosa-dosa kita. Kemudian berusahalah melakukannya dengan sungguh-sungguh dan istiqomah. Kenapa konsepnya seperti ini? Penjelasannya sebenarnya panjang, tapi intinya amal-amal tersebut adalah “uang” untuk “membeli” karunia agar cobaan yang pada saatnya kelak akan menimpa kita, akhirnya terhapus dan tergantikan dengan karunia yang lebih baik, termasuk kebahagiaan dalam masalah jodoh.

Thank’s to :

Someone who give me inspiration

Tulisan ini ada karenanya dan segala inspirasi yang ditorehkannya