Obrolan tentang Tuhan, Cinta dan Dramaturgi Kehidupan (part 1)

dsc_0009

Selalu ada seseorang yang saling mencari satu sama lain, saling menunggu satu sama lain namun waktu tak jua memeluk mereka. Ada yang telah bertemu, namun waktu enggan memeluk mereka diruang yang sama. Mungkin itulah yang kurasakan. Aku tak dapat meluapkan rasa rinduku secara langsung. Sesekali kupejamkan mata mengingat pertemuan kita..

Disinilah aku sekarang, menikmati malam disudut kota. Remahan cahaya bulan terasa menyelimutiku. Kuseruput kopi sambil mengedarkan pandangan dijalan kota yang tak pernah sayup. Beberapa saat kudengar dentingan piano “Fly me to the moon”. Seorang pria tengah asyik memainkan piano dan bernyanyi. Akupun ikut bersenandung, ya.. Karena lagu ini favoritku. Mata hazel itu menatapku, pesan lagunya begitu sampai padaku. Ada hal yang tak bisa kudeskripsikan ketika tatapan mata itu mengunciku. Beberapa detik kemudian lagu usai. Mata itu tetap menatapku dan senyum hangat itu menyapa. Entah, untuk siapa sajian ekspresi itu. Satu yang pasti aku penasaran!

Satu jam berlalu aku tak mungkin berdiam diri dengan setumpuk “deadline” yang membelenggu. Belum satupun artikel yang kukerjakan. Aku rasa cafe ini tak cukup memberiku inspirasi. Aku bergegas menuju pintu keluar untuk meninggalkan cafe, namun aku tak menyadari jika diluar turun hujan. Berdirilah aku disamping beranda cafe, berharap hujan agak reda untuk kuterobos. Menelpon jasa transportasi harus kulakukan agar aku segera pergi dari cafe ini tanpa menunggu hujan reda. kucoba meraba tasku untuk mengambil  hp. Namun, sepertinya aku kehilangan beberapa barangku. Bukan hp, melainkan sebuah buku agenda dan bolpoin. Aku terus mencarinya didalam tas berharap menemukannya.

Tiba2 seorang pria berdiri disampingku, “Aila, kau pasti sedang mencari buku agenda dan bolpoin ini kan”. Akupun menoleh ke arahnya. Ya., dia pria bermata hazel itu. Sejenak pandanganku terhipnotis olehnya, namun aku segera sadar dan mengambil buku agendaku darinya. Sesaat dia tersenyum ramah. “terimakasih ya, oh.. Bagaimana kau tau..?”. “aku menemukan ID cardmu dimeja dan semuanya kumasukkan dalam buku agendamu”, jawabnya cepat.  Aku agak kikuk, “ooh.. Iya2, ehm.. Apa kau penyanyi disini?”,tanyaku penasaran. “bukan, aku hanya pengunjung yang hobi nyanyi hehe”, jawabnya seraya terseyum. Tak terasa hujanpun reda, aku bergegas menaiki taksi yang sebenarnya aku tak sempat menghubungi taksi tadi. beruntung dia mencarikan taksi untukku. Pertemuan yang singkat untuk awal perkenalan kita.

Hari ini media cetak dipenuhi dengan berita penistaan agama, kasus bom gereja, diskriminasi  kaum tertentu atas nama agama dan gejolak perang di timur tengah yg ditengarai ada propaganda asing didalamnya. Tentunya agama merupakan isu yg sensitif di negeri multikultural ini. Negeri yang katanya menjunjung tinggi semboyan “berbeda beda tapi tetap satu jua”. Aku tertarik membaca tulisan opini sebuah surat kabar. Tulisan yang begitu kritikal membedah kehidupan beragama dari sudut pandang yang berbeda, sepertinya si penulis menggunakan sudut pandang filsafat dan sosiologi. Agak tabu, namun masuk akal menurutku. Penasaran dengan si penulis, kucoba baca keterangan dibawah tulisan ini, Mahardika P. “Ooh.. Mahardika penulisnya”, gumamku. Jujur kuakui tulisannya menginspirasi. Aku benar benar tenggelam dalam pemikiran si penulis. Sampai sampai aku tak sadar jika bus yangg kutunggu telah berangkat.

Spontan aku berlari berusaha mengejar bus itu. “tunggu.. Pak.. Berhenti” teriakku seraya berlari mengejar bus dan berusaha memanggil kernetnya.

Sepertinya sia-sia, aku mulai kehabisan nafas dan berhenti berlari. “hhuuuhs, apa yg harus kulakukan? Sepertinya aku benar benar telat ke tempat wawancara itu”. Tiba-tiba ada sebuah sepeda motor berhenti tepat disampingku. Sebuah tangan menyodorkanku air mineral. “kau kehausan setelah maraton, minumlah”. Tampak seorang lelaki berkemeja biru kotak2 menyodorkanku air seraya tersenyum. Ku lihat wajahnya, sepersekian detik aku terkejut, ya.. Dia lelaki bermata hazel yang kutemui di cafe tempo hari.

“kau.. Kan.. “, ucapku terhenti ketika dia melemparkan air itu ke arahku. Reflek aku menangkapnya dan langsung minum. Maklum, sepertinya kerongkonganku tak mau berkompromi dengan rasa haus. Akupun mengucapkan terimakasih padanya. Tatapan matanya memberikan suatu hal yang berbeda ketika mataku menangkapnya. Aku terpaku sejenak sampai suara itu menginterupsiku.  “sampai kapan kau akan menatapku seperti itu? “. Sontak aku kaget, malu dan salah tingkah. Akupun mengambil langkah seribu untuk pergi dari tempat itu. “kalau begitu, terimakasih untuk airnya. “Sepertinya aku telat, Aku pergi dulu”, berusaha tersenyum dan menghindari tatapan matanya. Akupun berjalan meninggalkannya. Sesaat kemudia dia menyusulku mengendarai sepeda motornya. Diapun berkata, “akan kuantar kau, naiklah! daripada kau telat”. Aku agak ragu, namun kulirik jam dipergelangan tanganku. Ini bukan ide buruk mengingat aku hanya memiliki waktu 15-20 menit lagi untuk sampai di tempat yang telah kusepakati dengan seorang informan. “jangan kau pikir hanya karena naik motor akan membutuhkan waktu yang lama, aku ahli dalam jalan pintas. Sepeda motor anti macet, bisa nyelip kemanapun kita mau.. Haha”, candanya. Aku tak mungkin menyia nyiakan kesempatan yang diberikannya. Ini pilihan yang cukup rasional. “okelah.. ” seraya tersenyum, aku mulai bergegas menaiki motornya sambil memakai helm yang disodorkannya. Dia mulai memacu motornya membelah kemacetan kota. Tak banyak obrolan yang kita kicaukan selama perjalanan.

Akhirnya aku sampai ditempat tujuan. Karena takut telat aku langsung melangkahkan kakiku untuk masuk. Beberapa detik kemudian, aku ingat bahwa aku tak mengucapkan terimakasih padanya. Aku bergegas keluar dan mengejarnya “hey.. Tunggu, terimakasih ya.. Aku bahkan belum tau namamu”. Sesaat laju motornya lambat, dia menoleh dan berkata “kalau waktu memeluk kita diruang yang sama lagi, aku akan memberitahukan namaku”. Diapun bergegas mengendarai motornya tanpa menoleh lagi padaku.

Senja tampak enggan meninggalkan sore. Bersembunyi, sinar keemasannya meluber menghangatkan setiap sudut kota. keramaian mulai jenuh merongrong jalanan yang macet. Aku disini di sudut cafe favoritku. Selepas acara wawancara tadi aku kembali menuangkan hasilnya dalam sebuah artikel. Sesuatu yang kutulis kali ini berbeda dan bisa dibilang topiknya agak sesitif mengingat ini terjadi dalam masyarakat saat ini. Aku ikut larut dalam curahan hati beberapa informan yang merasa terdiskriminasi karena agama, etnis dan suku. Kejamnya stereotip masyarakat membuat langkah-gerak mereka terpasung. Beberapa peristiwa teror atas nama ajaran agama bertahun silam, tidak hanya menyisakan duka, pertentangan bahkan diskriminasi yang membelenggu bagi mereka yang berindentitas sama seperti pelaku. Harmoni mulai tergerus pasca peristiwa itu. Bukan tidak mungkin bibit konflik horizontal bagai sekam yang siap melalap habis keharmonisan kita sebagai masyarakat multikultural. aku mulai hanyut dengan semua pemikiranku dan semua curahan hati informan bagai rekaman kaset yang berulang berputar dikepalaku. ku terdiam sesaat, sampai seorang pelayan cafe menghampiriku dengan sepiring roti bakar dan secangkir cappuccino yang kupesan. Saatnya sejenak kuberistirahat dengan tugasku sambil menikmati hidangan itu.

Di panggung cafe masih tak nampak para penyanyi yang biasanya mengalunkan lagu. mungkin “live music” akan dimulai 2 jam lagi mengingat jadwal mereka tampil pada jam 20.00 malam. Inderaku tertuju pada tayangan berita di televisi. Terjadi bentrok antar warga bahkan berujung pada jatuhnya korban jiwa. Bentrok yang bermula disinyalir karena satu kelompok yang tengah melakukan kegiatan kerohanian merasa terganggu dengan suara speaker kelompok organisasi muslim yang juga tengah melakukan kegiatan. Ini sungguh miris, tak ada lagi potret bhinneka tunggal ika yang selama ini didengungkan. aku begitu fokus menonton berita itu hingga tanpa kusadari ada seseorang yang telah duduk disampingku.

Tiba tiba aku mendengarnya berkata, “itu murni bukan karena agama, pasti karena ada aktor-aktor yang memprovokasi demi kepentingan tertentu”. akupun menoleh, inderaku menangkap iris hazelnya. Tanpa mau terperangkap lagi dengan zona hazelnya, akupun menyuarakan tanggapanku atas pernyataannya. “itu adalah konflik horizontal yang mengerikan, karena dan atas nama agama yang mereka klaim paling benar”.

Dia tersenyum dan membalas perkataanku, “jadi kau mau mengatakan bahwa agama telah membuat sekat sekat antara manusia semakin jelas, bahkan manusia saling berkonflik karena agama. apakah seperti itu menurutmu?”

Pikiranku menerawang melampuai apa yang kupikir selama ini,”yaa..realitasnya seperti itu kan?! kadang aku berpikir, Apakah Tuhan bisa dikatakan kejam dalam hal ini? Menciptakan agama berbeda-beda tapi tujuannya satu, hanya untuk disembah?”.

Dia terus menatapku seolah menikmati setiap perkataanku. Kemudian dia berbicara tanpa melepaskan sorot hazelnya terhadapku.”Agama hanya sebagai candu, ada hanya jika manusia butuh itu. Tuhan telah tersubordinasi oleh keduniawian jika manusia dlm keadaan bahagia. Tuhan benar benar ada dipikiran manusia, hanya ketika manusia susah. Bukankah manusia lebih kejam dari Tuhan?”.

“Ini bukan masalah siapa yang lebih kejam. Semua konflik ini bermula dari adanya keberagaman yang harusnya sejajar posisinya. Tuhan harusnya ada dan berkuasa atas itu semua!”, perkataanku sungguh seperti nada sumbang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Sungguh aku tak bermaksud tidak mempercayai bahkan meremehkan keberadaan Tuhan, tapi aku nyaris kehilangan sebuah harapan. Harapan untuk melihat semua makhluk harmonis dengan keberadaan Tuhan yang diyakininya masing-masing.

“Tuhan selalu ada disetiap hati dan pikiran yang meyakininya”, sergah dia.

“Tapi banyak dari sebagian manusia tidak membawa Tuhan dalam hati dan pikiran mereka. Manusia dibutakan oleh untung-rugi, pahala-dosa, surga-neraka. Bukankah mereka membunuh ribuan orang atas nama agama dan ajarannya. Mereka juga berharap surga. ini sungguh gila!! lantas siapa yang salah dalam hal ini! ajaran agamakah atau manusianya?”, paparku panjang lebar.

“pemahaman manusialah yang salah.Rabiatul Adawiyah seorang Sufi wanita pernah mau mengguyur neraka dan membakar surga agar kedua tempat itu musnah. karena orientasi manusia akan ibadah, ajaran agama dan Tuhan mulai melenceng. banyak manusia beribadah karena takut masuk neraka, banyak pula yang beribadah karena ingin masuk surga. Beribadahlah karena kecintaanmu pada sang Pencipta, bukan semata-mata mengharap surga dan takut akan neraka. Saat ini banyak manusia yang mengaku menjalankan ajaran agama Islam, jihad namun hanya mengharap surga semata dan bukan karena kecintaannya pada Tuhan”, pandangannya menerawang seolah ingin menyelesaikan perkataan panjangnya.

Senyumnya mulai merekah pandangan indera hazelnya meneduhkanku yang kehilangan harapan. Dia kembali menlanjutkan perkataannya, “Ini bukan masalah keberagaman agama dan keberadaan Tuhan. Tapi ini masalah ketidaksempurnaan manusia. Setiap ajaran agama pastilah sempurna, namun manusia yg menjalankannya jauh dari kata sempurna. Karena ketidaksempurnaan itu, manusia berlagak angkuh dan berusaha menghancurkan sesama. Jadilah manusia selayaknya manusia, hidup merdeka namun tetap memelihara sisi humanis dalam dirinya”.

Otakku semakin mencerna setiap perkataannya tadi. Sedari awal aku mulai merasa kembali mengulas tulisan seseorang melalui obrolan kita tadi. semua obrolan kita tadi kembali mengingatkanku pada tulisan yang sangat menginspirasiku tadi pagi. tanpa sengaja akupun berucap, “kau Mahardika.?”. Aku terus menatapnya lekat. Dia tersenyum penuh arti dan berkata “heem..bukankah aku akan memberitahukan namaku ketika waktu memeluk kita di ruang yang sama?! sepertinya kau sudah tau duluan namaku. ini diluar dugaanku..haha”. Sesaat dia mengangkat tangannya seolah mengajakku berjabat tangan, “oke, kalau begitu perkenalkan..namaku Mahardika Priastama, dan kau..?. Akupun segera menyambut jabat tangannya dengan senyuman, “aku Aila Afsheen Hardiyani”.

Malam itu aku mengagumi sudut pandang pemikirannya. Dia berhasil memberi pemahaman baru bagiku, tentang Tuhan, Agama dan Kita sebagai manusia. Diskusi kita tak berlanjut. Kita tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya dentingan lagu “Imagine yang pernah dipopulerkan oleh John Lennon mengalun memenuhi sudut cafe. Lagu itu sukses menyadarkan lamunan kita. Seolah lagu itu mewakili hal hal yg telah kita diskusikan tadi. Kita saling menatap dan tersenyum dalam diam menikmati lagu itu.

there’s no countries

It isnt hard to do

Nothing to kill or die for

No religion too

Imagine all the people

Living life in peace…

Aku sangat menikmati setiap waktu, dimana aku memainkan skenarioNya. Ini bagai alur cerita baru untukku yang entah bagaimana akhirnya. Ku tak mau terlalu berekspektasi tentang hasil akhir. Hal yang sangat penting adalah menikmati waktu, merenda kebersamaan. Kumerangkai kata dan kau menjadikannya kalimat obrolan abai waktu. Obrolan tentang riuhnya hidup dan tentang Tuhan yang tak terdeskripsikan. Entah obrolan apa lagi yang akan kita diskusikan, mungkin tentang cinta. Yaa.,  Ku menunggu obrolan tentang cinta.

To be Continued..

(Gambar: http://google.com)

 

by: Dina Kholidah

Sekedar Fiksi

Semesta selalu mengispirasi,

Kenangan selalu mengimajinasi