Balada ‘Anak’ Wanita Karir

13402546431195064324

Anak gedongan lambang metropolitan
menuntut hidup alam kedamaian
anak gedongan korban kesibukan
hidup gelisah dalam keramaian

Tiada waktu untuk bertemu
waktu berkasihan dan mengadu
karena orang tua metropolitan
hanyalah budak kesibukan

Sepenggal lirik lagu Anak Jalanan yang dibawakan oleh Sandy Sondoro agaknya menjadi cermin realitas saat ini. Aku salah satu fans Sandy Sondoro dan salah satu lagu favoritku adalah lagu itu. Setiap kali kumendengar lagu itu, bayanganku selalu bergerilya dikehidupan nyata. Seluruh lirik dalam lagu tersebut sangat jelas terjadi dalam kehidupan sekitar kita. Sepenggal lirik yang akan kubahas adalah si “anak gedongan” yang kesepian atau bisa kita sebut dia sebagai ‘Anak’ sang wanita karir.

Taukah kalian, aku berkesempatan bertemu dengan salah satu anak gedongan alias ‘anak’ sang wanita karir. Anak ini sangatlah lucu, polos dan menggemaskan. Dia duduk dibangku sekolah dasar. Ayah-ibunya sibuk bekerja dengan dalih memenuhi kebutuhannya. Benar saja, seluruh kebutuhannya terpenuhi bahkan berlebih dengan materi yang berlimpah. Apapun yang dia inginkan selalu terpenuhi tanpa harus menunggu lama, misalnya dalam hal mainan dan gadget yang sudah seperti jamur dimusim hujan kehadirannya. Senang?! terpuaskan?! itu pasti. Saat teman seusianya tidak punya bahkan tidak mengenal yang namanya mainan serta gadget canggih, dia sudah punya segalanya. Uang saku berlebih dikantonginya setiap hari di sekolah. Makanan lezat penggugah selera tipe anak SD selalu memenuhi kerongkongannya. Hanya ada satu hal yang tidak dia miliki, namun dimiliki oleh teman lainnya yang status pekerjaan ibunya di KTP adalah mengurus rumah tangga.

Siang terasa begitu panas dan memancing dahaga luar biasa. Waktu pulang sekolah yang sangat menguras tenaga bagi anak SD. Sepulang sekolah si anak gedongan pulang bersama teman sekaligus sepupunya. Sesampainya di rumah, mereka berdua disambut oleh seorang pembantu dan tante si anak gedongan sekaligus ibu dari sepupunya itu. Setelah melepas segala atribut yang dipakai ke sekolah, si anak gedongan bergegas ke kamarnya mengambil gadget yang biasa dia mainkan. Ketika dia keluar dari kamarnya, terdengar suara tantenya yang sedang menghampiri anaknya sambil membawa minuman segar. Minuman yang begitu menggugah selera. Tidak..bukan hanya minumannya yang menggugah selera si anak gedongan, namun perhatian dan kelembutan tantenya kepada sang anak. Dia menghampiri sepasang ibu-anak tersebut sambil sibuk memainkan gadgetnya sambil sesekali melihat ke arah mereka.

“Hemm..enak ya..pulang sekolah kamu ada yang bikinin minum. Jangankan minuman, makananpun aku ambil sendiri. Kalau ada PR aku kerjain sendiri. nggak pernah ibu bantuin atau sekedar menemaniku. apapun urusan sekolah kadang ibu tidak tau. habis pulang kantor ibu sibuk dengan tab-nya, cape’ terus tidur. begitu setiap hari. aku benar-benar mandiri yaa..”, senyum yang begitu hambar ketika curahan hatinya terkuak.

Curahan hati seorang anak polos yang begitu mengiris hati perempuan yang bergelar ibu. bukan sekedar curahan hati, namun bisa dianggap sebagai balada ‘Anak’ sang wanita karir.  Dalam keramaian, nyanyian hati mereka menyiratkan keresahan dan kesepian. Perjalanan masa kanak-kanak yang kering kerontang tanpa perhatian kedua orang tua terutama sang ibu. Masa kanak-kanak gedongan tak dekat dengan alam, berteman sepi dengan kegaduhan gadget yang canggih. Koridor ruang bermainnya hanya berkutat disebuah ruang penuh gadget atau pusat perbelanjaan tempat tongkrongan mereka. Satu hal lagi yang tak kalah miris, intensitas interaksi dengan keluarga terutama ayah-ibu sangat minim. Tak ada interaksi yang begitu hangat dengan keluarga terutama ayah dan ibu.

Berbahagialah kita yang melewati masa kecil dengan penuh keceriaan, suka cita, dan penuh kehangatan kasih sayang. Alam menjadi ruang bermain kita. Kaki telanjang begitu lepas berlari lincah bermain bersama keceriaan alam. Permainan tradisional penuh makna kehidupan selalu menjadi agenda keseharian kita. Kita bebas kapan saja tidur dipangkuan ibu. ketika pulang sekolah, dengan wajah teduh ibu menyambut kita. Ibu menyiapkan makanan penggungah selera sambil berujar “Gimana tadi di sekolah, nak?”. Itu bukan hanya pertanyaan basa-basi karena ketika malam tiba, ibu menemani kita yang sedang sibuk bergelut dengan PR sekolah. Ibu adalah peri penjaga kita yang rela tidur terakhir dimalam hari sebelum memastikan anak-anaknya tidur. Ibu juga bangun pagi hari menyambut kita, mempersiapkan keperluan sekolah dan menyiapkan sarapan pagi. Sungguh itu amunisi yang bisa meledakkan semangat kita sebelum berangkat sekolah.

Perhatian-perhatian kecil itu sungguh luar biasa berarti bagi anak melebihi materi. Perhatian yang sangat bermakna bagi anak. Anak seolah menemukan oase kasih sayang ditengah gurun pasir. Anak menemukan tempat bercerita dan berkasih sayang yang tak bisa digantikan dengan fungsi semu gadget super canggih penghibur sesaat itu.

Lalu bagaimana, ibu dari anak gedongan yang katanya wanita karir itu?

Alih-alih menyambut anak sekolah, mereka sibuk berkutat dengan pekerjaan kantor yang tak terselesaikan. ketika di rumahpun mereka tak ada waktu untuk sekedar menemani anak-anaknya mengerjakan PR. Alih-alih menemani anaknya, mereka lebih asyik dengan ponsel pintar dengan segala tetek bengek media sosialnya dan berdalih urusan pekerjaan. Pagi hari tak ada kegiatan membuat sarapan atau sekedar menyiapkan keperluan anak sekolah. Wanita karir lebih memilih menjunjung profesionalitas kerja mereka di kantor daripada di rumah tangga. mereka rela berangkat pagi dan melewatkan sarapan bersama anak-anaknya. Tak ada waktu bertemu, mencurahkan kasih sayang untuk anaknya. Seharusnya wanita karir juga tangguh dalam mengurus rumah tangga bukan hanya menjadi budak kesibukan semata…

By: DinDyna

For Childrens who give me inspiration

kebanggaan atau kesayangan?

Ketika matahari sepenggala naik, aku duduk menemani nenek yang tengah asyik menyeruput tehnya. Tiba-tiba beliau bercerita tentang anak-anaknya yang sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing. Beliau memiliki lima orang anak, empat orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Rasa sukacita terpancar jelas dimatanya yang selalu antusias menceritakan kelima anaknya.
Beliaupun berucap “Anak laki-laki itu kebanggaan dan anak perempuan itu kesayangan”.
akupun bertanya, “kenapa bisa begitu nek?”
Nenekpun menjawab “seorang anak laki-laki menjadi tulang punggung dan pengayom bagi keluarga. Kelak anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah utama bagi keluarganya. Oleh karena itu, segala sesuatunya harus diprioritaskan demi kesuksesan anak laki-laki, karena pada masa depan dia akan menjadi tumpuan hidup dan kebanggaan keluarganya. Berbeda halnya dengan anak perempuan yang digambarkan sebagai anak lemah lembut yang sepatutnya disayang dan tidak seharusnya jauh dari orang tua. Dengan sifat tersebut, anak perempuan diharapkan menjadi anak yang berbakti, menyenangkan, dan merawat keluarga termasuk kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar jawaban nenek yang panjang lebar itu, aku hanya manggut-manggut sembari berpikir. Akupun kembali bertanya pada nenek, “lalu apakah anak perempuan tidak bisa membanggakan seperti anak laki-laki. Jika ukuran kebanggaan pada seorang anak laki-laki adalah tumpuan hidup keluarga (pencari nafkah), bukankah sekarang banyak juga perempuan yang berkarir dan memiliki penghasilan sendiri?”
nenek sejenak terdiam, senyum tipis menghiasi wajahnya. lalu diapun menjawab “mencari nafkah bisa saja dilakukan seorang perempuan, tapi kebanyakan dari mereka tidak mampu membagi waktu antara bekerja dengan keluarga. Bukankah tugas utama perempuan adalah mencurahkan kasih sayang dan merawat keluarganya? Perempuan itu anak kesayangan makanya jangan sampai dia keluar dari rumah mengerjakan hal yang seharusnya bukan tugasnya”.
“Berarti jika dalam keluarga itu hanya punya anak perempuan, maka mereka tak memiliki anak yang membanggakan?”, aku hanya bergumam dalam hati tanpa terus berdebat dengan nenek. Namun sepenggal perbincangan dipagi itu membuatku berpikir mau menjadi kebanggaan atau kesayangan?
Semenjak perbincangan itu, aku menjadi semakin sadar jika budaya patriarki memang sudah mengakar dalam pikiran nenek yang termasuk kategori orang zaman dulu..hehe.. Tidak hanya itu, bahkan saat inipun budaya patriarki kerap kita temui meskipun secara samar. Kembali pada pernyataan nenek jika anak laki-laki itu kebanggaan dan anak perempuan itu kesayangan. Dari pernyataan tersebut jelas sekali ada perbedaan antara peran anak laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Perbedaan tersebut pada akhirnya menjurus pada budaya patriarki yang senantiasa terus terpelihara secara turun-temurun. Seolah anak dipersiapkan untuk menjadi kunci utama pelestarian budaya patriarki itu. Budaya patriarki yang menitikberatkan pada kekuasaan sepenuhnya berada ditangan laki-laki, perempuan hanya sebagai pihak dibawah kekuasaannya. Laki-laki menjadi aktor utama pencari nafkah, tulang punggung dan pengayom keluarga. Dengan begitu, laki-laki seolah bertransformasi menjadi makhluk yang super kuat dan memiliki kuasa dominan didalam keluarga. Sedangkan perempuan yang katanya “ratu dalam rumah tangga” itu sebenarnya bertransformasi menjadi makhluk lemah lembut yang bergantung pada seorang laki-laki.
Jika dilihat secara seksama sebenarnya posisi perempuan menjadi pihak yang didominasi oleh kekuasaan laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarganya. Perempuan dianggap sebagai makhluk lemah yang harus dilindungi oleh laki-laki dan membuatnya selalu bergantung pada kehadiran laki-laki. Sifat perempuan yang demikian itu, dijadikan alasan bahwa perempuan hanya cocok bekerja diranah domestik. Mengabdikan diri sepenuhnya untuk merawat dan menyirami seluruh keluarganya dengan kasih sayang adalah tugas terhormat bagi seorang perempuan. Perempuan adalah makhluk yang harus disayangi dan dilindungi. Pernyataan itu sekilas membuat perempuan menjadi sepenuhnya makhluk yang paling berharga dan disayang. Namun dibalik itu semua, perempuan dikungkung kebebasannya dalam ranah selain domestik. Perempuan hanya berkesempatan menjadi ratu dalam rumah tangga yang tak bebas melenggang ke dunia publik tanpa persetujuan laki-laki (kepala keluarganya). Dunianya seolah sempit dan dibatasi setiap tembok rumah tangga yang dipimpin seorang lelaki. Itulah konsekuensi menjadi makhluk kesayangan.
Lalu bagaimana jika perempuan, ingin menjadi kebanggan? itu bisa saja terjadi. Sebenarnya perempuan juga bisa menjadi kebanggan dalam keluarga apabila tolak ukur kebanggaannya adalah tumpuan hidup dan pencari nafkah seperti anak laki-laki. Saat ini, banyak potret perempuan yang sukses dalam menghidupi dirinya sendiri bahkan keluarganya. Itu menjadi pertanda jika perempuan tidak sepenuhnya lagi dikatakan bergantung pada laki-laki. Perempuan bisa saja melangkah melampaui dunia domestik yang selama ini mengungkungnya. Dengan lantang dia dapat menunjukkan eksistensinya agar setara dengan laki-laki. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kelak perempuan tetaplah memiliki tugas sebagai ratu sekaligus ibu dalam rumah tangganya. Tidak sedkit juga dari mereka yang gagal dalam menjalankan perannya sebagai ratu dan ibu rumah tangga karena lebih dominan mengurus karirnya di ranah publik. Bahkan ada juga segelitir dari mereka yang melampaui kemandirian dengan tak lagi membutuhkan peran laki-laki atau fokus pada karirnya, sehingga memilih untuk hidup sendiri diakhir hayatnya. Wow.. fantastis bukan.!! perempuan yang katanya lemah, mampu memutuskan untuk menjalani hidup sendiri fokus menggapai cita dan karirnya tanpa kehadiran laki-laki. Seorang perempuanpun bahkan bisa menjadi makhluk yang apatis ketika menjalankan fungsi afeksinya dalam keluarga apabila dia telah kukuh berkarir diranah publik. Bukan tidak mungkin hal tersebut lambat laun dapat mengikis rasa kasih-sayang, kelembutan yang ada dalam drinya sebagai seorang ibu dan perempuan sejati. Semua kesuksesan yang diraih melalui karirnya tentu membanggakan bukan? dalam sekejap seorang perempuan bisa saja menjadi anak, istri dan makhluk yang membanggakan. Namun, mereka cenderung memiliki sedikit waktu dengan keluarga, fungsi afeksi yang tidak optimal dalam keluarga bahkan bisa jadi perempuan juga mengabaikan keluarganya. Itulah potret perempuan modern saat ini yang aktif dalam ranah publik. Tampak membanggakan dipanggung depan, dipanggung belakang (keluarga, rumah tangga) para perempuan mengukir cerita yang berbeda.
Lalu manakah yang kalian pilih sebagai perempuan, menjadi kebanggaan atau kesayangan? kalau bisa sih..saya memilih keduanya kebanggaan dan kesayangan dalam keluarga. Jangan mau hanya menjadi kesayangan tapi suaranya terbungkam oleh budaya patriarki. Namun, tidak ideal juga jika jadi kebanggaan keluarga hanya diranah publik dan tak jadi pionir dalam menjalankan perannya sebagai perempuan sejati dalam keluarga.  hehe.. ^_^

by Dindyna

Serpihan Kenangan di Lorong Kampus

Melewati tempat ini, seolah menghidupkan kembali ingatanku tentangmu. Beberapa bulan yang lalu, kuingat serangkaian kejadian yang hingga saat ini tak mungkin kulupakan.

09-04-13
Saat itu, ku duduk bersama teman untuk mengerjakan tugas riset yang akan dipresentasikan. Sesaat kau datang dan ikut nimbrung. Jujur perasaanku biasa saja kala itu. Kaupun sempat meminjam bolpen padaku. Saat itu, aku buru-buru masuk kelas karena takut telat kuliah. Sesaat kemudian kau memanggilku. Akupun menoleh, ternyata kau membawa bukuku yang hampir saja ketinggalan. “hey…ini bukumu..” dan akupun mengucapkan, “ooh..iya..terimakasih..”. Dalam hati ku berkata, “sekali lagi terimakasih..,karena kau peduli..”

15-04-13
Siang ini, kau mengajakku bertemu tuk membicarakan mengenai tugas riset bersama teman-teman yang lain. Ternyata teman-teman yang lain belum datang dan hanya ada kau dan aku. Entah kenapa ku merasa gugup berhadapan denganmu saat itu. Sampai-sampai ketika kau memintaku menulis pokok-pokok materi yang kau bacakan., ku sangat lelet dan selalu salah.. hehehe… Sesaat kemudian teman-teman yang lain datang dan mulai menggoda kita. Itu semakin membuatku salah tingkah. Apalagi ketika ku ingin meminta dan merobek buku agendamu yang berisi catatan materi tadi. Kaupun tampak bingung kala itu.
”Apa kau juga merasakannya??”

8-05-13
Hari itu, akan ada presentasi diruang perpus. Dibutuhkan segala persiapan termasuk konsumsi. Kebetulan teman-teman ynag lain belum datang dan hanya ada aku. Pak dosen meminta bantuanku untuk membeli konsumsi ditoko sekitar kampus. Dengan jalan kaki akupun beranjak membeli konsumsi. Saat itu kondisiku kurang fit karena sedikit flu. Setelah membeli beberapa konsumsi, akupun segera kembali menuju kampus. Di depan gedung area parkir tampak dirimu berdiri seolah mengarahkan pandangan kepadaku. “apa mungkin kau menungguku?, tapi rasanya gak mungkin deh…kebetulan sepertinya..”, batinku. Jarak semakin dekat dan itu benar-benar dirimu. Kaupun tersenyum seraya menyapaku., “hey.” Dengan sigap kaupun mengambil tas berisi konsumsi dari tanganku dan membawakannya. Sambil berjalan pelan dibelakangmu, akupun berpikir jika ini sebuah kebetulan..ya.. kita kebetulan bertemu disini atau kau diminta oleh pak dosen untuk membantuku membawa konsumsi yang kubeli.. dan yang pasti semua kebetulan ini bukan karena kau benar-benar berniat menungguku. Tiba-tiba kau berkata “lhoo..ayo kamu gak mau ikut masuk k perpus juga?”. “eh..iya..”, jawabku sembari mempercepat langkahku, hingga kita berjalan beriringan di lorong kampus.
Dalam perjalanan di lorong kampus, ku mencoba membuka pertanyaan “teman-teman yang lain belum datang ya?”.
Kaupun menjawab, “belum cuman sebagian..masih dalam perjalanan kesini..” membuka pembicaraan. Tiba-tiba kau bertanya padaku “sakit In? sakit apa?”. Aku tak menyangka kau akan menanyakan kondisiku saat itu yang memang tampak kurang sehat. Akupun menjawab, “biasa..sedikit flu..hehe..”,
Saat itu aku mendengar tanggapanmu (mudah-mudahan gak salah y..): “iya..kemaren aku juga panas, gak enak badan..”
“Cuacanya emang gak enak”, timpalku..
Hari itu.., entah kenapa aku senang sekali bisa mengobrol dan berjalan beriringan denganmu dilorong-lorong kampus. Itu menjadi suatu kenangan yang kuingat setiap kali ku melewati lorong-lorong kampus.

31-05-13
Pagi ini aku berangkat kuliah ke kampus. Sesampainya di kampus, dari kejauhan ku melihatmu. Jujur hatiku senang sekali., namun saat itu kau bersama seorang teman wanita sedang duduk dan mengobrol. Sesekali kalian berdua tertawa ringan. Saat itu, aku takut mengganggu jika menyapamu. Namun, pandangan kita saling tertaut dan itu membuatku harus sekedar tersenyum menyapamu. Kaupun membalas senyumku. Lega rasanya melihatmu tersenyum padaku. Aku terus melangkah menuju ruang kuliah. Tiba-tiba kau kembali memanggilku, “hey..dosenmu pak Zaky ya?”. Akupun menoleh dan menjawab, “haah..iiyaa”. Kemudian kau melanjutkan, “sampe’ jam berapa kuliah?”
“Sekitar jam 11an”, jawabku sembari buru-buru masuk karena takut telat. Di kelas, tiba-tiba hpku berdering. Dilayar ponsel tertera namamu.., “kenapa kau menelpon? Padahal kau sudah tau kalau aku kuliah.., mungkinkah ada hal penting ya?”, batinku. Namun telpon darimu tak kuangkat, karena takut menganggu kuliah. Selang beberapa saat kemudian, ada pesan darimu. Pesan itu sekedar berisi pemberitahuan mengenai soft dokumen yang harus kuserahkan padamu. Akupun membalas pesanmu dan berjanji memberikan soft dokumen itu setelah selesai kuliah. Setelah kuliah aku kembali ke kos mengambil soft document itu tuk diserahkan padamu. Kebetulan ada seorang teman yang ingin ke kampus, jadi kutitipkan flashdisc berisi soft document itu untuk diberikan padamu. Karena pada saat itu, ku ada urusan dan tidak bisa langsung ke kampus. Sesaat kemudian temanku membeir kabar jika soft dokumen itu telah diserahkan padamu. Setengah jam berlalu dan akupun tiba di kampus untuk kerja kelompok. Tiba-tiba ponselku berdering dan itu kau. Ku jawab telponmu.
“halo..”
“halo..In., kamu dimana sekarang?”
“di kampus mas.., kenapa ya?’”
“soft dokumenmu belum kuterima..”
“lhoo..tadi udah kutitipkan ke Ozi..”
“oohh..ya udah., kamu kesini sekarang”.
Akhirnya akupun beranjak menemuimu. Sesampainya disana kutemui kau dan teman-teman yang lain sedang asyik duduk dan berbincang. Sayup-sayup kudengar, seroang teman berkata “lho..ini dia anaknya”, sembari melihat ke arahku. Kemudian kau menoleh ke arahku seraya berkata, “In..mana punyamu?”
“lho..tadi udah jadi satu sama punya Ozi.,”, jawabku.
“ooh..ya udah kalo gitu., tak kirain belum..” katamu kemudian. Mendengar pernyataanmu aku langsung lega dan hendak beranjak dari sana. Namun..tiba-tiba dari belakang ada suara, “eh..In..tunggu..kok datanya gak ada ya..?”
“apaa?”, kataku kaget seraya berbalik.
“waduh..gimana ya?, eh.. tapi kamu punya softcopy-nya lagi kan?”, tanyamu.
“ehh…iya ada..”, jawabku.
“ada dimana? Sekarang kamu bawa?”, tanyamu lagi penuh selidik.
“ada di kos.,” jawabku singkat. Sepertinya ini penting dan harus segera diambi, akhirnya akupun berkata dengan nada datar, “ya..udah aku ambil lagi ke kos”.
Sebenarnya aku malas sekali mengambilnya, karena saat itu aku jalan kaki. Tiba-tiba seorang teman berkata sembari melirik ke arahmu, “ini..lho minta anterin mas Sofyan?”.
“hahh?!”, kataku bingung, entah kenapa perasaanku jadi aneh mendengar tawaran itu. Kemudian kau beranjak sembari memegang kunci kontak motor.
“ayo..In.. kosmu jauh gak? Berapa kilometer dari sini?”, katamu setengah bercanda menurutku.
Ku yang masih bingung berusaha menjawab, “ehh..nggak jauh., deket kok..”
Kau segera berjalan menuju area parkir dan akupun mengikutimu. Ku masih tak percaya perihal soft dokumen yang tiba-tiba hilang , padahal jelas-jelas udah dicopy ke laptopmu. “mungkin ada kesalahan”, batinku. Akhirnya ku memberanikan diri bertanya soal itu padamu, “kok bias hilang mas? Padahal udah dicopy datanya ya?”
“iyaa..nggak tau kok bisa”, jawabmu singkat, sembari mengeluarkan motor dari parkiran. Sesaat kemudian, kita berangkat ke kosku dengan mengendarai motor. Dalam perjalananku begitu gugup dan sulit tuk berbicara.
Tiba-tiba kau membuka pertanyaan “kosmu dimananya kosnya Ririn?”
Akupun menjawab, “eh.. jauh mas.. bukan daerah sana..”
“ooh… tak kirain deket sana.., trus kosmu dimana?”, tanyamu lagi.
“Di gang X, mas..”, jawabku kemudian.
“oohh…”jawabmu singkat tanpa berkomentar lagi. Sesaat kita terdiam dalam perjalanan. Jalanan area kampus agak macet hingga motorpun melaju lambat. Kami masih terdiam satu sama lain. Akhirnya kberanikan diri membuka pembicaraan. “laporannya belum selesai mas?”
Setengah menoleh kau tersenyum dan menjawab, “kenapa In?, kamu mau bantu ngerjain ya?”.
Mendengarnya akupun menjawab serya tersenyum, “ahh… nggak deh.. hehe..”, kaupun melanjutkan, “”belum selesai, masih ada yang kurang”.
“oohh…”jawabku singkat.
Kamipun memasuki gang. “disebelah mana kosmu?”, tanyamu.
“masih sebelah sana.., jalan terus..”, jawabku sambil mengarahkan. Motormu semakin melaju cepat karena jalanan gang cukup sepi. Hingga akhirnya motormu melaju melewati kosku. Secara spontan ku berkata, “ehh…iya…oop..op..oop..”.
Kaupun mengerem laju motormu dan putar balik. “ku kira kosmu disana, dulu kan kita pernah ketemu disana..”, paparmu saat itu. Aku bergegas turun dari motormu dan berkata “nggak bawa flashdisc mas? Apa pakai flashdicku dulu atau gimana?”. Jujur saat itu aku memang sedikit grogi ketika berbicara. Saat itu, Raut wajahmu sulit ditebak. Bola matamu dan alis yang sedikit naik seolah tertuju padaku. Seraya tersnyum kau menjawab “pakai flashdiscmu saja.”. mungkin kau tampak kebingungan menyimak pembicaraanku yang terlalu cepat tadi, hehehe.. maklum ada indikasi salting.
“tunggu sebentar aku masuk dulu ya..”, kataku seraya memasuki pagar kos.
Setelah kejadian itu, kau jarang kutemui lagi di kampus. Kesibukan yang memisahkan kita. Kau telah sibuk dengan duniamu, dunia mahasiswa akhir yang dituntut untuk segera menyelesaikan skripsi. Kegiatan riset yang telah mempertemukan kitapun berakhir. Secara otomatis intensitas pertemuan kitapun berakhir seiring kerjasama riset berakhir. Ada suatu perasaan aneh dalam diriku dan kusadari jika aku mulai menaruh hati padamu. Perasaan yang tak pernah kuduga dan tak terencanakan sebelumnya. Kian hari perasaan itu kian tumbuh seperti rasa rinduku yang tak pernah melihatmu lagi di kampus. Namun, suatu waktu aku pernah melihatmu ke kampus.

19-09-13
Hari ini Ku bertemu denganmu., lagi-lagi kita mengenakan baju dengan warna yang sama yakni biru. Namun kau tak melihatku. Hanya aku yang mengetahui keberadaanmu. Sungguh rasanya hati ini begitu sedih., namun ada sejumput rasa senang ketika melihatmu.
Selang beberapa minggu, kita tak bertemu lagi. Namun, aku mendapatkan kabar bahwa aku akan menjadi salah satu kandidat anggota jurnal yang baru menggantikan anggota lama yang telah habis masa jabatannya. Atas prakarsamu, perekrutanpun terlaksana dan salah satu anggota barunya adalah aku. Dibulan Oktober diadakan sosialisasi sekaligus peresmian secara simbolis keanggotaan redaksi jurnal yang baru. saat itupun aku kembali bertemu denganmu..

02-10-13
Sore ini, ada kegiatan kumpul anggota redaksi jurnal dan ini pertama kalinya aku bertatap muka denganmu. Entah apa yang kurasakan ketika berhadapan denganmu. Kucoba bersikap biasa seolah tak ada rasa apapun padamu. Namun ini tak cukup berhasil mengobati rasa galauku. Ku coba menghindari setiap pandanganmu. Begitupun kau yang tampak cangggung. Jujur itu baru pertama kalinya kubertemu denganmu setelah beberapa waktu yang lalu tak bertemu. Senang rasanya.., sampai akhirnya acara pertemuan itu ditutup dengan jabat tangan yang kita lakukan. Saat itu aku tak berani menatap wajahmu. Hanya saja berjabat tangan yang kulakukan. Saat itu juga semua perasaan aneh mulai luruh dan berganti dengan hati yang diselimut sedih. Ku pamit pulang dan ditengah perjalanan tiba-tiba ada rasa sedih, kehampaan, kekecewaan dan sakit yang teramat menyengat hatiku. Saat itu ku baru menyadari bahwa satu jam pertemuan tadi adalah yang terakhir bagiku. Aku tak bisa lagi melihatnya, bahkan sekedar mendengar suara basa-basi darinya yang mengajakku ngobrol. Hanya itulah kesan terakhir yang tergores. Sungguh dadaku begitu sesak karena rasa yang salah ini..,dadaku begitu sesak seolah menahan kerapuhan harapan cinta ini. Mungkin kau tak merasakannya. Hanya aku.. hanya aku tertinggal disudut lorong kampus bersama kenangan tentangmu.

“Sekedar Cerita Fiksi disore hari”
by Dindyna

Just “Gray Note”

Sulit sekali mengerti hatiku ini. Akupun tak pernah mengerti apa yang telah diinginkan oleh hatiku. Tak dapat digambarkan secara jelas perasaanku kepadamu. Akupun tak tau gambaran perasannmu kepadaku.

Hanya saja, lambat-laun rasa tersipu maluku amat besar ketika bertemu denganmu

Bola matamu tampak berbinar ketika bertemu denganku

Jantungku berdegup kencang seolah menjadi backsound tiap kali kita bertemu

Senyummu terbingkai ramah didepanku

Ku pun membalas senyum ramahmu itu

Kau berkata sepatah dua patah kata

Ku mencoba mengatur irama jantung tuk menjawabnya

Kau tampak canggung dan salah tingkah

Pipiku mulai bersemu merah,

Pandangan matamu teramat dalam,

Ku menghindar membawa rasa gugup yang luar biasa..

 

Sapaanmu membuka semangat pagiku kala itu

Ku balas dengan senyum ramah

Tatapan bola matamu begitu menghangatkan pagi yang berembun

Jantungku kembali berdegup kencang seolah menjadi backsound tiap kali kita bertemu

Kau kembali berkata sepatah dua patah kata

Ku mencoba mengatur irama jantung tuk menjawabnya

Kau tak lagi canggung dan tersenyum penuh arti

Ku balas senyummu dengan sejuta tanya..

 

Mentari pagi mempertemukan kita lagi

Tak ada sapaan ramah terdengar darimu

Tatapan mata kita saling bertaut tak sengaja

Tak kutemui kehangatan dalam tatapanmu

Bola matamu yang teduh perlahan menghindariku

Jantungku tak lagi berdegup kencang disaat kita bertemu

Kau tak lagi menyusun satu dua patah kata

Ku tak perlu mengatur irama jantung tuk menjawab

Kau beranjak menghindariku dengan senyum dingin hambar makna

Ku mematung menemukan jawab atas semuanya..

 

By: DinDyNa

Lukisan Pelangimu

Langit mendung tak seceria kemarin. Kau menungguku di taman ini ditemani angin yang tengah asyik mengajak awan mendung berdansa. Kau anggap ku tak datang saat itu. Kau telan seluruh kekecewanmu dengan senyum. Harusnya itu menjadi pertemuan terakhir kita. Sebelum kau pergi merantau mengadu nasib di ibu kota dan kau ingin mewujudkan impian menjadi seorang pelukis terkenal. kaupun tak lagi menungguku. Kau pergi kala itu.
Selepas angin berdansa dengan awan, Hujanpun hadir. Ku datang ketempat itu berharap kau menungguku. Kau tak nampak lagi ditempat itu. hujan yang menyelimutkan dingin ke tubuhku tak membuatku berhenti menunggumu kala itu. hingga hujan pun pergi, Kau tak nampak jua. Yang ada hanya pelangi indah selepas tangisan hujan. Sayangnya pelangi itu tak nampak dihatiku. Ya.. kau pergi dengan sejuta rasa yang tak pernah kita selesaikan. Hari itu ku tak tau lagi kabar tentangmu. Kau benar-benar menghilang dari hidupku.

7 tahun berlalu.,
Ku berusaha lepas dari bayangmu, namun tak sedikitpun kenangan tentangmu terhapus dalam pikiranku. Selama tujuh tahun ku belajar untuk bangkit dan memulai kehidupan baru di kota baru pula. Lima tahun lalu ku memutuskan untuk pindah ke kota ini dan bekerja di suatu perusahaan. Perusahaan yang bergerak dibidang wedding organizer. Enjoy rasanya ku bekerja disini. Setiap harinya aku bisa melihat wajah sepasang kekasih yang sangat bahagia ketika berbicara mengenai persiapan pernikahan mereka. Senang bisa membantu mereka mempersiapkan proses pengukuhan kisah cinta yang bermuara pada sebuah acara sakral pernikahan. Suatu waktu ada sepasang kekasih klien diperusahaanku yang menginginkan tema pernikahan klasik dengan desain interior gedung yang juga klasik, dilengkapi beberapa lukisan juga sebagai hiasan. Kebetulan mereka menginginkan sebuah lukisan tentang mereka juga dipajang ketika pernikahan. Mereka telah memesan lukisan tersebut pada seorang seniman terkenal di kota ini. untuk melengkapi beberapa lukisan yang lain, mereka menyarankan agar kami juga memesannya pada sang pelukis.
Aku mendapat tugas untuk mengunjungi galeri lukisan miliki pelukis terkenal itu. Sebuah ruangan yang didesain sangat sederhana, namun tetap indah dipandang mata. Kesan klasik kuno sangat kuat dalam ruang galeri tersebut. Aku menunggu sang pemilik galeri, namun penjaga galeri mempersilahkan aku untuk menunggu. Daripada bosan menunggu, akupun menjelajahi ruangan itu untuk melihat lukisan-lukisan indah karya sang pelukis terkenal itu. Berbagai lukisan yang dipajang sangatlah indah dengan kesan abstrak yang tak mudah dipahami. mayoritas lukisan disana berkesan abstrak dan naturalis. Namun ada sebuah lukisan yang sangat menarik bagiku. Ku coba mendekat dan melihat lukisan itu. Lukisan seroang wanita dengan potongan rambut sebahu yang tergerai. senyum manis terhias diwajahnya dan bola matanya tampak berbinar memancarkan aura kegembiraan. Aku serasa berkaca melihat lukisan itu. Lukisan itu benar-benar mirip denganku. Jantungku mulai berdebar melihat lukisan itu. Ku coba menelusuri siapa pelukisnya. Dalam lukisan itu tertera “pelangi dalam hidupku: 01-12-2014 (YZ)”. Hanya tertera inisial dalam lukisan itu. Melihat inisial itu aku semakin ingin mengetahui siapa pelukisnya.
Tiba-tiba dari belakang, muncul seorang pria menegurku, “selamat pagi mbak..”
akupun menoleh, “iya..selamat pagi..”, aku yakin diaalah pemilik geleri ini.
Pria itu sekilas menatapku sangat lama dan agak terkejut. Entah apa yang dipikirkannya sampai dia begitu. kemudian dia tersadar dari lamunannya dan bertanya “mbak yang mau pesan lukisan dari Wedding Organizer itu?”. “eh.. iya.. anda pemilik galeri ini?”, aku bertanya balik.
“bukan mbak.,ini milik sahabat saya, tapi kebetulan saya menggantikan sahabat saya untuk mengurus geleri ini. maaf sudah membuat anda menunggu. Mari kita berbicara disana saja”. jelasnya panjang lebar sambi mengajak saya menuju ruangannya.
“ooh.. iya tidak apa-apa kok..”, sayapun mengikutinya, tapi rasa penasaran akan lukisan tadi membuatku menghentikan langkah dan memberanikan diri untuk bertanya perihal lukisan itu. “eh..pak.. maaf sebelumnya. Saya mau tanya, siapa pelukis lukisan ini?”, tanyaku sambil menunjuk lukisan yang mirip sekali denganku.
Pria itupun terdiam dan agak terkejut dengan pertanyaanku.
Setelah agak lama terdiam, akhirnya pria itu menjawab pertanyaanku. “yang melukis pemilik galeri ini, sahabat saya”.
“siapa pelukis itu? boleh saya tahu namanya? kenapa lukisan itu benar-benar mirip dengan saya?”, tanyaku penuh selidik. lama pria itu tak menjawab pertanyaanku itu. hingga akupun melanjutkan berkata. “ohh..maaf sebelumnya. tapi saya ingin benar-benar tau siapa pelukis itu. apa orang itu ada hubungannya dengan masa lalu saya..”

Tiba-tiba pria itu menatapku sekilas dan sedikit ragu mulai berbicara. “Lukisan ini dibuat oleh almarhum sahabat saya. Dia sangat mencintai wanita yang ada dalam lukisan itu. Wanita itu bagai pelangi di hidupnya. Sekitar tujuh tahun lalu dia meninggalkan wanita itu karena merantau ke kota ini. tak pernah sekalipun dia mengucapkan perpisahan pada wanita itu. usahanya untuk bertemu wanita itu tak terlaksanan karena sang wanita yang ditunggunya tak kunjung datang. Dia merasa kecewa, tapi rasa cinta mengalahkan rasa kecewanya. Sampai saat menghembuskan nafas terakhirnyapun saya yakin dia tetap mencintai wanita itu dan berharap bertemu dengan sang wanita. Ada suatu hal yang hendak disampaikannya jika dia bertemu dengan wanita itu, dia ingin sekali mengatakan bahwa, “dia sangat mencintainya. sejak pertama dia melihatnya di sebuah taman. ya.. dia sangat mencintai anda, nona Risma. sahabat saya Yozha dia meninggal seminggu lalu karena kecelakaan”.
Darahku terkesiap, tubuhku lemas seketika, ku tak mampu berkata lagi hanya air mata yang mengalir deras di pipiku. mendengar semua cerita pria itu dadaku sesak seketika, kepalaku mulai pening. Yozha, Pria yang tujuh tahun lalu ku tunggu di taman kehadirannya. Pria yang membuatku belajar untuk bangkit selama tujuh tahun ini. Takdir tak mengizinkan aku bertemu dengannya di dunia. Dia terkubur bersama rasa cintanya untukku, sementara aku hidup dengan kenangan dan rasa cinta yang ternyata juga disambut olehnya selama ini.
***********************
Ku mengunjungimu hari ini Yozha. Ku curahkan segala rasaku diatas pusaramu. Ku harap kau tau itu. Cinta yang bersemayam dihatimu selama ini tak sia-sia, karena ku juga merasakannya. Namun ku minta maaf karena pernah sekuat tenaga berusaha menyingkirkan kenangan tentangmu. Seolah nasib mempermainkan kita dalam sebuah penantian dan harapan bahwa suatu saat kita kan bertemu. Tuhan berkata lain, dan kita dipertemukan dengan cara yang berbeda. Ragamu boleh mati dan terkubur bersama seluruh kenangan dan cinta untukku. namun itu semua akan selalu hidup dihatiku. Kau seperti pelangi bagiku yang selalu ada tanpa harus menunggu daraian hujan yang menggempur. Kau tetap pelangiku dan aku pelangimu Yozha..

Image

 

by: DinDyna

Menunggu Seribu Embun

Daun gugur menampakkan warna emasnya.

Angin membawanya terbang menari,

Jatuh perlahan tanpa rasa sakit

Tak ada kilauan embun terpancar darinya

Ranting seolah bergumam menceritakan rahasia embun

 

Embun melekat didaun musim semi

Menggoreskan sebuah rahasia hati

Rahasia akan kecintaannya pada daun

Tetesan-tetesannya setia menemai daun melewati kabut pagi

Daun mengabaikan embun., embun teramat menggangunya

Setiap tetesan embun membangunkan tidur paginya

 

Seribu musim semi berlalu

Musim gugurpun menyapa

Daun menua tanpa kehadiran embun

Tak ada lagi teman tuk melewati dinginnya pagi ini

Daun menghabiskan seluruh masanya bersama angin

Sang angin hanya teman sesaat tanpa kesetiaan

Angin pula yang membuatnya jatuh tanpa rasa sakit.,

dan tak bisa bangkit..

Sampai habis masanya menunggu seribu embun datang

tak bersua dan tak terucap rasa cintanya pada sang embun

 

Image

 

By DinDyNa

Kenangan lalu untukmu..

Jatuh Cinta Tanpa Patah Hati

“kalian pernah jatuh cinta? patah hati dan kecewa?”

Rasanya semua orang pasti pernah mengalami fase itu. Terkadang fase tersebut memiliki pengaruh yang sangat dahsyat bagi kehidupan seseorang.Sebut saja ketika seseorang mengalami “jatuh cinta”. Dalam sebuah lagu era 90an menceritakan bahwa jatuh cinta itu berjuta rasanya, berjuta indahnya. Semuanya tampak menyenangkan dan pikiran kita dipenuhi oleh romansa bayang kerinduan orang yang kita cinta. sepanjang hari kita lewati dengan ceria ketika mengingat orang yang kita cintai itu. Bahkan kita sering berkhayal dan tersenyum sendiri  dalam keheningan ataupun keramaian. Sungguh itu menjadi hal yang sangat menggelikan jika kita lihat. “Bahagia” serasa kita rengkuh hanya berdua dengan orang yang kita cintai. Semuanya tampak sempurna, indah, berwarna tanpa ada cacat sedikitpun. Itulah rasanya jatuh cinta.

Lalu, bagaimana dengan rasanya patah hati?

Jika mendengar kata “patah hati”, bawaannya penuh dengan kesuraman. Tak ada lagi senandung keceriaan, namun kemuraman hati dalam menghadapi hari. Semuanya tampak gelap tak berwarna. Tak ada lagi senyum tersembur dari wajah, yang ada hanya mata sendu oleh tangis. Rasa bahagia berganti kecewa teramat dalam atas orang yang pernah kita cintai.

Jatuh Cinta dan Patah Hati merupakan dua hal yang bertolak belakang. Akan tetapi, keduanya menjadi satu paket dalam kehidupan manusia. Ada rasa manis pasti sebelumnya kita mengetahui rasanya pahit, begitu pula sebaliknya. Saat ini, bisa saja kita jatuh cinta kepada seseorang, namun esok atau bahkan beberapa menit kemudian kita akan mengalami yang namanya patah hati. 

“Cinta” bagi manusia menjadi sebuah misteri dan hal yang tak tentu. Sebuah rasa yang takkan abadi apabila tanpa restu Tuhan.

kalian tau.? sebenarnya ada sebuah “cinta” yang sangat abadi dan tanpa embel-embel “patah hati“.

jawabannya adalah Cinta kita pada sang Pencipta. Cinta yang sangat murni dan hakiki dibanding cinta lain dimuka bumi ini. Jika kita mencintai Allah, kita takkan pernah mengalami yang namanya patah hati. Pada hakikatnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Cinta yang takkan membuat ummatnya bersedih hati. Cinta Allah pada kita sangatlah tulus meskipun terkadang kita sebagai manusia terperosok dalam jurang dosa dan melupakan-Nya. Allah selalu ada untuk kita dalam situasi-kondisi apapun bahkan saat kita telah jauh dari jalan-Nya. Coba bayangkan sejenak, Ketika kita sebagai manusia berlumur dosa, melupakan-Nya, jauh dari-Nya bahkan tak cinta kepada-Nya, Allah tetap merangkul kita. Pada manusia yang seperti itu saja Allah tetap merangkul dan senantiasa memberikan cinta. Dengan kata lain Allah tak pernah membuat kita sedih bahkan patah hati.

Lalu.., bagaimana dengan manusia yang mencintai Allah sepenuh hati? saya yakin manusia yang mencintai Allah sepenuh hati, hidupnya akan penuh dengan limpahan karunia dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Percayalah..

Coba Renungkanlah kawan..

Mari kita berlomba-lomba cinta kepada Allah., jatuh cinta tanpa takut untuk patah hati..

 

 

 

thanks to:

134r, my Inspiration